logo2

ugm-logo

Gempa M 7,7 di Sulawesi Utara: Ancaman Tsunami Kembali Uji Kesiapsiagaan Kesehatan Indonesia

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi di wilayah Laut Sulawesi pada Senin (8/6) memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah Indonesia bagian timur, termasuk Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Timur. BMKG mencatat episenter gempa berada sekitar 244 km barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 47 km, sehingga berpotensi menimbulkan tsunami dan mendorong evakuasi masyarakat pesisir. Meskipun peringatan dini tsunami kemudian diakhiri, kejadian ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi krisis kesehatan pascabencana. Selain risiko korban luka dan kematian, gempa dan tsunami dapat menyebabkan gangguan layanan kesehatan, keterbatasan akses pelayanan medis, masalah kesehatan lingkungan di lokasi pengungsian, hingga dampak psikologis pada masyarakat terdampak. Pengalaman berbagai bencana besar menunjukkan bahwa ketahanan fasilitas kesehatan menjadi faktor penting dalam menekan angka kesakitan dan kematian saat keadaan darurat. Oleh karena itu, penguatan sistem peringatan dini, kesiapsiagaan rumah sakit, serta koordinasi lintas sektor perlu terus ditingkatkan untuk menghadapi ancaman bencana geologi yang masih tinggi di kawasan Indonesia timur.

Selengkapnya:

1.     Berita/website:

        https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/bmkg-akhiri-peringatan-dini-tsunami-gempa-m77-filipina-kenaikan-tinggi-muka-air-laut-terpantau-di-sejumlah-wilayah    

2.     Jurnal:

        https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10729494/

Karhutla Mulai Meningkat, BNPB Ingatkan Masyarakat Waspada Memasuki Musim Kemarau

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai terjadi di sejumlah wilayah Indonesia memasuki awal musim kemarau. Selain ancaman karhutla, beberapa daerah masih menghadapi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem akibat kondisi cuaca yang belum stabil. BNPB menegaskan bahwa perubahan pola cuaca pada masa transisi musim dapat meningkatkan risiko bencana secara bersamaan, baik hidrometeorologi basah maupun kering. Pemerintah daerah bersama BPBD terus melakukan pemantauan titik panas, sosialisasi pencegahan kebakaran, serta penguatan kesiapsiagaan masyarakat. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan kejadian kebakaran kepada pihak berwenang. Upaya mitigasi sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah meluasnya dampak kebakaran terhadap kesehatan, lingkungan, dan aktivitas sosial ekonomi masyarakat.

Selengkapnya:

1.     Berita/website:

https://bnpb.go.id/berita/perkembangan-situasi-dan-penanganan-bencana-di-tanah-air-tanggal-1-juni-2026   

2.     Jurnal:

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2666592125000071