Jakarta-Humas BRIN. Resiliansi, eko-teologi, dan citizen science pascabencana merupakan pendekatan terpadu untuk memperkuat mitigasi bencana. Resiliansi membangun kapasitas masyarakat agar mampu beradaptasi dan lebih siap menghadapi risiko di masa depan, eko-teologi memberikan landasan etis dan spiritual tentang tanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Sementara itu, citizen science melibatkan warga dalam pemantauan dan pengelolaan risiko berbasis data. Integrasi ketiganya menghasilkan mitigasi bencana yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga partisipatif, berkelanjutan, dan berorientasi jangka panjang.
Pendekatan tersebut mengemuka dalam Weekly Webinar Series – Update Sumatera ke-8 bertema "Resiliansi, Eko-Teologi, dan Citizen Science Pascabencana" yang diselenggarakan Pusat Riset Kependudukan BRIN, Jumat (20/2), di Jakarta. Sejumlah pemangku kepentingan hadir untuk membahas penanganan pengungsi, relokasi, serta solusi jangka panjang pascabencana.
Pada kesempatan itu, Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN, Ali Yansyah Abdurrahim, menegaskan bahwa ekoteologi bukan sekadar wacana normatif, melainkan fondasi moral dalam mitigasi dan pemulihan bencana.
“Kesadaran bahwa alam adalah ciptaan Tuhan yang harus dijaga melalui prinsip keseimbangan dan keadilan menempatkan manusia sebagai penjaga harmoni ekologis. Dalam konteks ini, mitigasi bencana menjadi bagian dari tanggung jawab etis dan spiritual,” tegas Ali.
Ia juga mengingatkan bahwa pemulihan pascabencana harus bersifat holistik. Trauma, menurutnya, bukan hanya luka fisik dan psikis manusia, tetapi juga luka pada ekosistem.
“Restorasi lingkungan, penguatan praktik keagamaan yang membangun harapan, serta pendekatan berbasis komunitas menjadi bagian penting dari proses penyembuhan bersama,” jelasnya.
Lebih jauh, Ali menegaskan kembali kekuatan pengetahuan lokal dan memori kolektif dalam menghadapi bencana. Tradisi lisan, ritual, simbol budaya, serta sistem tanda alam sering kali lebih efektif dalam menggerakkan respons cepat dibandingkan sistem formal yang kaku. Ketika kearifan lokal diintegrasikan dengan teknologi modern, sistem peringatan dini menjadi lebih relevan secara sosial dan lebih diterima oleh masyarakat.
Ia juga menyikapi konsep citizen science yang membuka ruang baru dalam demokratisasi pengetahuan. “Warga tidak lagi diposisikan sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai subjek pengamat lingkungan, pengumpul data, sekaligus aktor utama dalam sistem mitigasi risiko,” ujarnya.
Ali juga menegaskan bahwa efektivitas mitigasi bencana akan tercapai ketika pengetahuan mampu berubah menjadi perilaku yang konsisten.
“Dengan memadukan ekologi, pengetahuan lokal, riset ilmiah, serta partisipasi warga, kita tidak hanya membangun ketahanan fisik, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial dan spiritual masyarakat dalam menghadapi tantangan di masa depan,” pungkasnya.

