logo

ugm-logo

Jurnal Public Health Disaster Planning

17indonesia quake

Selamat berjumpa kembali pembaca website bencana kesehatan. Pada pertemuan EMT 19-21 Desember di Makassar, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara “laboratorium bencana”. Istilah laboratorium bencana tersebut juga sering kita simak di media massa. Pembaca website tentu sudah tidak asing apa yang dimaksud dengan “laboratorium bencana” tersebut, mengingat peta resiko rawan bencana menggambarkan banyak wilayah Indonesia rawan terkena bencana. Artinya kita masih memiliki banyak tugas untuk memperkuat manajemen resiko. Public Health Disaster Planning tentu menjadi bagian penting dalam manajemen tersebut.

Pengantar website minggu ini akan mengkaji tiga jurnal terkait Public Health Disaster Planning yang menarik untuk dibahas. Pada jurnal pertama, Koenig,. et al (2017) berjudul Public Health and Disasters: An Emerging Translational and Implementation Science, Not “Lessons Learned KLIK DISINI, menerangkanbahwa sama halnya disiplin kajian ilmiah lainnya, Public Health Disaster Planning akan terus berinovasi menciptakan pengetahuan yang baru dan transfer data berbasis bukti untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Penanganan kesehatan saat bencana bersifat massal dan sering sekali terjadi chaos di fasilitas - fasilitas kesehatan. Berdasarkan laporan - laporan pada pengantar website sebelumnya, kendala kendala yang sering terjadi saat penanganan kesehatan bencana adalah beberapa tim relawan tidak melapor ke dinas kesehatan provinsi, kesulitan mendapatkan air bersih di posko - posko pengungsian, sistem komunikasi dan akses transportasi terbatas serta beberapa fasilitas kesehatan lumpuh. Sehingga pada jurnal yang kedua dengan judul Facilitating partnerships with community-and faith-based organizations for disaster preparedness and response: results of a national survey of public health departments KLIK DISINI menekankan bahwa sikap positif yang diberikan oleh dinas kesehatan povinsi atau kabupaten/kota ketika berkolaborasi dengan berbagi lembaga dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk mengatasi beragam bahaya dan ancaman saat bencana terjadi (Adams,.et al, 2018). Selanjutnya jurnal ketiga dengan judul What should the African health workforce know about disasters? Proposed competencies for strengthening public health disaster risk management education in Africa KLIK DISINI menjelaskan beberapa core kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh sektor kesehatan yaitu manajemen resiko bencana, efektivitas operasional, kepemimpinan yang efektif, kesiapan dan pengurangan resiko, tanggap darurat dan pemulihan sistem kesehatan pasca bencana (Olu.,et al, 2018). Demikian pengantar website manajemen bencana minggu ini, sampai ketemu minggu depan.

Penyusun: Happy R Pangaribuan

 

 


 

Referensi

Adams, R. M., Prelip, M. L., Glik, D. C., Donatello, I., & Eisenman, D. P. (2018). Facilitating partnerships with community-and faith-based organizations for disaster preparedness and response: results of a national survey of public health departments. Disaster medicine and public health preparedness12(1), 57-66.

Koenig, K. L., Schultz, C. H., Runnerstrom, M. G., & Ogunseitan, O. A. (2017). Public Health and Disasters: An Emerging Translational and Implementation Science, Not “Lessons Learned”. Disaster medicine and public health preparedness11(5), 610-611.

Olu, O., Usman, A., Kalambay, K., Anyangwe, S., Voyi, K., Orach, C. G., ... & Woldetsadik, S. (2018). What should the African health workforce know about disasters? Proposed competencies for strengthening public health disaster risk management education in Africa. BMC medical education18(1), 60.