logo

ugm-logo

Pengantar Minggu ini 16 - 22 Juli 2013


 Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan informasi terbaru setiap minggunya!

Fase Pemulihan Gempa Aceh: Pembelajaran, Tantangan, dan Kesempatan

recovery-gempa

Bencana yang terjadi tidak hanya mempengaruhi kesehatan secara langsung melalui kecelakaan dan trauma tetapi juga berdampak pada infrastruktur sosial dan ekonomi. Kerusakan fasilitas umum, perumahan, sekolah, dan fasilitas kesehatan akibat bencana menghambat akses dan menganggu sistem kesehatan masyarakat. Seperti, dilaporkan bahwa bencana gempa Aceh yang terjadi pekan lalu (2/6) telah mengakibatkan kerusakan sekitar 16.019 rumah dan lebih dari 500 sekolah baik di Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Begitu juga dengan dampak sosial ekonomi dimana tercatat 12.000 lebih warga Aceh akan menjadi pengangguran akibat bencana. Sementara, jumlah kejadian dan korban bencana di Indonesia selama satu semester 2013 dapat disimak pada Buletin Bencana Juni yang diterbitkan oleh BNPB berikut, klik-disini.

Saat ini, Presiden RI menginstruksikan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan korban pasca gempa. Namun, fase pemulihan pasca gempa tidaklah mudah, teknik pembangunan dan tata kelola menjadi hal penting untuk dipertimbangkan selain pendanaan. Hal yang terpenting yaitu bagaimana gempa yang pernah terjadi dapat menjadi pembelajaran dan pengalaman untuk menghadapai bencana serupa di masa yang akan datang. Sebuah paper membahas tentang inti dari fase pemulihan adalah kembali pada fase persiapan dan adaptasi terhadap bencana. Bagaimana komponen-komponen dalam masyarakat dapat terintegrasi membentuk suatu model adaptasi bencana. Paper yang berjudul Community Resilience: Integrating Hazard Management and Community Engagement ini mencoba mengungkap hasil penelitian adaptasi bencana volkanik dan mitigasi gempa di New Zealand dan Hawaii klik-disini

Pemulihan juga difokuskan pada pembangunan gedung sekolah yang rusak akibat gempa agar tidak mengganggu aktivitas anak belajar. Gempa Aceh pekan lalu terjadi pada siang hari dimana anak-anak sudah tidak berada di sekolah lagi, hal ini disyukuri banyak pihak. Jika tidak, tentunya akan banyak anak yang menjadi korban runtuhan bangunan sekolah. Pemulihan bangunan sekolah juga diiringi dengan pemulihan trauma anak terhadap bencana agar kesehatan mental anak kembali pulih. Paper berikut ini membahas penelitian intervensi psikososial terhadap anak-anak sekolah pasca bencana. Hasilnya intervensi psikososial berbasis sekolah komunitas mampu mengurangi trauma anak terhadap bencana, selengkapnya Psycosocial Inetvention for Postdisaster Trauma Symptoms in Elementary School Children klik-disini. Juga, sebuah buku yang bisa menjadi referensi mengenai kesehatan mental pada masa tanggap darurat bencana dan pemulihan, selengkapnya Disaster Response and recovery a Handbook for Mental Health Professional klik-disini

Penanggulangan Bencana Gempa Aceh

Penanggulangan Bencana Gempa Aceh

asap

Bumi Serambi Mekkah diguncang gempa. Gempa yang terjadi pada Selasa (2/6) pukul 14.37 waktu setempat menimbulkan banyak korban jiwa, luka-luka, kerusakan rumah dan fasilitas umum. Gempa Aceh kali ini mengingatkan kita pada Gempa Jogja tahun 2010. Karakteristiknya pun sama berasal dari patahan dan terjadi pada pusat dangkal (7-10 Km dibawah permukaan bumi). Gempa seperti ini menyebabkan kerusakan parah terutama jika terjadi di wilayah dengan topografi tanah lunak.

Masa tanggap darurat bencana diputuskan hingga 14 hari pascagempa. Hingga saat ini, sejumlah korban masih berada di posko pengungsian. Kurangnya logistik berupa makanan, sandang, air besih, dan bantuan lainnya menjadi keluhan pengungsi. Keluhan ini muncul karena sistem penyaluran distribusi pada saaat bencana kerap menghadapi hambatan, baik karena akses yang sulit di jangkau atau pun sistem penilaian kebutuhan korban yang kurang baik. Dilaporkan juga, banyak korban gempa Aceh yang tidak berkumpul di posko pengungsian melainkan mendirikan tenda di sekitar bekas reruntuhan rumah mereka. Kondisi seperti ini dan manajemen logistik yang kurang baik menjadikan penyaluran distribusi semakin sulit. Berikut sebuah studi mengenai efektivitas sebuah model, pemetaan, dan perhitungan distribusi logistik menggunakan lima pendekatan : berdasarkan kasus gempa yang terjadi di Taiwan. Selengkapnya An Emergency Logistic Distribution Approach for Quick Response to Urgent Relief Demand in Disaster klik-disini.  Mengenai pemanfaatan alokasi sumberdaya manusia pascagempa dapat dilihat pada paper berikut Optimized Resource Allocation for Emergency Response after Earthquake Disaster klik-disini

Keadaan “kacau”/chaos seperti ini kerap terjadi pada saat bencana. Seluruh pihak ingin membantu korban bencana. Besar kemungkinan hal ini justru menimbulkan kekacauan baru. Meskipun BNPB/BPBD telah diberikan wewenang untuk menjadi komandan tanggap darurat bencana nasional atau daerah, tetapi masalah koordinasi dan kesalahan manajemen masih saja terjadi. Berikut, paper yang mengungkap tentang pengembangan kebijakan manajemen bencana gempa bumi di Gujarat India Policy Development in Disaster Preparedness and Management: Lesson Learned from the January 2001 Earthquake in Gujarat, India klik-disini.  Juga, sebuah buku yang menyatukan pengalaman tiga negara dalam melakukan manajemen bencana gempa bumi, selengkapnya di Disaster Management and Civil Society: Earthquake Relief in Japan, Turkey, and India klik-disini