logo2

ugm-logo

Blog

Chennai floods: Over 200 health camps to check outbreak

Fearing an outbreak of diseases, the state health department is running about 200 medical camps in various parts of the city as well as in Tiruvallur and Kancheepuram — two other flood-hit districts in northern Tamil Nadu.

The water is contaminated with sewage water at many places raising a major health threat.

State Health Secretary J Radhakrishnan told The Indian Express that over 1,700 doctors were on duty.

“Patients at the Tambaram government hospital were rescued and shifted to advanced facilities. The Global hospital in the city had to shut down after water entered the wards. The health minister, who is also a doctor, led the evacuation efforts. All other hospitals are operational in full strength, “ he said.

The dean of the Madras Medical College, Dr Vimala, said all medical colleges were running with full strength of doctors, nurses and resources. “Besides, several doctors have joined from other districts to run over 200 fever camps and disaster management camps. Senior doctors from medical colleges have been deputed to the camps in flood-hit areas,” she said.

See more at: http://indianexpress.com

Banjarnegara Digoyang Gempa Beruntun, Longsor Mengancam

http://cdn.tmpo.co/data/2013/03/25/id_174191/174191_620.jpg

Jakarta - Sejumlah gempa beruntun menggoyang Banjarnegara dalam beberapa hari terakhir. Meskipun berkekuatan di bawah 5 skala richter, namun terasa kuat karena pusat gempa berada di daratan dan cukup dangkal.

"Gempa yang terjadi kemarin ternyata merupakan gempa lokal yang berpusat di sekitar kecamatan Sigaluh. Beruntung tidak berdampak parah," kata Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo, di Banjarnegara, Selasa (24/11/2015)

Namun, dia mengimbau masyarakat agar tetap waspada. Apalagi saat ini sudah memasuki musim penghujan karena retakan gempa dapat berakibat tanah longsor.
 
Untuk itu, dia meminta masyarakat melaporkan jika melihat ada retakan di atas tebing. Apalagi Banjarnegara, kata dia, 90 persen wilayahnya merupakan daerah rawan longsor. Tahun lalu saja 108 orang meninggal dunia akibat tertimbun longsor.

Setelah Sabtu lalu, gempa kembali melanda Banjarnegara pada Senin 23 November 2015 malam. Akibat gempa tersebut, sekitar 1.200 jiwa Desa Sirukem Kecamatan Kalibening panik dan mengungsi ke desa tetangga.

"Setelah gempa pertama yang terjadi sekitar pukul 20.30 WIB warga memilih mengungsi ke Desa Balun Kecamatan Wanayasa," kata Camat Kalibening, Paryono.

Sebagian besar warga mengungsi di Balai Desa Balun dan sebagian lainnya mengungsi ke rumah warga. "Warga yang mengungsi merupakan ibu-ibu, anak-anak dan lansia. Sedangkan laki-lakinya melakukan ronda," ujarnya.

Dikatakan Paryono, warga yang mengungsi mengaku trauma dengan peristiwa yang pernah terjadi di Dusun Jemblung Desa Sampang Kecamatan Karangkobar.

"Warga yang mengungsi tersebut tinggal di wilayah perbukitan, sehingga saat gempa mengguncang mereka panik dan segera mengungsi, karena takut terjadi peristiwa longsor seperti di Jemblung terulang," kata Paryono.

Lebih lanjut, ia mengemukakan saat ini pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pihak Koramil dan Polsek Wanayasa untuk menenangkan warga. "Nanti Pak Bupati Banjarnegara juga akan menengok pengungsi yang masih bertahan," ujar Paryono.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Banjarnegara, Teguh Rahayu, mengatakan gempa di Banjarnegara pada Senin 23 November 2015 terjadi 3 kali.

Gempa pertama dengan kekuatan 2,5 scala Richter terjadi sekitar pukul 14.53 WIB. Dengan koordinat lokasi di 7.10 LS,109.86 BT atau berada di 36 kilometer timur laut Banjarnegara berkedalaman lima kilometer.

Kemudian gempa susulan dengan kekuatan 2,2 scala richter terjadi pada pukul 19.55 di utara Banjarnegara dengan kedalaman 3 kilometer.

Kemudian gempa susulan kedua berkekuatan 2,3 scala Richter terjadi pada Selasa dini hari tadi, sekitar pukul 02.19 WIB. Berkedalaman 9 kilometer timur laut Banjarnegara.

Teguh mengatakan, tren magnitudo semakin mengecil. "Tidak ada gempa besar," katanya. Hingga saat ini, kata dia, dilaporkan tidak ada kerusakan. (Nil/Yus)

sumber: liputan6

Kemenpora Tantang Pemuda Menjadi Relawan Tanggap Bencana

Relawan Tenggap Bencana dan Peduli Sosial bentukan Kemenpora, Senin (23/11)

OGAN ILIR -- Para pemuda di daerah-daerah titik api didorong untuk menghijaukan kembali lahan dan hutan yang beberapa waktu lalu terbakar serta menimbulkan bencana kabut asap.

"Alhamdulillah sekarang sudah musim hujan, asap sudah hilang, api sudah padam, saatnya kita hijaukan kembali lahan yang kemarin terbakar," ujar Deputi I Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora RI Yuni Purwanti meneruskan pesan Menpora Imam Nahrawi dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Senin (23/11).

Di hadapan ratusan pemuda yang tergabung dalam Relawan Tanggap Bencana dan Peduli Sosial, Yuni mengatakan, tugas para relawan pemuda terkait bencana asap tidak boleh berhenti hanya karena hujan telah turun. Justru, katanya, saat ini menjadi awalan untuk penataan ulang penanganan musibah kabut asap yang terjadi setiap tahun.

"Sekarang kita tanam pohon, sambil menyiapkan antisipasi musibah banjir dan konsolidasi untuk penanggulangan kabut asap secara dini musim kemarau tahun depan. Semoga bisa lebih baik," tambah Yuni.

Staf Khusus Menpora Zainul Munasichin ikut menyampaikan, mulai tahun 2016, pihaknya akan menyiapkan 3.400 relawan pemuda tanggap bencana yang siaga untuk membantu penanganan bencana alam di sejumlah daerah, termasuk kabut asap.

"Mereka akan kita rekrut, kita latih dan kita tugaskan di daerah bencana, sebagai bagian dari kepeloporan dan voluntary pemuda sekaligus mem-back up BNPB," jelasnya.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaha Citra Damai bekerjasama dengan KNPI Kabupaten Ogan Ilir tersebut, Kemenpora menyerahkan santunan untuk biaya pengobatan kepada keluarga yang sempat dirawat di rumah sakit akibat kabut asap. Serta penyerahan 250 bibit pohon mahoni sumbangan dari Pertamina Foundation.

Kabupaten Ogan Ilir mendapat perhatian karena menjadi salah satu kabupaten di Sumatra yang memiliki titik api paling banyak dalam musibah kabut asap, yakni sekitar 370 titik api.

 “Memang kami membutuhkan banyak sekali tenaga-tenaga pemuda untuk ikut menanggulangi musibah asap," terang Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata Pemkab Ogan Ilir Fuadi.

sumber: REPUBLIKA.CO.ID,

BPBD Sumedang Siagakan Penanggulangan Bencana Longsor dan Banjir

BPBD Sumedang Siagakan Penanggulangan Bencana Longsor dan Banjir

SUMEDANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumedang, sudah menyiagakan para personel dan relawan siaga bencana berikut peralatan dasar penanggulangan bencana.

Upaya itu, guna mengantisipasi terjadinya bencana alam terutama banjir dan longsor di musim hujan saat ini. Selain itu, BPBD pun akan mengirimkan surat edaran kepada semua camat untuk meningkatkan kewaspadaannya terhadap ancaman bencana alam. Terlebih di wilayah Kabupaten Sumedang, ada beberapa daerah yang rawan pergerakan tanah dan longsor.

“Surat edaran kepada para camat tak lama lagi akan kami kirimkan. Dengan surat edaran itu, diharapkan para camat meningkatkan kewaspadaannya terhadap ancaman bencana alam. Sekaligus juga, memantau serta melaporkan apabila terjadi bencana alam di wilayahnya, terutama banjir dan longsor,” kata Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Sumedang, Ayi Rusmana ketika ditemui di kantornya, Kamis (12/11/2015).

Menurut dia, hingga kini baru ada satu laporan bencana alam dari Kecamatan Cimanggung. Bencana alam tersebut, yakni terjadinya pergerakan tanah di Dusun Cibulakan, Desa Sirnagalih.

Akibat pergerakan tanah tersebut, terjadi tanah retak sepanjang 20 meter dengan kedalaman 5 meter. Pergerakan tanah tersebut menyebabkan satu rumah warga rusak berat.

“Memang sampai sekarang, warga korban masih bertahan di rumahnya. Akan tetapi, kami sudah menyarankan kepada camat untuk segera mengevakuasi warga korban ke tempat aman, khawatir terjadi pergerakan tanah susulan,” ujar Ayi.

Kewaspadaan terhadap ancaman bencana alam banjir, pergerakan tanah dan longsor, kata dia, harus lebih ditingkatkan. Sebab, pergantian musim dan iklim tahun ini dinilai ekstrim. Sebelumnya, terjadi musim kemarau yang berkepanjangan dengan suhu udara yang cukup panas.

Kini, berganti dengan musim hujan. Perubahan cuaca yang ekstrim ini, bisa menyebabkan pergerakan tanah, terutama di daerah yang kondisi tanahnya labil. Pergerakan tanah itu, bisa memicu terjadinya longsor. “Jadi, masyarakat harus berhati-hati,” katanya.

Dikatakan, di Kabupaten Sumedang ada beberapa daerah rawan bencana banjir dan longsor. Untuk banjir, terjadi di wilayah Kec. Jatinangor dan Cimanggung. Bahkan musibah banjir tersebut menjadi langganan setiap tahunnya pada musim hujan.

Sementara daerah rawan longsor dan pergerakan tanah, di antaranya di Dusun Singkup Desa Ciherang dan daerah Anjung Tirta Kelurahan Pasanggrahan Baru, Kecamatan Sumedang Selatan.

Selain itu, di Desa Sukamaju Kec. Rancakalong, Desa Sukamukti Kec. Tanjungmedar, Desa Cipeundeuy dan Desa Cimanintin Kec. Jatinunggal serta Desa Banyuresmi Kec. Sukasari.

“Bagi warga yang ada di daerah rawan bencana ini, mesti meningkatkan kewaspadaannya. Para camat juga perlu melakukan monitoring langsung di lapangan untuk melakukan berbagai langkah antisipasi,” kata Ayi.

Lebih jauh ia menjelaskan, selain akan mengirimkan surat edaran kepada para camat, BPBD pun terus berkomunikasi secara intensif dengan sejumlah relawan siaga bencana.

Misalnya, relawan Jercy (Jatinangor Emergency Response Community) yang selalu siaga membantu penanggulangan banjir di Jatinangor dan Cimanggung dan Gares (gabungan relawan Sukasari) yang siaga mengantisipasi bencana longsor di wilayah Kecamatan Sukasari.

“Dengan para relawan di lapangan, kami selalu berkomunikasi. Bahkan mereka sudah terlatih dalam melakukan penanggulangan bencana,” ujarnya.

Ayi menambahkan, untuk persediaan logistik dan berbagai peralatan dasar penanggulangan bencana sudah disiapkan. Untuk logistik, di antaranya persediaan beras, sembako, selimut dan baju seragam.

Sementara peralatan dasar, seperti tenda darurat, pelbed, perahu karet dan alat komunikasi. Bahkan kendaraan multi fungsi yang dilengkapi dapur umum, sudah disiagakan. “Jadi, berbagai langkah antisipasi dan penanggulangan bencana alam di musim hujan saat ini sudah kami siapkan,” ucapnya. (Adang Jukardi/A-89)

sumber: PRLM

Penerbangan Delay Akibat Abu Vulkanik Gunung Rinjani

Dampak Abu Vulkanik Gunung Rinjani, 5 Penerbangan Garuda Delay, Citilink 2 Penerbangan

DENPASAR -  Sekitar Tujuh penerbangan dari dua maskapai Garuda Indonesia dan grupnya Citilink mengalami penundaan penerbangan (delay) akibat abu vulkanis Anak Gunung Rinjani, Lombok, NTT.

Tujuh penerbangan ini, untuk tujuan Jakarta dan Surabaya.

Seorang petugas Garuda mengatakan, bahwa sekitar lima‎ penerbangan dari Bali ke daerah lain yang mengalami delay.

Empat ke Jakarta dan satu ke Surabaya. Sedangkan, yang akan masuk untuk totalnya tidak diketahui. Hanya saja, ada beberapa yaitu dari Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta.

"‎Airport close Yogyakarta sekitar pukul 22.00 Wita. Tapi, kalau untuk berapa pesawat Garuda yang masuk ke Ngurah Rai kami tidak tahu," ungkap petugas yang tidak mau disebut namanya, Selasa (3/11/2015)

Sementara itu, District Sales Manager Denpasar Citilink, Jerrymias,‎ mengatakan bahwa sekitar dua penerbangan dari maskapai Citilink yang mengalami delay.

Yaitu penerbangan untuk ke Jakarta dan Surabaya. Dan yang datang sekitar satu maskapai.

"Ada tiga, dua yang berangkat delay dan satu yang datang juga delay," ungkapnya.

Di sisi lain, Hiparkus Epi, penumpang Garuda Indonesia mengatakan, bahwa semoga saja penerbangan untuk pagi hari bisa dilakukan.

Alias, bandara Ngurah Rai dibuka. Kalau tidak maka, pekerjaannya di Jakarta pastinya akan mengalami kendala.

"Ya sudah menunggu besok pagi kalau bisa, boleh lah. Karena, nanti pukul 23.30 Wita itu juga belum jelas," ujarnya. (ang).

sumber: TRIBUN-BALI.COM