logo

ugm-logo

Peningkatan 19 Status Gunung Api, Sinyal Siaga Bagi semua Daerah

Peningkatan 19 Status Gunung Api, Sinyal Siaga Bagi semua Daerah

bencanaMinggu lalu kita telah membahas mengenai kerugian bencana dari sisi ekonomi. Tidak dapat dielakkan lagi bahwa dampak bencana alam dan perubahan iklim berdampak pada  semua sektor. Maka, kita perlu melakukan perencanaan dan penanggulangan bersama. Awal minggu ini kita dikejutkan dengan berita terkait meningkatnya 19 status gunung api di beberapa tempat, padahal bencana hidrometeorologi masih terus terjadi. Tiga gunung api diantaranya malah berstatus siaga dan menimbulkan korban seperti Gunung Sinabung.

Di lain sisi, kegagapan penanggulangan bencana ternyata tidak hanya dirasakan oleh masyarakat melainkan juga terlihat pada pemerintah. Contohnya seperti penanganan relawan yang menjadi korban di Gunung Sinabung sampai terlambatnya pencairan dana bencana di Kabupaten Kudus. Keterlambatan ini disebabkan oleh pemerintah lebih terfokus pada penanganan korban sehingga lupa untuk menerbitkan surat keputusan tanggap darurat. Jika pemerintah siap sebelumnya, tentu hal seperti ini tidak akan terjadi. Baca selengkapnya klik-disini

Nusantara Rata dengan Bencana: Apa saja kerugiannya? Berapa Biayanya?

Nusantara Rata dengan Bencana: Apa saja kerugiannya? Berapa Biayanya?

Menarik menyimak pendapat budayawan mengenai banjir Jakarta pada salah satu stasiun televisi pada Senin (27/01/14), “Nama-nama daerah di Jakarta sebenarnya menunjukkan gambaran alam sekitarnya, seperti Rawamangun dan lainnya. Jadi sebenarnya nenek moyang sudah mengajarkan kepada kita untuk hidup selaras dengan alam bukan menaklukkan alam. Nah, kegiatan kita selama ini kan menaklukan alam dengan pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Akibatnya ya alam balik menyerang kita dengan bencana.” kurang lebih begitu kutipannya.

Alam Indonesia memang mengalami pengrusakan, ditambah dengan dampak posisi negara kita yang rentan dengan perubahan iklim dunia, maka jadilah bencana terjadi di mana-mana di wilayah Indonesia sepanjang tahun. Namun, upaya adaptasi, mitigasi, dan kesiapsiagaan bancana minim kita rasakan. Seperti kejadian gempa Kebumen (25/01/14), masyarakat masih saja kalut dan keluar rumah atau tempat umum berdesak-desakan.

Dilihat dari dana upaya adaptasi, mitigasi, dan kesiapsiagaan bencana pun kurang. Anggaran penanggulangan bencana setiap tahunnya berkisar 1 triliun rupiah. Coba bandingkan dengan taksiran kerugian beberapa bencana nasional: Tsunami Aceh 39 Triliun, gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah 27 Triliun, banjir Jakarta 4,8 Triliun, gempa Padang 21,6 Triliun, dan Erupsi Merapi 3,65 Triliun. Kita bandingkan lagi dengan biaya tanggap darurat bencana yang terjadi bulan ini: Manado 5 Milyar, Sinabung untuk pemulihan pertanian sebesar 63,5 Milyar, DKI Jakarta untuk penanganan banjir 3,5 Triliun, dan bencana banjir Pantura 800 Juta rupiah (sumber kompas, 25/01/14).

Untuk itulah pada Kongres Perdana Indonesia Health Economics Association (InaHEA) 24-25 januari 2014, Divisi Bencana PKMK memberikan presentasi paper di sesi panel hari kedua pukul 15.00 -17.00 WIB. Presentasi ini menyajikan tentang pengukuran biaya kesiapsiagaan bencana melalui kegiatan simulasi. Paper ini bertujuan memberikan rekomendasi biaya kesiapsiagaan bencana bagi daerah dalam penanggulangan bencana dan keutamaan simulasi yang dapat memperbaiki kekacauan koordinasi penanggulangan bencana. Pembaca dapat menyimak reportase kegiatan ini pada link berikut klik di sini.

Minggu ini beberapa artikel menyajikan beberapa cara mengukur bencana dari sisi ekonomi seperti:

Adaptation Investment: A Resource Allocation Framework klik-disini

Assesing the Macroeconomic Impacts of natural Disaster: Are There Any?  klik-disini

More Articles ...