logo

ugm-logo

Reportase Kegiatan Pelatihan Penyusunan Hospital Disaster Plan RSUD Undata Palu

Reportase Kegiatan

Pelatihan Penyusunan Hospital Disaster Plan RSUD Undata Palu

Palu, 26-27 April 2019

Disusun oleh :
Pokja Bencana Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK - KMK) Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan
KAGAMA Dok. FK - KMK UGM


foto bareng

RSUD Undata Palu menerima banyak pasien korban bencana Palu dan melebihi kapasitas sumber daya rumah sakit. Beberapa tenaga kesehatan RSUD Undata Palu juga menjadi korban gempa Palu. Memasuki masa pemulihan pasca bencana Sulteng, FK - KMK UGM dan Kagama Dok akan melakukan perbantuan dan pendampingan bagi RSUD Undata dalam penyusunan dokumen Hospital Disaster Plan (HDP) sebagai kesiapsiagaan menghadapi bencana.

PELAKSANAAN

Kegiatan berlangsung selama dua hari pada 26 - 27 April di Ruang Aula RSUD Undata Palu. Peserta kegiatan sebanyak 80 orang yang berasal dari perwakilan RSUD Undata, RS Wirabuana, RSU Sis Al-Jufri, RSUD Tora Bello, RS Bhayangkara, PMI Yankes Provinsi, RSU Madani,Caritas Germany, RS Samaritan, dan RS Budi Agung.

Hari 1

Pembukaan oleh Direktur Rumah Sakit Undata

Palu merupakan salah satu wilayah yang rentan dengan titik gempa. Banyak masyarakat yang menganggap bahwa gempa Palu yang terjadi September lalu melebihi 7,4 SR. Artinya masalah yang dihadapi oleh Palu berbeda dengan wilayah lain karena adanya likuifaksi. Hal tersebut yang perlu diperhatikan dalam penyusunan HDP ini, jadi nanti komponen - komponen HDP yang disusun harus benar - benar sedetail mungkin dengan skenario berbagai bencana. Kita jangan hanya fokus kepada bencana internal saja, karena lokasi rumah sakit juga dekat dengan pantai jadi kita harus memikirkan semua kemungkinan - kemungkinan yang akan terjadi. Kita perbaiki semuanya dari tenaga kesehatan, jalur evakuasi, dokumen terkait dan bangunan rumah sakit juga.

h1 1

Dok. PKMK FK - KMK UGM. “Pembukaan oleh Direktur RSUD Undata”

Selanjutnya penyampaian Materi 1. Overview HDP oleh dr. Handoyo Pramusinto, SpB, materi diawali dengan penjelasan tentang simulasi bencana dalam skala besar. Jarak RS Undata dengan pantai < 1 km. Kajian terakhir di Lampung, puskesmas di Lampung adalah puskesmas dengan view yang indah karena sangat dekat sekali dengan pantai. Kebijakannya adalah puskesmas harus direlokasi minimal > 1,5 km dari pantai. Dalam HDP akan disusun perencanaan menghadapi situasi bencana, risiko apa yang bisa diturunkan. Sekarang fokus penanggulangan bencana adalah pengurangan risiko bencana yaitu melalui penyusunan perencanaan penanggulangan bencana.

h1 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Penyampaian Materi HDP”

Materi 2. Komponen HDP dalam akreditasi SNARS disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes. Standar manajemen rumah sakit terkait kebencanaan ada dalam manajemen fasilitas dan keselamatan (MFK). Butir pertama elemen Penilaian MFK 6 rumah sakit mementukan jenis yang kemungkinan terjadi dan konsekuensi bahaya, ancaman dan kejadian. Butir kedua, rumah sakit menentukan integras struktural di lingkungan pelayanan pasien yang ada dan bagaimana bila terjadi bencana. Butir ketiga menentukan peran rumah sakit dalam kejadian bencana, rumah sakit menyiapkan rencana keseluruhan terhadap bencana misalnya all hazard dan SOP. Butir keempat rumah sakit menentukan stra tegi komunikasi. Butir kelima rumah sakit mengelola sumber daya termasuk sumber -sumber alternatif. Butir keenam rumah sakit mengelola kegiatan klinis selama kejadian termasuk tempat pelayanan alternatif seperti ruang pos komando, fasilitas triase, ruang media, dan jalur evakuasi. Butir ketujuh mengidentifikasi dan penetapan peran dan tanggung jawab staf selama kejadian. Butir kedelapan proses mengelola keadaan darurat ketika terjadi konflik antara tanggung jawab staf dan tanggung jawab RS untuk tetap menyediakan pelayanan pasien.

h1 3

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Penyampai Materi Komponen HDP dalam Akreditasi SNARS”

Materi 3. Pengorganisasian Hospital Disaster Plan disampaikan oleh Sutono, SKep, M.Kep. Pemateri mengajak peserta untuk bercerita tentang kondisi pasien yang membludak dan melebihi kapasitas fasilitas ruangan. Kemudian dibandingkan dengan jumlah tenaga kesehatan dan peralatan kesehatan yang tersedia. Pengorganisasian dikembangkan berdasarkan karakteristik rumah sakit. Konsep pengorganisasian harus sederhana dan jelas artinya dapat dimobilisasi dalam waktu yang singkat. Incident command system dimulai dari komandan penanggulangan bencana, sekretariat, keselamatan & logistik, perencanaan, keuangan dan operasional. Struktur organisasi tersebut harus disusun dengan uraian tugas yang jelas. Misalnya komandan bencana bertugas untuk mengorganisasikan dan memimpin secara keseluruhan saat kejadian, memberikan arahan operasional dan jika dibutuhkan memimpin evakuasi. Bagian operasional bertugas menyusun dan mengarahkan semua aspek yang terkait dengan bagian operasional serta mengembalikan kondisi operasional jika kondisi sudah membaik.

h1 4

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Penyampaian Materi Pengorganisasian HDP”

Materi 4. Analisis Risiko, Hospital Safety Index oleh Madelina Ariani, SKM, MPH. Analisis resiko adalah langkah awal dalam kesiapsiagaan untuk melihat ancaman bencana yang bisa terjadi di daerah. Ancaman bencana ini tentu berbeda di setiap daerah. Banyak metode yang dilakukan untuk analisis risiko bencana, misalnya di Palu potensi bencana ada gempa, tsunami, likuifaksi, banjir, banjir bandang, longsor dan sebagainya. Kemudian melalui analisis ini akan ditentukan prioritas dalam penanggulangan bencana dan krisis kesehatan. Prioritas tersebut dapat dilihat dari dampak dan ancaman bencana.

h1 5

Dok. PKMK FK - KMK UGM “Penyampaian Materi Analisis Risiko, Hospital Safety Index

Sesi Diskusi :

  1. Bagaimana dengan kondisi bangunan rumah sakit, untuk menilai apakah bangunan rumah sakit tahan gempa. Siapa yang bertanggung jawab atas hal ini dan kepada siapa kami bekerja sama?
    • Rumah sakit harus bekerja sama dengan Dinas PU untuk menilai bangunan rumah sakit yang tahan gempa, untuk diberi label bangunan tahan gempa sampai berapa skala richter.
  2. Tenaga kesehatan yang terkena dampak bencana juga sebisa mungkin memberikan pertolongan bagi korban bencana. Dulu relawan yang banyak membantu kami adalah koas ahli bedah dan mahasiswa tim bencana.
    • Indonesia baru sadar bencana setelah tsunami Aceh 2007 dan UU tentang kebencanaan baru diterbitkan. MoU baru mulai dibentuk saat - saat ini di institusi pendidikan. Tim mahasiswa bisa juga menjadi relawan namun ada regulasi khusus sebagai SOP mereka di lapangan. Jika bencana yang terjadi skala besar maka akan dikategorikan regional dan bantuan yang datang akan lebih besar.
  3. Bagaimana membangun peran dinas terkait untuk memenuhi kebutuhan korban dan pengungsi ketika terjadi bencana.
    • Rumah sakit mempunyai incident command system (ICS), jadi ada staf yang bertugas untuk membangun koordinasi dengan dinas - dinas terkait, termasuk bekerjasama dengan BPBD. Konsepnya dalam ICS sudah terbangun komunikasi.
  4. Pengalaman yang terjadi sumber daya sangat terbatas terkhusus perawat, kami juga harus menangani pasien yang sudah ada di IGD dan banyak pasien datang dengan banyak alat sementara protab bencana kami belum mengetahui dengan baik. Apakah ada trik yang bisa kami lakukan untuk menjalani protab yang ada seperti Triase?
    • Kita harus menyiapkan dokumen penanganan bencana ini sejak awal, menyusun tugas dan peras perawat dalam satu protab. Protab tersebut yang akan menjadi acuan bagi perawat dalam bertuga. Jika chaos terjadi itu adalah hal yang biasa, chaos pasti terjadi pada awal bencana dan biasanya bisa selama 3 hari.
  5. Masalah diluar kesehatan misalnya kekurang bbm juga mengganggu berjalannya pelayanan kami dan juga pengurusan diri kami sendiri. Dalam struktur organisasi masalah ini dilaporkan kepada siapa?
    • Koordinasi dengan BPBD, di struktur organisasi ada fungsi humas. BPBD harus mengetahui apa logistk yang mendukung hal tersebut. Koordinasi sekarang sedang dibangun supaya semakin harmonis.