
Salam Jumpa Bapak/Ibu Pemerhati Manajemen Bencana Kesehatan. Edisi Minggu ini kami sajikan beberapa Artikel/ Jurnal/ Berita dan Agenda sebagai berikut.
Pengantar Website Bencana | Edisi : 13 Juli 2026
Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali mengalami erupsi dengan kolom abu vulkanik mencapai sekitar 1,5 kilometer di atas puncak pada Minggu (19/7). Aktivitas vulkanik ini menegaskan bahwa masyarakat di sekitar gunung masih menghadapi risiko paparan abu vulkanik, yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata, serta menurunkan kualitas udara, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis. Selain berdampak pada kesehatan masyarakat, erupsi juga berpotensi mengganggu akses pelayanan kesehatan dan proses evakuasi apabila aktivitas gunung meningkat.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mendominasi kejadian bencana di Indonesia seiring meningkatnya kondisi cuaca kering pada musim kemarau. Berdasarkan laporan BNPB, karhutla terjadi di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, yang menghanguskan sekitar tiga hektare lahan dan berhasil dipadamkan oleh tim gabungan. Meskipun skala kejadian masih terbatas, karhutla berpotensi berkembang menjadi krisis kesehatan apabila menghasilkan kabut asap yang meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, serta memperburuk penyakit pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis. Dalam perspektif manajemen bencana kesehatan, upaya deteksi dini, pemadaman cepat, serta perlindungan masyarakat dari paparan asap menjadi langkah penting untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih luas. Penelitian juga menunjukkan bahwa paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan berkaitan dengan peningkatan gangguan pernapasan dan beban pelayanan kesehatan, sehingga kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana dan krisis kesehatan.
Bencana tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga dapat memicu krisis kesehatan yang berdampak lebih besar pada perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Oleh karena itu, manajemen bencana kesehatan memerlukan data yang mampu mengidentifikasi siapa yang paling berisiko agar layanan kesehatan, evakuasi, logistik medis, dan pemulihan dapat direncanakan secara tepat sasaran. Sejalan dengan hal tersebut, BNPB tengah memfinalisasi studi penduduk terpapar bencana dengan mengintegrasikan data berdasarkan jenis kelamin, usia, dan status disabilitas (Sex, Age, and Disability Disaggregated Data/SADDD) sebagai dasar penyusunan kebijakan penanggulangan bencana yang lebih inklusif dan berbasis bukti. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat pengambilan keputusan dalam setiap fase manajemen bencana kesehatan, mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa pemanfaatan data terpilah mampu meningkatkan efektivitas respons kesehatan, mengurangi kesenjangan akses layanan, serta memperkuat ketahanan sistem kesehatan dalam menghadapi bencana di masa mendatang.
Halo Sejawat dan Penggiat Manajemen Kebencanaan Kesehatan,
Dalam upaya terus meningkatkan kapasitas, resiliensi, dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai krisis kesehatan di Indonesia, Divisi Manajemen Bencana Kesehatan kembali menghadirkan rangkaian agenda ilmiah dan pelatihan sepanjang 2026. Mulai dari refleksi penanganan bencana masa lalu, pembahasan kebijakan berbasis bukti (evidence-based), hingga pelatihan teknis di lapangan, kami berkomitmen untuk menyediakan ruang belajar yang komprehensif. Rangkaian kegiatan ini dikemas dalam berbagai metode, mulai dari webinar, seminar, kegiatan luring (tatap muka), hingga bimbingan teknis (Bimtek).
Reportase

PKMK-Yogyakarta-Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan Webinar Series Resiliensi Fasilitas Kesehatan Seri 2 dengan tema “Struktur Organisasi dan Uji Aktivasi Sistem” pada Selasa (2/6/2026) secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan kapasitas fasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadapi berbagai ancaman bencana dan krisis kesehatan. Webinar menghadirkan tiga narasumber yang membahas aspek penting dalam membangun kesiapsiagaan operasional rumah sakit, mulai dari struktur organisasi saat bencana, pembentukan Emergency Medical Team (EMT), hingga perencanaan simulasi bencana dan krisis kesehatan.
Buku pedoman bantuan hidup dasar dan pertolongan pertama pada kegawatdaruratan sehari-hari dapat diakses melalui : DOWNLOAD DOKUMEN