logo2

ugm-logo

Participant’s Pages

Deskripsi

Tabletop exercise ini mengarahkan diskusi menuju gambaran "bagaimana surveilans sesudah kejadian bencana sebaiknya dilakukan?". Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi sesudah kejadian bencana memudahkan peningkatan kejadian penyakit. Surveilans merupakan salah satu cara utama untuk mendeteksi secara dini kejadian penyakit yang bisa menuju wabah, di samping kegunaan yang penting lainnya yaitu untuk tindakan untuk mengatasi kejadian penyakit, perencanaan, dan evaluasi.

Tujuan

Sesudah menjalankan exercise ini peserta akan dapat menjawab permasalahan surveilans pascabencana.

•  Penguasaan dasar penyusunan sistem surveilans pasca bencana sampai
     menghasilkan daftar penyakit untuk surveilans

  1. Memahami kondisi yang mendasari kepentingan surveilans penyakit sesudah kejadian bencana;
  2. Memahami bahwa pada saat bencana dapat terjadi penularan penyakit;
  3. Menguraikan jenis-jenis penyakit yang dapat meningkat kejadiannya, dan sebabnya, dalam kondisi sesudah bencana;
  4. Membuat daftar penyakit untuk surveilans pascabencana atas dasar kelompok penyebabnya;

•  Menyiapkan keperluan, kelengkapan, penyelenggaraan surveilans pasca
     bencana sampai mengakhirinya

  1. Membuat daftar keperluan bagi pelaksanaan surveilans pascabencana;
  2. Menentukan bila surveilans pascabencana sebaiknya diakhiri;

•  Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam masa pasca bencana dan analisis yang
     tepat bagi data surveilans

  1. Mengetahui jenis masalah kesehatan dan jenis kesulitan penyelenggaraan surveilans pascabencana menurut jenis-jenis bahaya yang menimbulkan bencana;
  2. Menentukan cara analisis yang tepat terhadap data yang diperoleh dalam surveilans pascabencana;

•  Simpulan, rekomendasi dan POA: Memberikan rekomendasi sesuai dengan ancaman
     bahaya utama  di wilayah kerjanya.

 

Hari ke-1

Gempa bumi terjadi pada pukul 05:53 dengan besaran 5.9 Skala Richter. Epicenter, dengan pusat gempa berada 33 kilometer di bawahnya, berada amat dekat dengan pemukiman penduduk. Bangunan-bangunan pemukiman banyak mengalami kerusakan, berat, sedang maupun ringan. Dengan segera terjadi cedera fisik mekanik dan luka pada ratusan ribu penduduk. Banyak kematian langsung juga terjadi. Kerusakan terjadi juga pada gedung-gedung pelayanan kesehatan di sekitar epicenter maupun yang berjarak lebih jauh. Fasilitas dasar seperti listrik, air, telekomunikasi dan transportasi amat terganggu. Penderita-penderita korban dibawa dengan berbagai cara dan transportasi ke tempat-tempat pelayanan kesehatan. Tempat-tempat pelayanan kesehatan baik yang masih utuh maupun dalam bentuk makeshift (darurat) segera dibanjiri penderita dan mulai memberikan pertolongan sedapat-dapatnya sesaat setelah kejadian. Prosedur pertolongan dilakukan amat terbatas dengan jumlah tenaga penolong dan peralatan yang terbatas.

Sebagai reaksi atas goncangan dan rontokan bagian-bagian bangunan, perawat dan penderita rawat inap rumah sakit pindah dari ruang perawatan ke halaman, selasar dan ruang terbuka lain di rumah sakit. Penderita-penderita korban bencana yang membanjir ke rumah sakit beserta keluarga dan pengantar mereka, para relawan, dan petugas-petugas kesehatan yang bekerja dengan segera kian memenuhi ruangan, halaman dan selasar di lantai bawah rumah sakit. Gerak dan kegiatan tindakan pertolongan di rumah sakit jadi nampak kacau balau dan sulit dikatakan dilakukan secara steril.

Bantuan dari luar wilayah bencana mulai berdatangan ke tempat-tempat pelayanan kesehatan pada petang hari. Dengan jumlah penderita korban yang tinggi maka tindakan pertolongan yang harus dilakukan amat meningkat. Penderita-penderita yang mendapat cedera ringan yang sebenarnya tidak perlu dirawat di rumah sakit banyak yang memilih untuk tetap tinggal di rumah sakit (karena telah kehilangan bangunan rumah tinggalnya) beserta keluarga dan pengantarnya. Penderita-penderita yang telah mendapat pertolongan dirawat pada tempat tidur atau tempat berbaring seadanya. Keperluan badani seperti buang air kecil atau besar para penderita beserta keluarga dan penunggu tak lagi dapat dilakukan dengan tertib seperti bila para penderita berada dalam ruang perawatan yang normal.

Pertanyaan

  1. Informasi apa saja yang perlu dikumpulkan sebagai data dasar untuk kebutuhan surveillans dan bagaimana metode yang sebaiknya digunakan untuk mengumpulkan informasi tersebut
  2. Penyakit apa saja yang seharusnya berada dalam monitoring sistem surveilans pasca bencana ini dan apa alasannya?

 

Hari ke-2

Kondisi darurat medik masih berlangsung. Penanganan penderita korban langsung dari dampak bencana masih menjadi prioritas dengan jumlah korban yang banyak. Pertolongan kedaruratan mulai membanjir dari berbagai sumber: masyarakat, badan perbantuan dan unsur-unsur pemerintah. Bantuan meliputi hal yang dasar sekali: pertolongan pertama akibat bencana dan pemenuhan kebutuhan fisik biologis seperti makanan siap santap, minuman dan pelindung tubuh (tenda, selimut, matress). Di berbagai tempat shelter temporer mulai banyak didirikan, akan tetapi berbagai fasilitas pendukung untuk aktivitas sehari-hari (MCK, air bersih, dan dapur umum), masih banyak yang belum tersedia. Kondisi-kondisi dari penyakit biasa mengalami penurunan untuk dikeluhkan di tempat-tempat pelayanan kesehatan. Sejak sore hari ke-1 retriage telah dilakukan. Pemantauan kondisi penderita yang dirawat seadanya dilakukan.

Pertanyaan

  1. Apa saja penyakit yang mungkin mulai muncul pada hari kedua?
  2. Modifikasi apa saja yang harus dilakukan agar sistem surveillans dapat mendukung kebutuhan informasi pasca bencana tersebut?
  3. Bagaimanakah sistem yang digunakan untuk membuat mendapatkan informasi dan membuat respons cepat apabila ada penyakit berpotensi KLB yang ditemukan di lapangan?

 

Hari ke-3 sampai ke-8

Tindakan pertolongan medik darurat terhadap penderita korban masih dilakukan. Penderita-penderita korban kecederaan yang masih ditemukan belum mendapat pertolongan dibawa ke tempat pertolongan. Satuan-satuan perbantuan medik mulai bekerja baik di tempat-tempat pelayanan kesehatan maupun tempat-tempat yang dapat didirikan di atasnya klinik atau rumah sakit darurat.

Poliklinik di pusat-pusat kesehatan masyarakat tidak dapat menjalankan fungsi pelayanan secara normal. Fungsi pencatatan dan pelaporan juga terganggu. Sementara itu suatu upaya untuk mendaftar kasus-kasus penyakit yang ada mulai dilakukan. Sebenarnya kesadaran atas keperluan untuk melakukan pencatatan dan pelaporan secara frequent telah ada. Dalam hal ini justru terjadi perbedaan pendapat mengenai penyakit apa saja yang harus dicatat dan dilaporkan tiap hari: semua penyakit, atau penyakit tertentu dan penyakit tertentu yang mana saja.

Terlebih dengan jumlah titik pelayanan medik darurat yang meningkat di sisa-sisa tempat pelayanan kesehatan dan di tempat-tempat penduduk bertinggal sementara, pusat kesehatan masyarakat dan petugas-petugasnya tidak mampu meng-cover semua. Sementara semua tempat pertolongan medik menggunakan cara pencatatan untuk pelaporan sesuai dengan kebiasaan masing-masing.

FETP UGM bersama WHO dan dinas-dinas kesehatan provinsi dan kabupaten terlibat dalam rancangan bersama maupun pelaksanaan surveilans sampai dengan analisisnya.

Sampai pada hari ke-7 daftar penyakit untuk dilakukan surveilans pascabencana belum disepakati. Data penyakit yang dihimpun merupakan data penyakit seperti biasanya yang dalam kondisi bencana menjadi beban berat karena jumlah penyakitnya yang banyak.

Pada hari ke-8 pimpinan puskesmas belum sanggup untuk mulai menjalankan sebagian tugasnya. Disadari keperluan mengetahui perkembangan penyakit di wilayah kerja puskesmas dengan keberadaan berbagai satuan perbantuan medik, akan tetapi untuk menghimpun data yang ada amat diperlukan tenaga perbantuan lagi.

Pertanyaan

  1. Bagaimana metode yang digunakan untuk mengimplementasikan sistem surveillans tersebut?
  2. Sampai kapankah surveilans pascabencana ini sebaiknya diselenggarakan, apa kriteria yang digunakan?

Hari ke-9 sampai ke-14

Usaha untuk menyepakati penyakit-penyakit untuk surveilans pasca bencana masih dilakukan. Sebagian dari penyebabnya adalah perbedaan penafsiran akan kepentingan data penyakit. Satu fihak menghendaki daftar penyakit lengkap, sedangkan di lain fihak menghendaki daftar singkat yang oleh fihak lain dianggap akan tidak lengkap. Juga adanya keinginan untuk menggunakan software tertentu. Sementara itu kasus tetanus menunjukkan peningkatan yang mencolok.

Pertanyaan

1. Dapatkah dibuat daftar penyakit-penyakit khas akibat bencana-bencana jenis tertentu?
    Demikian pula implikasinya bagi pelaksanaan surveilans, yang sebaiknya kita
    ketahui?

2. Analisis apa saja yang perlu dilakukan atas data surveilans?

Simpulan

Butir-butir penting dari surveilans yang menjadi alasan: apa manfaat surveilans pascabencana, bagaimana surveilans disusun, bagaimana surveilans dijalankan, siapa yang melaksanakan, apa kelengkapannya.

Rekomendasi

Bagaimana proses surveilans pascabencana dilakukan dengan baik agar kontribusinya terhadap penanganan bencana menjadi sebaik-baiknya. Matriks luaran rekomendasi bagi suatu wilayah dapat berujud seperti berikut ini: (Rekomendasi ditulis dalam sel di bawah tiap jenis bencana, sebagai jawab atas permasalahan surveilans bencana).

 

Facilitator’s Pages

Facilitator’s Pages

Deskripsi

Tabletop exercise ini mengarahkan diskusi menuju gambaran "bagaimana surveilans sesudah kejadian bencana sebaiknya dilakukan.?" Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi sesudah kejadian bencana memudahkan peningkatan kejadian penyakit. Surveilans merupakan salah satu cara utama untuk mendeteksi secara dini kejadian penyakit yang bisa menuju wabah, di samping kegunaan yang penting lainnya untuk tindakan untuk mengatasi kejadian penyakit, perencanaan, dan evaluasi.

Tujuan

Sesudah menjalankan exercise ini peserta akan dapat menjawab permasalahan surveilans pascabencana:

•  Penguasaan dasar penyusunan sistem surveilans pasca bencana sampai
     menghasilkan daftar penyakit untuk surveilans:

  1. Memahami kondisi yang mendasari kepentingan surveilans penyakit sesudah kejadian bencana;
  2. Memahami bahwa pada saat bencana dapat terjadi penularan penyakit;
  3. Menguraikan jenis-jenis penyakit yang dapat meningkat kejadiannya, dan sebabnya, dalam kondisi sesudah bencana;
  4. Membuat daftar penyakit untuk surveilans pascabencana atas dasar kelompok penyebabnya;

•  Menyiapkan keperluan, kelengkapan, penyelenggaraan surveilans pasca bencana
     sampai mengakhirinya:

  1. Membuat daftar keperluan bagi pelaksanaan surveilans pascabencana;
  2. Menentukan bila surveilans pascabencana sebaiknya diakhiri;

•  Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam masa pasca bencana dan analisis yang
     tepat bagi data surveilans:

  1. Mengetahui jenis masalah kesehatan dan jenis kesulitan penyelenggaraan surveilans pascabencana menurut jenis-jenis bahaya yang menimbulkan bencana;
  2. Menentukan cara analisis yang tepat terhadap data yang diperoleh dalam surveilans pascabencana;

•  Simpulan, rekomendasi dan POA: Memberikan rekomendasi sesuai dengan ancaman
     bahaya utama di wilayah kerjanya.

Hari ke-1

Gempa bumi terjadi pada pukul 05:53 dengan besaran 5.9 Skala Richter. Epicenter, dengan pusat gempa berada 33 kilometer di bawahnya, berada amat dekat dengan pemukiman penduduk. Bangunan-bangunan pemukiman banyak mengalami kerusakan, berat, sedang maupun ringan. Dengan segera terjadi kecederaan fisik mekanik dan perlukaan pada ratusan ribu penduduk. Banyak kematian langsung juga terjadi. Kerusakan terjadi juga pada gedung-gedung pelayanan kesehatan di sekitar epicenter maupun yang berjarak lebih jauh. Fasilitas dasar seperti listrik, air, telekomunikasi dan transportasi amat terganggu. Penderita-penderita korban dibawa dengan berbagai cara dan transportasi ke tempat-tempat pelayanan kesehatan. Tempat-tempat pelayanan kesehatan baik yang masih utuh maupun dalam bentuk makeshift (darurat) segera dibanjiri penderita dan mulai memberikan pertolongan sedapat-dapatnya sesaat setelah kejadian. Prosedur pertolongan dilakukan amat terbatas dengan jumlah tenaga penolong dan peralatan yang terbatas.

Sebagai reaksi atas goncangan dan rontokan bagian-bagian bangunan, perawat dan penderita rawat inap rumah sakit pindah dari ruang perawatan ke halaman, selasar dan ruang terbuka lain di rumah sakit. Penderita-penderita korban bencana yang membanjir ke rumah sakit beserta keluarga dan pengantar mereka, para relawan, dan petugas-petugas kesehatan yang bekerja dengan segera kian memenuhi ruangan, halaman dan selasar di lantai bawah rumah sakit. Gerak dan kegiatan tindakan pertolongan di rumah sakit jadi nampak kacau balau dan sulit dikatakan dilakukan secara steril.

Bantuan dari luar wilayah bencana mulai berdatangan ke tempat-tempat pelayanan kesehatan pada petang hari. Dengan jumlah penderita korban yang tinggi maka tindakan pertolongan yang harus dilakukan amat meningkat. Penderita-penderita yang mendapat cedera ringan yang sebenarnya tidak perlu dirawat di rumah sakit banyak yang memilih untuk tetap tinggal di rumah sakit (karena telah kehilangan bangunan rumah tinggalnya) beserta keluarga dan pengantarnya. Penderita-penderita yang telah mendapat pertolongan dirawat pada tempat tidur atau tempat berbaring seadanya. Keperluan badani seperti buang air kecil atau besar para penderita beserta keluarga dan penunggu tak lagi dapat dilakukan dengan tertib seperti bila para penderita berada dalam ruang perawatan yang normal.

Pertanyaan

  1. Informasi apa saja yang perlu dikumpulkan sebagai data dasar untuk kebutuhan surveillans dan bagaimana metode yang sebaiknya digunakan untuk mengumpulkan informasi tersebut?
  2. Penyakit apa saja yang seharusnya berada dalam monitoring sistem surveilans pasca bencana ini dan apa alasannya?

Kondisi kecederaan penderita sebagai akibat langsung bencana: luka, cedera yang memerlukan pembedahan, cedera yang memerlukan perawatan dengan posisi dan perawatan khusus untuk mencegah komplikasi. Mutu tindakan pertolongan kedokteran yang dilakukan: pemenuhan standard operating procedure tindakan, ketersediaan obat, bahan dan alat serta kondisi petugas medik dan paramedik. Kondisi lingkungan fisik tempat pertolongan dan perawatan: sterilkah?

Hari ke-2

Kondisi darurat medik masih berlangsung. Penanganan penderita korban langsung dari dampak bencana masih menjadi prioritas dengan jumlah korban yang banyak. Pertolongan kedaruratan mulai membanjir dari berbagai sumber: masyarakat, badan perbantuan dan unsur-unsur pemerintah. Bantuan meliputi hal yang dasar sekali: pertolongan pertama pada akibat bencana dan pemenuhan kebutuhan fisik biologis seperti makanan siap santap, minuman dan pelindung tubuh (tenda, selimut, matress ). Di berbagai tempat shelter temporer mulai banyak didirikan, akan tetapi berbagai fasilitas pendukung untuk aktivitas sehari-hari (MCK, air bersih, dan dapur umum), masih banyak yang belum tersedia. Kondisi-kondisi dari penyakit biasa mengalami penurunan untuk dikeluhkan di tempat-tempat pelayanan kesehatan. Sejak sore hari ke-1 retriage telah dilakukan. Pemantauan kondisi penderita yang dirawat seadanya dilakukan.

Pertanyaan

  1. Apa saja penyakit yang mungkin mulai muncul pada hari kedua?
  2. Modifikasi apa saja yang harus dilakukan agar sistem surveillant dapat mendukung kebutuhan informasi pasca bencana tersebut?
    (misal: definisi kasus, jenis data, format pelaporan, sumber data, alur data, SDM, periodisitas pelaporan, dll)
  3. Bagaimanakah sistem yang digunakan untuk membuat mendapatkan informasi dan membuat respons cepat apabila ada penyakit berpotensi KLB yang ditemukan di lapangan?

Hari ke-3 sampai ke-8

Tindakan pertolongan medik darurat terhadap penderita korban masih dilakukan. Penderita-penderita korban kecederaan yang masih ditemukan belum mendapat pertolongan dibawa ke tempat pertolongan. Satuan-satuan perbantuan medik mulai bekerja baik di tempat-tempat pelayanan kesehatan maupun tempat-tempat yang dapat didirikan di atasnya klinik atau rumah sakit darurat.

Poliklinik di pusat-pusat kesehatan masyarakat tidak dapat menjalankan fungsi pelayanan secara normal. Fungsi pencatatan dan pelaporan juga terganggu. Sementara itu, suatu upaya untuk mendaftar kasus-kasus penyakit yang ada mulai dilakukan. Sebenarnya kesadaran atas keperluan untuk melakukan pencatatan dan pelaporan secara frequent telah ada. Dalam hal ini, justru terjadi perbedaan pendapat mengenai penyakit apa saja yang harus dicatat dan dilaporkan tiap hari: semua penyakit, atau penyakit tertentu dan penyakit tertentu yang mana saja.

Terlebih dengan jumlah titik pelayanan medik darurat yang meningkat di sisa-sisa tempat pelayanan kesehatan dan di tempat-tempat penduduk bertinggal sementara, pusat kesehatan masyarakat dan petugas-petugasnya tidak mampu meng-cover semua. Sementara semua tempat pertolongan medik menggunakan cara pencatatan untuk pelaporan sesuai dengan kebiasaan masing-masing.

FETP UGM bersama WHO dan dinas-dinas kesehatan provinsi dan kabupaten terlibat dalam rancangan bersama maupun pelaksanaan surveilans sampai dengan analisisnya.

Sampai pada hari ke-7 daftar penyakit untuk dilakukan surveilans pascabencana belum disepakati. Data penyakit yang dihimpun merupakan data penyakit seperti biasanya yang dalam kondisi bencana menjadi beban berat karena jumlah penyakitnya yang banyak.

Pada hari ke-8 pimpinan puskesmas belum sanggup untuk mulai menjalankan sebagian tugasnya. Disadari keperluan mengetahui perkembangan penyakit di wilayah kerja puskesmas dengan keberadaan berbagai satuan perbantuan medik, akan tetapi untuk menghimpun data yang ada amat diperlukan tenaga perbantuan lagi.

Pertanyaan

  1. Bagaimana metode yang digunakan untuk mengimplementasikan sistem surveillans tersebut?
    (misalnya: bagaimana mengkoordinasikan semua pihak yang terkait, bagaimana berkoordinasi dengan lembaga-lembaga yang memberikan asistensi teknis, bagaimana memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan sistem tersebut)
  2. Sampai kapankah surveilans pascabencana ini sebaiknya diselenggarakan, apa kriteria yang digunakan?
    (Surveilans pascabencana diakhiri ketika masa inkubasi penyakit yang terpanjang sejak saat bencana telah terlampaui dan tak ada lagi penderita baru. Ada yang mengatakan surveilans perlu dilakukan dua kali masa inkubasi penyakit yang terpanjang.)

Hari ke-9 sampai ke-14

Usaha untuk menyepakati penyakit-penyakit untuk surveilans pasca bencana masih dilakukan. Sebagian dari penyebabnya adalah perbedaan penafsiran akan kepentingan data penyakit. Satu fihak menghendaki daftar penyakit lengkap, sedangkan di lain fihak menghendaki daftar singkat yang oleh fihak lain dianggap akan tidak lengkap. Juga adanya keinginan untuk menggunakan software tertentu. Sementara itu kasus tetanus menunjukkan peningkatan yang mencolok.

Pertanyaan

1. Dapatkah dibuat daftar penyakit-penyakit khas akibat bencana-bencana jenis tertentu? Demikian pula implikasinya bagi pelaksanaan surveilans, yang sebaiknya kita

2. Analisis apa saja yang perlu dilakukan atas data surveilans?
(Tergantung dari kesepakatan pada awal surveilans pascabencana. Data bisa meliputi sisi masalah kesehatan. Ini bisa juga meliputi faktor risiko tertentu. Bila hanya meliputi data penyakit atau masalah kesehatan maka analisis penyakit menurut tempat dan waktu bisa dilakukan. Apabila faktor risiko juga dimasukkan dalam surveilans maka risiko relatif atau odds ratio kejadian penyakit dapat disajikan)

Kesimpulan:

Butir-butir penting dari surveilans yang menjadi alasan: apa manfaat surveilans pascabencana, bagaimana surveilans disusun, bagaimana surveilans dijalankan, siapa yang melaksanakan, apa kelengkapannya.

Rekomendasi:

Bagaimana proses surveilans pascabencana dilakukan dengan baik agar kontribusinya terhadap penanganan bencana menjadi sebaik-baiknya. Matriks luaran rekomendasi bagi suatu wilayah dapat berujud seperti berikut ini: (Rekomendasi ditulis dalam sel di bawah tiap jenis bencana, sebagai jawab atas permasalahan surveilans bencana).