logo

ugm-logo

Penanggulangan Bencana Gempa Aceh

Penanggulangan Bencana Gempa Aceh

asap

Bumi Serambi Mekkah diguncang gempa. Gempa yang terjadi pada Selasa (2/6) pukul 14.37 waktu setempat menimbulkan banyak korban jiwa, luka-luka, kerusakan rumah dan fasilitas umum. Gempa Aceh kali ini mengingatkan kita pada Gempa Jogja tahun 2010. Karakteristiknya pun sama berasal dari patahan dan terjadi pada pusat dangkal (7-10 Km dibawah permukaan bumi). Gempa seperti ini menyebabkan kerusakan parah terutama jika terjadi di wilayah dengan topografi tanah lunak.

Masa tanggap darurat bencana diputuskan hingga 14 hari pascagempa. Hingga saat ini, sejumlah korban masih berada di posko pengungsian. Kurangnya logistik berupa makanan, sandang, air besih, dan bantuan lainnya menjadi keluhan pengungsi. Keluhan ini muncul karena sistem penyaluran distribusi pada saaat bencana kerap menghadapi hambatan, baik karena akses yang sulit di jangkau atau pun sistem penilaian kebutuhan korban yang kurang baik. Dilaporkan juga, banyak korban gempa Aceh yang tidak berkumpul di posko pengungsian melainkan mendirikan tenda di sekitar bekas reruntuhan rumah mereka. Kondisi seperti ini dan manajemen logistik yang kurang baik menjadikan penyaluran distribusi semakin sulit. Berikut sebuah studi mengenai efektivitas sebuah model, pemetaan, dan perhitungan distribusi logistik menggunakan lima pendekatan : berdasarkan kasus gempa yang terjadi di Taiwan. Selengkapnya An Emergency Logistic Distribution Approach for Quick Response to Urgent Relief Demand in Disaster klik-disini.  Mengenai pemanfaatan alokasi sumberdaya manusia pascagempa dapat dilihat pada paper berikut Optimized Resource Allocation for Emergency Response after Earthquake Disaster klik-disini

Keadaan “kacau”/chaos seperti ini kerap terjadi pada saat bencana. Seluruh pihak ingin membantu korban bencana. Besar kemungkinan hal ini justru menimbulkan kekacauan baru. Meskipun BNPB/BPBD telah diberikan wewenang untuk menjadi komandan tanggap darurat bencana nasional atau daerah, tetapi masalah koordinasi dan kesalahan manajemen masih saja terjadi. Berikut, paper yang mengungkap tentang pengembangan kebijakan manajemen bencana gempa bumi di Gujarat India Policy Development in Disaster Preparedness and Management: Lesson Learned from the January 2001 Earthquake in Gujarat, India klik-disini.  Juga, sebuah buku yang menyatukan pengalaman tiga negara dalam melakukan manajemen bencana gempa bumi, selengkapnya di Disaster Management and Civil Society: Earthquake Relief in Japan, Turkey, and India klik-disini

Pengantar Minggu ini 2 - 8 Juli 2013

asap

Topik minggu ini mengenai bencana kabut asap yang melanda Sumatera, Kepulauan Riau. Dampak kabut asap bahkan merambah ke negara tetangga, Singapura. Mengenai hal ini, Presiden langsung menunjuk kepala BNPB untuk melakukan penanganan dengan tiga strategi yang disepakati, yakni pemadaman kebakaran hutan, water booming, dan tindakan hukum. Kebakaran hutan sebagai pemicu bencana asap memberikan dampak buruk bagi kesehatan manusia seperti yang dilansir analisis review Human Health Impact of Forest Fires

klik-disini

Pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam pada Detik, menyatakan bahwa terjadi peningkatan jumlah rujukan pasien gangguan pernapasan dari beberapa puskesmas ke rumah sakit. Begitu, juga pemerintah Singapura mengeluhkan tentang penurunan kualitas udara dan jarak pandang di kotanya yang jauh berada dari ambang normal. Berikut link publikasi terkait penelitian tentang dampak kebakaran hutan terhadap kesehatan pernapasan di Indonesia. Untuk melihat abstrak silahkan klik-disinidan Singapura klik-disini

Minggu ini, web Bencana Kesehatan juga mengangkat Bacaan tentang Public Health Emergencies klik-disini. E-book ini membahas mengenai kesehatan masyarakat terutama kesehatan reproduksi pada masa gawat darurat atau krisis dan pascakrisis. Kesehatan reproduksi menjadi penyebab utama kematian wanita pada masa ini, dimana kebutuhan meningkat sedangkan akses menjadi semakin terbatas serta sisi ini sering terlupakan dalam penanganan tanggapdarurat.