logo2

ugm-logo

Blog

Gempa 7,4 SR Guncang Papua Nugini, Ada Peringatan Tsunami

Gempa 7,4 SR Guncang Papua Nugini, Ada Peringatan Tsunami Port Moresby - Gempa bumi berkekuatan 7,4 Skala Richter (SR) melanda wilayah Papua Nugini. Peringatan tsunami dikeluarkan untuk wilayah sejauh 300 kilometer dari pusat gempa, namun diperkirakan tidak bersifat menghancurkan.

Disampaikan Survei Geologi AS (USGS) seperti dilansir Reuters, Selasa (5/5/2015), pusat gempa berada di lokasi sejauh 150 kilometer dari kota Rabaul, Papua Nugini. Gempa tercatat terjadi sekitar pukul 01.40 GMT di kedalaman 63 kilometer dari permukaan laut.

Gempa ini awalnya tercatat berkekuatan 7,5 SR namun kemudian diturunkan menjadi 7,4 SR. 

Secara terpisah, Pusat Peringatan Tsunami Pasifik mengeluarkan peringatan tsunami. Namun diperkirakan tidak akan ada tsunami yang bersifat merusak dan meluas ke wilayah Pasifik. Diperkirakan tsunami tidak akan mencapai wilayah Hawaii.

Pemilik Hotel Rabaul di Rabaul, Susan McGrade menuturkan kepada Reuters, gempa bumi ini terasa kuat di wilayah tersebut. Bahkan dilaporkan air yang ada di kolam renang ikut bergelombang. 

Namun demikian, sejauh ini belum ada laporan kerusakan di wilayah tersebut.

Gempa bumi ini merupakan yang terbaru dari rangkaian gempa bumi yang melanda wilayah Papua Nugini dalam beberapa hari terakhir. Pada Jumat (1/5) lalu, gempa berkekuatan 7,1 SR melanda wilayah yang berjarak 110 kilometer barat daya kota Kokopo. 

Sehari sebelum itu, atau pada Kamis (30/4), gempa berkekuatan 7,7 SR membuat panik warga di lepas pantai dekat Papua Nugini dan Kepulauan Solomon diminta tetap waspada. Gempa tercatat terjadi di 54 kilometer dari kota Kokopo Panguna di Pulau New Britain, dengan kedalaman sekitar 65 kilometer.

sumber: detik

Erupsi Sinabung Patut Jadi Bencana Nasional

 Medan. Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai, erupsi Gunung Sinabung patut dijadikan bencana nasional. Dengan begitu, ada political will dari pemerintah pusat untuk menganggarkan dana dalam APBN untuk penanganan bencana secara komprehensif dan berkesinambungan.

"Ada beberapa opsi metode penanganan bencana Sinabung. Jadi bencana nasional, atau bencana lokal tapi ada komitmen dana untuk rekonstruksi lewat APBN atau perlu dibentuk semacam badan rehabilitasi dan rekonstruksi bencana Sinabung," kata Fahri Hamzah.

Fahri mengatakan itu dalam rapat koordinasi dengan Gubsu Gatot Pujo Nugroho, di Kantor Gubsu, Medan, Senin (4/5). Rapat dihadiri Sekda Kabupaten Karo Seberina, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan tokoh masyarakat Karo Arya Sinulingga.

Dari sisi DPR RI, Fahri mengaku siap memfasilitasi dan berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar lebih memokuskan penanganan bencana erupsi Sinabung. Sekarang, yang dibutuhkan rekomendasi dari pemerintah kabupaten dan provinsi. Rekomendasi itu ditujukan ke pemerintah pusat agar menetapkan bencana Sinabung menjadi bencana nasional.

Seperti yang dikatakan Gubsu, katanya, jangan dilihat bencana erupsi Sinabung ini dari sisi korban jiwa sehingga baru bisa ditetapkan skala bencananya. Tapi, efeknya berkepanjangan dan setiap hari dirasakan.

Apalagi, paparnya, sejumlah ahli vulkanologi mengaku tidak tahu pasti kapan berakhirnya bencana ini. Bencana ini telah merusak pertanian masyarakat. Padahal, pertanian merupakan pencarian utama masyarakat di sana.

Gubsu Gatot Pujo Nugroho mengaku, penanganan bencana erupsi Sinabung memang seharusnya ditanggulangi secara komprehensif pemerintah pusat. Soalnya, daerah sudah tidak mampu berbuat banyak karena keterbatasan anggaran.

"Dulu sewaktu masa Presiden SBY, kita usulkan agar masuk menjadi bencana nasional. Namun, BNPB ketika itu menilai kriterianya tidak bisa dikatakan sebagai bencana nasional karena melihat minimnya korban jiwa," sebut Gubsu.

Ternyata, lanjutnya, letusan Sinabung kedua mulai 15 September 2013 hingga kini masih kerap terjadi. Hal ini sangat mengganggu sistem perekonomian di Sumatera Utara terlebih lagi di Kabupaten Karo sendiri.

"Soalnya, lahan pertanian rusak sehingga mengganggu mata pencarian utama masyarakat Karo," ucap Gubsu.

Seberina menambahkan, bantuan rumah 50 unit sudah selesai dan ditambah lagi 53 unit yang sedang finishing. Rencananya akan diserahkan ke masyarakat.

Namun, paparnya, masyarakat masih belum bisa menempatinya karena belum adanya fasilitas umum. "Tahap dua, akan dibangun rumah untuk 1.683 kepala keluarga untuk relokasi warga empat desa," jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, masyarakat yang di atas radius 3- 10 kilometer juga terdampak erupsi Sinabung. Mereka juga patut diperhatikan. Soalnya, lahan pertanian mereka tidak bisa berproduksi efektif.

"Termasuk juga anak sekolah. Dulu, ada disiapkan bus, sekarang tidak lagi," ungkapnya.

Arya Sinulingga menilai, sejauh ini belum ada konsep pemerintah untuk penanggulangan bencana erupsi Sinabung secara berkesinambungan. "Padahal, tidak ada peraturan khusus soal penetapan bencana nasional atau tidak," tegasnya.

Khusus untuk bencana Sinabung, lanjutnya, seharusnya bisa dibuat seperti transmigrasi, hanya saja, relokasi warga tidak keluar daerah. Program idealnya, sewa rumah dan isinya serta lahan pertanian sampai relokasi dilakukan.

"Kemudian, jaminan hidup Rp 3,5 juta per KK per bulan seperti sistem transmigrasi, bukan hanya Rp 6.000 per orang per hari selama tiga bulan.

Bantuan pertanian diberikan sampai relokasi. Masyarakat dimasukkan sebagai peserta KIS (Kartu Indonesia Sehat), KIP (Kartu Indonesia Pintar) dan KKS (Kartu Keluarga Sejahtera)," sebutnya.

Selain itu, tambahnya, perlu juga pemberian beasiswa full untuk perguruan tinggi. Karena, kita melihat pasca erupsi, 70% pemuda Karo tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Mereka hanya mampu di kisaran diploma tiga.

"Kita sedang mengupayakan agar 800 pemuda Karo mendapat beasiswa full di perguruan tinggi," jelasnya. ( ramita harja)

sumber: medanbisnisdaily

Tim SAR Dog Jakarta Rescue Temukan Mayat di Reruntuhan Bangunan

 Dharmastali, - Tim SAR Dog Jakarta Rescue (SDJR) berhasil menemukan mayat yang terkubur reruntuhan bangunan di Dharmastali, Khatmandu, Nepal. Tim melakukan penyisiran dengan mengerahkan dua ekor anjing bernama Alfa dan Delta.


Tim SDJR sebelumnya sempat melakukan penyisiran di Dharmastali pada Sabtu (2/5). Namun karena tim SAR dari negara lain juga melakukan pencarian di lokasi yang sama, maka tim SDJR urung bekerja.

"Kita nggak bisa kalau sudah ada tim lain di lokasi terus ikut menyisir. Itu nggak boleh," ujar Kepala Tim SDJR Hadianto Warjaman di Dharmastali, Nepal, Selasa (5/5/2015).

Dalam pencarian, anjing bernama Delta bekerja kurang dari 10 menit. Mendadak ia menyalak saat berada di tumpukan batu bata dan kayu kemudian bergerak mundur dan kembali menggong saat maju melangkah.

"Itu ada mayat sepertinya. Good boy Delta!" ucap Hadianto yang akrab disapa Anto ini.

Anto menjelaskan timnya tidak bertugas mengevakuasi jasad korban. Mereka hanya meneruskan kabar penemuan mayat ke pihak yang berwenang.

"Nggak bisa kita ambil korban yang meninggal. Karena mayat itu juga udah agak lama. Selain berbahaya untuk anjing, untuk manusia juga berbahaya. Akhirnya kita kasih patok saja itu," tuturnya Dia menuturkan anjing yang dikerahkan biasanya melakukan pencarian dalam waktu maksimal 20 menit. Ada sejumlah tanda yang ditunjukkan oleh anjing apabila menemukan korban yang masih hidup atau tewas.

"Bila anjing tersebut menggonggong 10 kali berarti ditemukan korban dalam kondisi hidup. Namun apabila anjingnya menggonggong 1 kali lalu mundur, berarti ada korban yang tewas di situ," lanjut Anto.

Sebelum anjing diterjunkan ke lokasi, tim penyisir dari SDJR lebih dulu mengecek ke lokasi untuk memastikan tidak ada tim lain yang sedang melakukan pencarian.

Anto menambahkan, tim SDJR sudah mendapatkan 3 sertifikat dari dunia ats keberhasilannya selama 20 tahun mengabdi pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sertifikat tersebut membuat tim SDJR bisa bertugas dalam misi penyelamatan bencana di seluruh dunia.

"Tanggal 18 Mei nanti tim kita akan ke Perancis untuk ikut konferensi rescue," ujar Anto.

Canada sending full Disaster Assistance Response Team to Nepal

Nepal, DART, Canada

The federal government says Canada's Disaster Assistance Response Team will be deployed immediately to earthquake-stricken Nepal.

Officials say DART members from Canadian Forces Base Trenton will be heading to Nepal, along with civilian political and humanitarian personnel from Foreign Affairs.

The day after last week's earthquake, Canada deployed the Interdepartmental Strategic Support Team, followed by DART members to assess the situation in Nepal.

The assessment team delivered its recommendations on Friday, including that additional elements of DART should support the relief efforts.

DART is an element of Canada's response to natural disasters abroad that provides water purification, primary medical care, and engineering help.

source: cp24

Gempa Nepal, Tinggal Enam WNI yang Belum Ditemukan

Gempa Nepal, Tinggal Enam WNI yang Belum Ditemukan

Jakarta - Enam orang warga negara Indonesia (WNI) masih belum ditemukan di Nepal setelah gempa melanda negara itu pada Sabtu, 25 April 2015 lalu. "Pencarian WNI yang berada di Nepal masih dilakukan oleh Tim Indonesia Peduli Nepal," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Ahad, 3 Mei 2015 pagi.

WNI yang melakukan kunjungan di Nepal sebanyak 66 orang. Sebanyak 23 orang telah diketahui dalam keadaan baik, sedangkan 38 orang sudah berada diluar Nepal.

Adapun para WNI, baik yang menetap di Nepal maupun pengunjung saat terjadi gempa di Nepal berdasarkan laporan Tim Indonesia Peduli Nepal, adalah Diah Ismaya Sandrasari,
Winarti Karyono, Samini, Evi Nurlaila Ana, Fitri Rosdiana BT Rusdi Jumiah, Aprieri Dwi Sagita Putri, Maya Apriyani, Ariani Hasanah Soejoti, Wayan Sudarmiati Kushle, Maria E. Putuhena, Purwanti, Ni Komang Widiasih, Raina Salim Mukhsin, Hatoun Ahmed Abelhay, Ahmed Muhammed Albehay, Painah, Desti Rachmawati, Natasha Rai, Maryatun Tomang, Tri Wahyuni, Freddy Lawrens Halomoan Hutabarat (berada di Jakarta), Grace Liasta Tarigan (berada di Jakarta), Ni Putu Purniawati (berada di Dubai), Ari Isyanawati, Toyibah, Anita Huet, Sofiya Buni/Buniati, Ziana Gurung, Kristina Binti Sukardi, dan Maryati.

Sebanyak 23 WNI yang berkunjung dan telah dapat dihubungi dalam keadaan baik adalah Tessy Ananditya, Sapta Hudaya, Nuri Arunbiati, Ong Kim Han, Yanti, Cecilia Enny, dr Meinardi Mastur, dr Ahmad Novel, dr Prabudi, dr Eko Prasetyo, Kusumorini Susanto, Ayomi Amindoni, Erikodiony Ariessa Wahyudi, Tjerah Leonardo, Lily Leonardo, Oliver Hancock,.Familia Novita, Rainul Pria, seorang teman dari Rainul Pria, Al Safari, Ananda Paulina Laslani Gharti, Ahza Gharti B, dan Cheryl Winnie Kwandy.

Di lain pihak, lima WNI yang sedang berkunjung serta belum dapat dihubungi adalah Alma Parahita (koordinat diketahui, tapi belum dapat dikontak), Kadek Andana (koordinat diketahui, tapi belum dapat dikontak), Jeroen Hehuwat (koordinat diketahui, tapi belum dapat dikontak), Dewi Pancaringtyas Asih, Meliana Tamo Ina, serta Parsiah Majudi. Semuanya belum bisa dihubungi.

Adapun 38 WNI yang berkunjung dan sudah berada di luar Nepal, termasuk di Jakarta, adalah Yospina Opang, Gama Imamy Gunadi, Lewis Cassidy, Hafid Zulkarnaen, Hendry Renaldo, Rudianto Utomo, Dhimas Anggakara, Fadli Andrian, Ardyan Hafizh, Sutansyah Marahakim, Yulia Suparti, Gregorius Endrianto, Martin Dody Kumoro, Nuryadi Budianto, Nike, Indra, Lucia Nancy, Agustina Soleh, Virgo Dirgantara, Handri Ramdhani, Nicko Ronny, Dewi Wirawan, Acah.

WNI yang kini berada di Bandung adalah Muhammad Insan Kamil, sedangkan lima orang di Pekan Baru adalah Pramudyana Agus Harlianto, Aryuni Masudah, Rauf Abror Pramudyana, Rais Hafidz Pramudyana, dan Dzakiyya Amira Pramudyana.

Lainnya di Medan: Ahmad Taufan Damanik, Esther Indriani, Laura Andriani Hukom, Veronica Dhiana Anggraeni, Emmy Lucy Smith. Di Singapura, Vicky Ardianto. Bali, Ni Luh Putu Sri Purna Widari. Samarinda, Mokhammad Fadlie, dan dari Yogyakarta Mohamad Eko Prayogo.

WNI yang sudah berada di Posko Pencarian dan Evakuasi WNI di Nepal adalah Cecilia Enny Yashita Aprijanti, dr. Meinard Mastoer, dr. Achmad Novel, dr. Prabudi, dr. Eko Prasetyo, Virgo Dirgantara, Handri Ramdhani, Nicko Ronny Gardano, Ayomi Amindoni, Tessy Ananditya, Sapta Hudaya, Oliver Hancock, Familia Novita

Rencana WNI akan dievakuasi pada Selasa, 5 Mei 2015 lusa menumpang pesawat Boeing 737 TNI AU dari Nepal ke Halim Perdanakusumah Jakarta.

sumber: tempo

SUPRIYANTHO KHAFID