Reportase
“Hybrid Webinar: Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Gempa
Dalam Rangka Memperingati 20 Tahun Gempa Jogja”
Yogyakarta, 26 Mei 2026

Dok. Pokja FK-KMK UGM
Pokja Bencana FK-KMK UGM-Yogyakarta. Pokja Bencana Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan Hybrid Seminar Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Gempa pada Selasa (26/5) dalam rangka memperingati 20 tahun Gempa Yogyakarta 2006. Kegiatan yang berlangsung secara luring di Auditorium Gedung Tahir FK-KMK UGM dan daring melalui Zoom ini dihadiri oleh akademisi, tenaga kesehatan, jejaring Academic Health System (AHS), pemerintah daerah, serta peserta dari berbagai institusi. Acara secara resmi dibuka oleh Dr. dr. Muhammad Nurhadi Rahman, Sp.OG., Subsp.Urogin RE, selaku Asisten Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian kepada Masyarakat FK-KMK UGM. Dr. Muhammad menegaskan bahwa pengalaman Gempa Jogja menjadi pengingat penting akan perlunya membangun budaya kesiapsiagaan bencana yang berkelanjutan, berbasis ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan penguatan sistem kesehatan yang adaptif terhadap berbagai ancaman di masa depan.
Webinar dilanjutkan dengan pengantar Ketua Tim Pokja Bencana FK-KMK UGM, Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep., yang menekankan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan tanggung jawab kolektif yang harus dibangun secara berkesinambungan, bukan hanya ketika situasi darurat terjadi. Seminar ini kemudian memasuki sesi inti yang dimoderatori oleh Happy R Pangaribuan, MPH, dengan menghadirkan para narasumber dari berbagai bidang keahlian untuk memberikan perspektif komprehensif terkait ancaman gempa dan transformasi sistem kesehatan.

Pada sesi pertama, Ir. Gayatri Indah Marliyani, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM memaparkan perkembangan pengetahuan terkini mengenai ancaman sesar aktif di Daerah Istimewa Yogyakarta dan implikasinya terhadap sistem kesehatan. Ir. Gayatri menjelaskan bahwa DIY berada di kawasan tektonik aktif dengan ancaman nyata dari gempa dangkal lokal yang dapat memicu gangguan besar pada fasilitas kesehatan, akses layanan medis, hingga distribusi korban. Oleh karena itu, kajian geologi, pemetaan risiko, serta integrasi data ancaman seismik dalam perencanaan pembangunan kesehatan menjadi hal yang sangat krusial untuk membangun ketahanan wilayah.
Selanjutnya, dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD mengajak peserta merefleksikan evolusi manajemen krisis kesehatan sejak Gempa Jogja 2006. dr Hendro menyoroti bagaimana peristiwa tersebut menjadi titik balik penting dalam transformasi sistem penanggulangan bencana kesehatan di Indonesia, termasuk penguatan kelembagaan, pengembangan jejaring respons darurat, hingga integrasi pendidikan manajemen bencana dalam sistem akademik kesehatan. Menurutnya, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa respon terhadap bencana bukan hanya membutuhkan tenaga medis, melainkan juga sistem komando, koordinasi, dan pengelolaan informasi yang efektif.

Pada sesi berikutnya, dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H dari Dinas Kesehatan DIY memaparkan strategi transformasi sistem kesehatan daerah dalam menghadapi ancaman ganda, yakni potensi gempa akibat Sesar Opak dan megathrust di selatan Jawa. dr Anung menekankan pentingnya penguatan resiliensi fasilitas kesehatan melalui audit struktur bangunan, kesiapan energi dan air cadangan, penguatan sistem rujukan darurat, digitalisasi data kesehatan, serta kesiapan tim medis reaksi cepat di tingkat lokal. Sementara itu, dr. Bella Donna, M.Kes menutup rangkaian materi dengan menyoroti pentingnya kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, masyarakat, sektor swasta, dan media dalam membangun sistem manajemen krisis kesehatan yang tangguh, responsif, dan adaptif di era modern.
Melalui webinar ini, FK-KMK UGM menegaskan komitmennya untuk terus mendorong penguatan kesiapsiagaan bencana berbasis ilmu pengetahuan, pengalaman lapangan, dan kolaborasi lintas sektor. Refleksi 20 tahun Gempa Jogja menjadi pengingat bahwa bencana memang tidak dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui sistem kesehatan yang tangguh, masyarakat yang siap, dan kepemimpinan yang responsif. Sejalan dengan semangat kegiatan ini, pesan yang terus digaungkan adalah bahwa dari Jogja kita belajar, untuk Indonesia kita bersiap.
Reporter: Vina Yulia Anhar, SKM, MPH (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK FK-KMK UGM)
SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

