logo

ugm-logo

Agenda Mendatang

  • agenda2018
  • hdp

Kaleidoskop Kejadian Bencana di Indonesia Tahun 2017

Ditulis oleh: Dzurriyatun Thoyyibah ZA., S.Kep, Ns.

29 kaleidoskop

Bencana merupakan suatu kejadian kegawatdaruratan yang menyebabkan kematian, cedera, kesakitan maupun kerusakan property dan tidak dapat diatasi secara efektif dengan prosedur atau sumber daya yang ada. Sumber daya yang dimaksud adalah sumber daya lokal, suatu kejadian tidak didefinisikan sebagai bencana apabila dapat diatasi oleh kemampuan atau sumber daya lokal. Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi bencana yang besar. Indonesia menduduki peringkat 5 besar di Asia untuk kejadian bencana. Pada tahun 2017 terdapat beragam kejadian alam maupun non alam yang memberikan dampak kepada masyarakat yang berada di daerah tersebut.

Terdapat beberapa kejadian yang lebih disoroti karena dampaknya bagi masyarakat. Kejadian tersebut diantaranya adalah Gempa Pidie Jaya pada 7 Desember 2016 hingga kondisi terkini gunung Agung. Pada tanggal 15 Agustus 2017 lalu, Badan Penaggulangan Bencana Aceh membentuk Tim Sekretariat Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi pasca gempa bumi pada 7 Desember 2016 lalu. Bantuan dari pemerintah pusat sebesar 626 miliyar disalurkan untuk mempercepat tercapainya tujuan ini.

Kondisi Gunung Agung juga menjadi salah satu potret potensi letusan gunung berapi di Indonesia. Kesiapsiagaan pemerintah yang dibantu oleh stakeholder serta masyarakat setempat menjadikan proses pencegahan korban menjadi lebih mudah. Kejadian ini menjadi topik utama selama beberapa minggu terakhir. Hingga akhirnya erupsi pertama pada 25 November 2017 pukul 17:30 WITA terjadi dengan ketinggian 1.500 meter dari puncak kawah. BPBD NTB juga telah bergerak untuk menganalisis dampak hujan abu tersebut karena letaknya dengan Bali yang berdekatan. Pemerintah Lombok juga akan segera mendistribusikan masker kepada masyarakatnya untuk mencegah dampaknya.

Kejadian lain yang tidak dapat dihindari di berbagai wilayah di Indonesia adalah kejadian Banjir. Kejadian ini rutin dialami pada musim penghujan. Contohnya pada Maret 2017, korban dengan luka ringan/rawat jalan terbesar disebabkan oleh kejadian banjir. DKI Jakarta menduduki posisi pertama dengan jumlah proporsi korban luka ringan mencapai 59.5%. Akan tetapi, KLB-keracunan menyebabkan jumlah korban luka berat terbesar pada bulan ini dengan angka 91 orang.

Berdasarkan data yang diperoleh melalui Pusat Krisis Kesehatan Kementrian Kesehatan, jumah korban dengan luka berat/rawat inap terbesar sepanjang tahun diakibatkan oleh kejadian luar biasa (KLB)-keracunan. Jumlah korbannya beragam sesuai dengan tingkat keparahan kejadian di setiap daerah. Kejadian non alam ini menyebabkan dampak yang serius, sehingga masyarakat harus berhati-hati dalam mengonsumsi suatu makanan.

Kejadian lainnya seperti kebakaran hutan dan lahan, banjir bandang, puting beliung hingga tanah longsor juga menunjukkan ragam jenis kejadian di Indonesia. Pada September 2017 lalu tercatat 5 Provinsi di Indonesia menetapkan status waspada kebakaran hutan dan lahan yaitu Provinsi Riau, Jambi, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan. Sedangkan pada bulan November ini, terjadi puting beliung yang menyebabkan 754 rumah rusak dan 36 orang luka ringan.

Sebagian besar kejadian diatas merupakan kejadian berulang. Faktor perubahan lingkungan dan peran serta manusia dapat menjelaskan besarnya dampak kejadian tersebut. Tahun 2016 lalu, disebut sebagai tahun terpanas karena perubahan iklim yang ekstrim di dunia. Robert Glasser dalam pidatonya menyebutkan bahwa perubahan iklim bukan merupakan satu-satunya faktor yang menyebabkan risiko terjadinya bencana. Kurangnya pemahaman bahwa faktor risiko lain seperti urbanisasi yang cepat, kemiskinan, degradasi lingkungan memperburuk dampak bencana. Masyarakat dunia saat ini harus memahami berbagai faktor disekitarnya untuk memahami besarnya dampak bencana yang ditimbulkan bagi dirinya maupun sekitarnya. Hal tersebut penting untuk dipahami untuk menumbuhkan kesadaran dalam mencegah terjadinya bencana melalui disaster risk reduction.

Referensi :

BNPB. (2017). Berita Terkini. Diakses pada tanggal 27 November 2017 pada https://www.bnpb.go.id.

Pusat Krisis Kesehatan Kementrian Kesehatan. (2017). Pantauan Kejadian Bencana/Krisis Kesehatan. Diakses pada 27 November 2017 pada http://penanggulangankrisis.kemkes.go.id/.

United Nations Office for Disaster Risk Reduction - Regional Office for Europe (UNISDR EUR). (2017). Opening speech by Robert Glasser to the European Forum for Disaster Risk Reduction, Istanbul, 27 March 2017. Diakses pada 27 November 2017 pada https://www.unisdr.org/archive/52502