logo2

ugm-logo

Blog

Less need for UN on ground as disaster response in Pakistan improves

Flood victims carry their belongings to safe places. — AFP/File

BANGKOK: The changing response to natural disasters by civil society groups and the government has reduced the need for an on-the-ground presence of the United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) in Pakistan and some other Asian countries.

Outgoing head of OCHA's Asia-Pacific Bangkok office Oliver Lacey-Hall said of Pakistan and Thailand, “We're seeing this kind of changing regional environment, which means there is less requirement for OCHA to be 'on the ground' in those countries."

Major disasters such as floods in Thailand and Pakistan, and the Indian Ocean and Japan tsunamis, galvanised governments and civil society groups to make their countries more resilient.

About a decade ago, before the Japanese tsunami, many countries in the region did not have natural disaster management authorities, he said, and OCHA used to go into disaster-hit countries and coordinate humanitarian aid themselves.

Lacey-Hall said he recently told Indonesia's national disaster management authority:

“Our sense is that you don't need us in the way that you did before." Answer? "Absolutely, we don't," he told the Thomson Reuters Foundation in an interview.

After a decade of responding to massive floods, storms and earthquakes, the UN is downsizing its humanitarian staff in some Asian countries where governments have stepped up with funds and manpower .

The UN OCHA says it will close in Papua New Guinea this month and Sri Lanka by the end of the year, while “radically downsizing” in Indonesia, said Lacey-Hall.

It will, however, maintain its regional office in Bangkok to help governments prepare for disasters and support coordination of assistance after disaster strikes.

“If we have a large-scale disaster in this region ─ as you saw in Nepal ─ boom, we're in there. And we provide that support fairly rapidly,” Lacey-Hall said.

OCHA's Nepal office, which was meant to close this week, was scaled up from one person to more than 30 after the earthquakes in April and May.

Aktivitas Gunung Raung Meningkat, Satgas Bencana Polda Jatim Bersiaga

Aktivitas Gunung Raung Meningkat, Satgas Bencana Polda Jatim Bersiaga

Gunung Raung tertutup awan putih terlihat dari Dusun Gayasan, Desa Gunung Malang, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, Senin (29/6/2015

SURABAYA - Meningkatnya aktivitas Gunung Raung memaksa Polda Jatim menyiagakan Satgas Bencana untuk mengantisipasi hal-hal terkait peningkatan aktivitas gunung api di Kabupaten Bondowoso tersebut.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuono menjelaskan, Satgas Bencana yang sudah disiagakan terdiri dari Satgas Bencana di Polres Bondowoso dan lima polres sekitar gunung. Serta Satgas Bencana dari Dit Sabhara Polda Jatim.

"Koordinatornya langsung Direktur Sabhara Polda Jatim. Pasukan di Sabhara masih standby dan jumlahnya masih menunggu penyesuaian kebutuhan. Sementara di masing-masing polres disiagakan satu pleton pasukan," ungkap Argo usai upacara kenaikan pangkat di Polda Jatim.

Saat ini, yang paling aktif adalah Satgas Bencana Polres Bondowoso.

Selain memantau perkembangan aktivitas gunung, juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait.

Sementara satgas di lima polres sekitar masih sebatas siaga, sewaktu-waktu dibutuhkan langsung merapat ke lokasi yang ditentukan.

Demikian halnya dengan Satgas Bencana di Dit Sabhara Polda Jatim.

Selain menyiagakan pasukan, Polda Jatim juga mulai menyiapkan peralatan penanggulangan bencana yang dimiliki.

Petugas dan peralatan itu statusnya on call, sewaktu-waktu dibutuhkan mereka langsung berangkat ke lokasi bencana.

sumber: TRIBUNNEWS.COM

UGM Adakan Studi Banding Kebencanaan di Selandia Baru

| Foto/ugm

YOGYAKARTA - UGM bekerjasama dengan GNS Science mengadakan studi banding kebencanaan bagi pemerintah daerah, DPRD, dan universitas mitra ke Selandia Baru, 6-18 Juni 2015 lalu. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Kegiatan Strengthening Indonesian Resilience: Reducing Risk from Disaster (StIRRRD) yang didukung oleh Kementerian Luar Negeri dan Perdangangan (MFAT) Selandia Baru.

Kegiatan ini dipimpin langsung Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni UGM, Dr. Paripurna Sugarda. Beberapa instansi yang ikut dalam kegiatan ini, yaitu BPBD dan dinas terkait dari Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Bengkulu, Kabupaten Donggala dan Kota Mataram.

Sementara itu universitas mitra yang turut serta antara lain Universitas Andalas, Universitas Bengkulu, Universitas Tadulako dan Universitas Mataram. Pemerintah pusat diwakili oleh Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB, Bappenas dan Kemeterian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Ketua StIRRRD dari UGM, Dr. Teuku Faisal Fathani mengatakan bahwa hubungan baik Indonesia dan Selandia Baru akan terus ditingkatkan melalui kerja sama dalam pengurangan risiko bencana. Selama jangka waktu 5 tahun ke depan, StIRRRD akan bekerjasama dengan 10 kab/kota di 4 propinsi (Sumbar, Bengkulu, Sulteng dan NTB).

“April tahun depan UGM dan GNS Science akan kembali mengawal kunjungan selanjutnya dari Kab. Agam, Kab. Seluma, Kab. Morowali dan Kab. Sumbawa,” papar Faisal.

Ia menambahkan StIRRRD dimulai sejak tahun 2011 dengan kegiatan pilot di Kota Padang dan Kota Palu. Saat studi banding tahun 2012 lalu, Prof. Dwikorita Karnawati yang juga sebagai inisiator program ini menjadi pemimpin delegasi. Kegiatan StIRRRD berupaya meningkatkan ketangguhan pemerintah daerah dan universitas lokal dalam pengurangan risiko bencana melalui serangkaian workshop, pelatihan dan studi banding ke Selandia Baru.

“UGM mendampingi tiap-tiap daerah dalam menyusun dan mengimplementasikan rencana aksi dalam pengurangan risiko bencana,” urainya.

Studi banding kemarin dimulai dengan kunjungan ke Kota Christchurch untuk mempelajari bagaimana Selandia Baru menata kembali kota tersebut yang mengalami kerusakan hebat akibat gempa tahun 2010 dan 2011. Para pakar bencana dari berbagai institusi di Selandia Baru saling bertukar pengalaman dengan delegasi Indonesia. Banyak hal yang dipelajari meliputi penanganan pra, saat dan paska bencana.

Setelah itu kegiatan diarahkan menuju Kota Wellington untuk mempelajari bagaimana Selandia Baru membangun ketahanan dan mempersiapkan diri dalam mengantisipasi potensi bencana gempa, tsunami, longsor dan banjir di ibu kota negara yang berada di zona patahan aktif. Delegasi Indonesia juga menempuh perjalanan ke Taupo dan Rotorua untuk melihat pengurangan risiko bencana gunung api.

Dalam kunjungan ini juga diadakan jamuan makan malam dengan Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru. Acara ini dihadiri oleh GNS Science, Beca, MFAT Selandia Baru, PPI, New Zealand Indonesia Association dan lain-lain dengan suguhan musik gamelan dari warga Selandia Baru.

Dalam kesempatan ini juga diadakan penandatanganan perpanjangan MoU antara UGM dan GNS Science untuk tahun 2015-2017.  UGM diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni, Dr. Paripurna Sugarda, sedangkan GNS Science diwakili oleh Dr. Gill Jolly. Penandatanganan ini disaksikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, Jose Tavares dan Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru yang diwakili oleh Tiffany Babington.(dna/ugm)

Haru Warga Sinabung yang Sahur di Pengungsian

(Ilustrasi) Warga pengungsi makan malam di Posko Pengungsian di Gereja GBKP Kabanjahe Kota, Karo, Sumatra Utara--MI/ROMMY PUJIANTO

Jakarta: Susasana haru dirasakan oleh warga sekitar Gunung Sinabung yang terpaksa mengungsi. Warga Karo, Sumatera Utara ini terpaksa menyantap sahur di posko pengungsian.

Namun kaum ibu tetap bersatu dan tegar di tengah duka yang mereka alami. Ibadah tak berarti berhenti karena bencana.

Dini hari, sebagian ibu-ibu memanaskan makanan lebih dari santap malam para pengungsi. Sebagian lagi membangunkan para anak dan kaum bapak untuk sahur bersama.

Menikmati menu makanan seadanya di bawah atap posko pengungsian sungguh sangat menyedihkan. Air mata dari kaum ibu tampak menitik melihat anak-anak mereka harus mengantre makanan di dinginnya udara pagi.

Badan Penanggulan Bencana Daeraha (BPBD) Karo terkesan tak tanggap dengan kondisi ini. Walau sudah tiga hari dievakuasi, pengungsi jauh dari kelayakan. 

Posko jauh dari kesan cukup. Selain itu pengungsi beragama Islam juga tidak diberi kebutuhan untuk menyambut bulan puasa.

Gunung Sinabung memuntahkan lava pijar dan awan panas sejak dini hari hingga pagi hari tadi. Terjadi 32 kali guguran lava pijar dengan jarak hingga 1,5 km ke arah Tenggara.

Aktivitas seismik gunung juga masih tercatat tinggi. Saat ini gunung di Sumatera Utara ini ditetapkan dalam status Awas.
SUR

sumber: Metrotvnews.com

Tim Gabungan Dikerahkan Evakuasi Korban Longsor Pantai Sadranan

Petugas polisi dan TNI dibantu warga sedang mencoba mengevakuasi korban yang tertimbun akibat runtuhnya dinding tanah di Pantai Sadranan. Foto: Metro TV/Erwin
Yogyakarta: Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Yogyakarta, Gatot Saptadi, mengatakan telah mengirimkan tim gabungan untuk menyelamatkan para wisatawan yang tertimbun reruntuhan bukit di kawasan Pantai Sadranan, Pulegundes, Sidoharjo, Tanjungsari, Gunungkidul, Yogyakarta, Rabu (17/6/2015).

Tim gabungan itu berasal dari Search and Recue (SAR) Linmas, SAR Yogyakarta, BPBD Yogyakarta, BPBD Gunungkidul, Polres Gunungkidul, dan relawan. "Pasukan sudah di lapangan. Kami harap tim tidak bisa terpisah dan bergabung jadi satu komando," ucapnya ketika dihubungi Metrotvnews.com.

Pihaknya belum bisa memastikan kondisi korban yang terkena reruntuhan. Berdasarkan info yang dihimpun, setidaknya ada sebanyak 15 orang yang tertimbun. Hanya saja, Gatot tak bisa memastikan bagaimana kondisi korban. "Tidak mudah menggeser batu besar. Tim akan fokus evakuasi korban," katanya.

Saat ini, katanya, tim masih mendiskusikan dengan Polres setempat terkait tindak lanjut evakuasi. Sebab, peralatan yang dibawa masih sebatas alat manual untuk memecah batu. Selain itu, tim telah menyertakan alat penerangan lantaran kondisi akan gelap.

"Tim berangkat dengan alat yang dipunyai. Jika kondisi di lapangan sulit, sangat memungkinkan akan memakai alat berat," ungkapnya.

Gatot menambahkan pihaknya terus memantau perkembangan proses evakuasi. "Jika memang butuh alat berat diambilkan kemungkinan yang terdekat dan tercepat," ujarnya.
UWA
 
sumber: Metrotvnews.com,