Jakarta-Humas BRIN. Pengetahuan lokal yang hidup dalam manuskrip kuno, tradisi lisan, dan ritual komunitas menyimpan potensi besar sebagai fondasi mitigasi bencana yang efektif. Hal ini disampaikan Fakhriati, Peneliti Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PRMLTL) Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR ARBASTRA) BRIN, dalam Webinar Update Sumatera #8: Resiliensi, Eko-Teologi dan Citizen Science Pascabencana, yang digagas Pusat Riset Kependudukan BRIN pada Jumat (20/2) di Jakarta.
Pada kesempatan itu, Fakhriati menjelaskan bahwa dalam banyak komunitas, keputusan saat darurat tidak semata-mata dipengaruhi oleh informasi teknis, tetapi oleh bahasa, memori kolektif, dan otoritas lokal yang telah dipercaya secara turun-temurun. Namun, informasi kebencanaan sering kali berhenti sebagai pengetahuan dan belum bertransformasi menjadi perilaku yang konsisten.
“Mitigasi bencana akan efektif ketika pengetahuan—baik ilmiah maupun lokal—berubah menjadi tindakan kolektif yang dipatuhi. Di sinilah pentingnya mengintegrasikan pengetahuan lokal dengan riset ilmiah melalui pendekatan citizen science, yang menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai subjek dan aktor utama dalam kesiapsiagaan bencana,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa pengetahuan lokal hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari pepatah dan cerita rakyat, tradisi dan ritual, tanda-tanda alam, hingga naskah kuno. “Salah satu contohnya adalah manuskrip takwil gempa yang mencatat makna bencana berdasarkan waktu dan bulan terjadinya. Naskah-naskah ini menunjukkan bagaimana leluhur Nusantara membaca pola bencana dari pengalaman yang berulang,” tambahnya.
Selain itu, ia juga mencontohkan tafsir gempa yang terjadi pada waktu tertentu—seperti subuh atau asar—yang dimaknai sebagai pertanda perubahan sosial atau perpindahan alam. Dalam konteks kekinian, penafsiran tersebut dapat dipahami sebagai indikasi ketidakstabilan sosial atau fenomena seperti likuifaksi. Meski bukan prediksi ilmiah, pengetahuan semacam ini berfungsi sebagai perangkat kewaspadaan dan disiplin kolektif.
Selain manuskrip, tradisi lokal seperti smong di Simeulue menunjukkan bagaimana memori kolektif mampu menyelamatkan banyak nyawa saat tsunami. Tradisi penolak bala dan ritual komunitas juga berperan dalam membangun solidaritas dan kepedulian lingkungan sebagai pilar resiliensi sosial.
Dalam penelitiannya, Fakhriati juga mengangkat contoh Majelis Bersila di komunitas Betawi Jakarta, yang membangun kesiapsiagaan bencana melalui jejaring majelis taklim. Hubungan guru–murid dan interaksi antarmajelis membentuk sistem solidaritas yang memperkuat ketangguhan komunitas.

