Selasa, 20 Januari 2026
PKMK-Yogyakarta. Manajemen penanggulangan bencana di Indonesia setiap tahun mengalami perkembangan. Meski demikian, 2025 menjadi periode yang penuh tantangan dalam manajemen bencana kesehatan di Indonesia dan dunia. Berbagai peristiwa hidrometeorologi masif seperti banjir, tanah longsor Sumatera pada akhir 2025, hingga ancaman penyakit menular telah menguji ketahanan sistem kesehatan yang ada. Dengan adanya kebijakan tentang manajemen bencana kesehatan, tantangan implementasi kebijakan, kejadian bencana dan peran lintas sektor, maka diperlukan sebuah refleksi melalui kegiatan kaleidoskop untuk melihat perkembangan manajemen bencana kesehatan.
Pada kesempatan ini, Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM melaksanakan Seminar “Kaleidoskop Manajemen Bencana Kesehatan 2025” pada Selasa (20/1/2026) yang dilaksanakan secara daring. Webinar ini diikuti oleh 162 peserta melalui Zoom dan 219 peserta melalui Youtube yang berasal dari akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan.
Kegiatan dibuka oleh Vina Yulia Anhar, SKM, MPH selaku pembawa acara pada seminar kali ini. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan pengantar yang disampaikan oleh Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., selaku Ketua PKMK FK-KMK Universitas Gadjah Mada. dr Andreasta menyampaikan pada penanganan bencana saat ini sudah banyak perkembangan baik itu dari sisi ilmu pengetahuan maupun kebijakan, salah satunya adalah perspektif yang berubah dari yang awalnya single hazard menjadi multi hazard. Kemudian dengan perkembangan zaman perlu dipelajari bersama apakah skema manajemen bencana yang selama ini digunakan masih bisa digunakan di masa sekarang atau tidak. Selain itu, dr Andreasta juga menyampaikan tentang perlunya meningkatkan kapasitas SDM kesehatan dan mengaktivasi ketika terjadi bencana.

Dok. PKMK “Pembukaan Seminar Kaleidoskop Manajemen Bencana Kesehatan 2025” oleh Vina Yulia Anhar, SKM, MPH.

Dok. PKMK “Pengantar” oleh Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes.
Selanjutnya kegiatan dipandu oleh Happy R Pangaribuan, S.KM, MPH, selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana Kesehatan dan moderator. Happy menyampaikan webinar ini bertujuan untuk melihat sejenak apa saja tantangan dan implementasi kebijakan manajemen kesehatan saat situasi bencana selama 2025. Divisi Manajemen Bencana Kesehatan selama lima tahun terakhir sudah melakukan seminar, pelatihan, bimbingan teknis, dan pendampingan pada dinas kesehatan, rumah sakit, puskesmas, klinik, dan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kapasitas dalam penanggulangan bencana.

Dok. PKMK “Moderator Sesi Seminar” oleh Happy R Pangaribuan, S.KM, MPH selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK UGM.
Materi pertama disampaikan oleh Madelina Ariani, SKM, MPH. mengenai “Tren Global Manajemen Penanggulangan Bencana Kesehatan Tahun 2025”. Pada kesempatan kali ini Ibu Madel membagi tahun 2025 menjadi empat kuartal berdasarkan waktunya dan apa saja yang terjadi pada kuartal tersebut. Pada awal tahun atau kuartal pertama, dunia mengalami krisis kesehatan yang tumpang tindih seperti konflik Gaza dan Ukraina, pengungsian, wabah penyakit, dan dampak perubahan iklim yang memungkinkan health system shock dan membutuhkan penerapan pendekatan multi hazard. Pada pertengahan tahun dunia global mulai mengadaptasi negosiasi dan kesepakatan menjadi kebijakan praktis yang dapat diterapkan di institusi masing-masing. Dalam penutup materinya, Madel menyampaikan pada akhir tahun terjadi penguatan jejaring akademik, praktisi, dan manajemen pengetahuan untuk manajemen kesehatan, namun juga terjadi bencana dampak perubahan iklim yaitu banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera.

Dok. PKMK “Tren Global Manajemen Penanggulangan Bencana Kesehatan Tahun 2025” oleh Madelina Ariani, SKM, MPH.
Selanjutnya materi kedua disampaikan oleh apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid., mengenai “Kaleidoskop 2025: Perjalanan Manajemen Bencana Kesehatan Nasional”. Gde menyampaikan sepanjang tahun 2025 telah terjadi banyak bencana alam yang tersebar pada hampir seluruh wilayah di Indonesia antara lain banjir, tanah longsor, dan erupsi Gunung Semeru. Implementasi kebijakan krisis kesehatan di Indonesia juga masih menjadi catatan dimana sebaran kapasitas kesehatan masih banyak berfokus di Jawa dan Sumatera dibandingkan wilayah lainnya, serta program krisis kesehatan masih terbagi di bidang pengendalian penyakit dan pelayanan kesehatan sehingga diperlukan adanya kolaborasi di tingkat institusi. Selanjutnya Gde juga menyampaikan evaluasi mengenai sistem manajemen bencana saat terjadi krisis kesehatan sepanjang tahun 2025 dari berbagai aspek.

Dok. PKMK “Kaleidoskop 2025: Perjalanan Manajemen Bencana Kesehatan Nasional” oleh apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid.
Setelah penyampaian materi dari narasumber, acara selanjutnya adalah pembahasan. Pembahasan pertama disampaikan oleh dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H., selaku Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DIY. Sektor kesehatan tidak bisa berdiri sendiri dalam sistem penanggulangan bencana. Disampaikan oleh dr. Anung bahwa Dinas Kesehatan Provinsi DIY telah membuat surat keputusan mengenai Health Emergency Operation Center (HEOC) sejak 2019. Melalui surat keputusan ini, dinas kesehatan memfasilitasi untuk dilakukannya pelatihan penguatan mengenai pengorganisasian, manajemen penanggulangan krisis, pembentukan Emergency Medical Team (EMT) yang saat ini berjumlah sekitar 30 tim di DIY. Bentuk kegiatan yang dilakukan dalam peningkatan kapasitas dinas kesehatan antara lain mitigasi, pelatihan, gladi lapangan, serta sosialisasi mengenai penanggulangan bencana kepada masyarakat hingga tingkat kelurahan.

Dok. PKMK “Pembahasan Pertama” oleh dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H., selaku Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DIY.
Pembahasan kedua disampaikan oleh Sutono, SKp., MKep., M.Sc, selaku Ketua Pokja Bencana FK-KMK Universitas Gadjah Mada. Sutono membahas peraturan mengenai penanggulangan bencana di Indonesia. Setelah itu dibahas juga mengenai klaster kesehatan yang terdiri dari sub-sub klaster serta tim pendukung. Kemudian Sutono juga membahas mengenai peran perguruan tinggi dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Perguruan tinggi dalam hal ini Universitas Gadjah Mada telah lama turut andil dalam penanggulangan bencana di Indonesia melalui DERU UGM, Pusat Studi Bencana, fakultas, sekolah vokasi, lintas fakultas dan program studi. Selain itu tentunya juga bekerja sama dengan pemerintah, kementerian, BNPB, BPBD, organisasi profesi, serta organisasi internasional sehingga tercipta kolaborasi untuk meningkatkan kapasitas dalam penanggulangan bencana.

Dok. PKMK “Pembahasan Kedua” oleh Sutono, SKp., MKep., M.Sc, selaku Ketua Pokja Bencana FK-KMK Universitas Gadjah Mada.
Kemudian pembahasan ketiga disampaikan oleh Dr. apt. IGM. Wirabrata, S.Si, M.Kes, MM, MH., selaku perwakilan dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan. Wirabrata menyampaikan untuk meningkatkan ketahanan darurat kita harus melakukan transformasi sistem kesehatan, salah satu caranya adalah belajar melalui pengalaman menangani COVID-19, apa saja yang sudah dipelajari dan apa saja yang harus dilakukan selanjutnya. Dalam penanganan bencana dilakukan pengorganisasian menggunakan sistem klaster, salah satunya klaster kesehatan. Klaster kesehatan terdiri dari sub-sub klaster yang memiliki tugas dan fungsi masing-masing. Bapak Wirabrata juga menyampaikan poin-poin dari rencana strategi transformasi ketahanan kesehatan program penanggulangan krisis kesehatan 2025.

Dok. PKMK “Pembahasan Ketiga” oleh Dr. apt. IGM. Wirabrata, S.Si, M.Kes, MM, MH., selaku perwakilan dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan.

Dok. PKMK “Sesi diskusi dan tanya jawab”.
Setelah sesi penyampaian materi, peserta memberikan tanggapan dan pertanyaan atas materi yang telah disampaikan. Peserta tampak antusias dan aktif ketika sesi diskusi berlangsung. Banyak pertanyaan yang disampaikan oleh peserta untuk berdiskusi bersama dengan narasumber.
Reporter: dr. Muhammad Alif Seswandhana (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK UGM)
SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

