logo

ugm-logo

Reportase Laporan Hasil Keberangkatan dr. Hendro untuk Assessment Gempa Nepal

Lessons Learnt: Health Services Assessment 3 Months after Nepal’s Earthquake

Reportase oleh Madelina Ariani


dr. Hendro menceritakan keberangkatan beliau bersama dua orang lainnya yang berasal dari YEU atau YAKKUM Emergency Unit dan juga dari Pusbankes 118 DIY. Mereka bertiga bertujuan untuk melakukan assessment pasca tiga bulan gempa Nepal. Manarik dari cerita beliau adalah kedatangan mereka disana tidak sesuai dengan harapan.

Mereka datang ke Nepal dan langsung ingin mendaftarkan diri ke Badan Penanggulangan Bencana Nepal, semacam BNPB di Indonesia. Mereka juga mendatangi Kementerian Kesehatan Nepal. Namun tidak ada informasi yang mereka dapatkan, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bergabung dengan Health Emergency Operation Center yang barangkali pusat ini mirip dengan pos tanggap darurat dan kesehatan jika di Indonesia. Di sinilah akhirnya mereka dapat berdiskusi dengan kepalanya.

Ada beberapa hal yang akhirnya menjadi hasil dari proses perjalanan mereka:

  1. Bantuan untuk recovery dirasakan pemerintah dan NGO setempat sudah cukup

  2. Seluruh ajuan proposal recovery harus masuk dan terdaftar di pemerintah, dan hingga saat ini proposal yang diajukan sudah cukup banyak dan tinggal menunggu disahkan oleh pemerintah.

  3. BNPB setempat tidak berdiri sendiri seperti di Indonesia, melainkan dibawah kementerian sosial.

Hari –hari berikutnya mereka terus melakukan pemantauan lokasi, mereka mengunjungi tempat pengungsian, lokasi gempa, sekolah, rumah sakit, puskesmas, hingga puskesmas pembantu. Mereka juga mengcek pelaksanaan mental health dan layanan kesehatan. Semua memang terlihat sudah kembali seperti semula. Namun, pertanyaan mendasarnya, apakah itu sudah cukup? Tidakkah upaya recovery ditujukan untuk memperbaiki keadaan jauh lebih baik dari keadaan semula?

Diskusi pagi ini sangat menarik, terutama ketika peserta diskusi menanyakan mengenai kebutuhan apa yang harusnya mereka dapatkan? Apa yang bisa kita lakukan? Bagaimana sebenarnya menghadapi gap persepsi antara keinginan mau menolong dengan rasa cukup oleh pemerintah lokal?

Jika kita mengambil kasus Tsunami Aceh dan Gempa Padang misalnya, kita dari UGM berkeinginan membantu dan disambut dengan baik oleh pemerintah disana. Artinya ada persepsi yang sama. Dan ini kurang kita dapatkan pada kasus Nepal ini. Hal ini menarik didiskusikan agar penanganan bencana kedepannya bisa lebih baik.

Tentunya juga ada hal positif yang bisa diambil dari pengalaman ini, diantara ketegasan Nepal untuk menolak bantuan barang bekas masuk ke negaranya juga kemampuan pulih dari masyarakatnya sendiri. Jika kita bandingkan dengan kejadian bencana yang pernah terjadi di Indonesia maka kasus Nepal ini mirip dengan tsunami Aceh dan gempa Padang. Bedanya kita bisa lebih terbuka dengan bantuan dari luar sedangkan mereka lebih terkesan “pilih-pilih”. Saat ini dapat kita katakana sistem penanggulangan bencana yang kita buat lebih baik dari pada Nepal, tetapi butuh upaya kita untuk benar-benar menjalankan sistem yang sudah kita bangun.

Diskusi pagi ini berjalan sangat menarik selama satu setengah jam. Rekomendari akhir dari pembicara untuk pengembangan kelompok kerja bencana dalam upaya penanggulangan bencana kedepannya adalah pengembangan jejaring dengan NGO dalam dan luar negeri untuk upaya sharing dan kerjasama, serta bagaimana kelompok kerja bancana dapat menyebarluaskan success story dari upaya capacity building penanggulangan bencana di bidang kesehatan yang pernah dilakukan di Aceh, Padang, dan Yogyakarta.