logo2

ugm-logo

Kedua di Luar China, Pasien Corona Meninggal di Hong Kong

Kedua di Luar China, Pasien Corona Meninggal di Hong Kong

Jakarta, CNBC Indonesia - Virus corona kembali memakan korban jiwa di luar China daratan. Pada Selasa (4/2/2020), Hong Kong melaporkan satu kematian akibat virus yang berasal dari Wuhan, China ini.

Ini menjadikan Hong Kong sebagai wilayah di luar daratan China kedua yang melaporkan kasus kematian akibat coronavirus. Sebelumnya, , pertama di luar China daratan, pada Minggu.

Korban tewas di Hong Kong merupakan seorang pria berusia 39 tahun. Pria itu telah melakukan perjalanan ke Wuhan pada 21 Januari dan kembali ke Hong Kong dua hari kemudian.

"Ia baru dirawat di rumah sakit 31 Januari," kata otoritas kesehatan, sebagaimana dilaporkan The Washington Post, Selasa. Otoritas kesehatan menambahkan bahwa korban meninggal memiliki riwayat penyakit.

Sebelumnya pada Senin malam waktu setempat, China kembali melaporkan ada 64 kematian baru akibat virus yang mirip penyebab penyakit SARS ini. Ini menjadikan menjadi 425 orang. Semua korban yang tewas berasal dari Provinsi Hubei, tempat kota Wuhan sumber pertama virus berasal, tulis AFP.

Sementara itu, jumlah kasus baru akibat wabah ini juga bertambah sebanyak 2.345 kasus, menjadi 19.000 kasus lebih di seluruh dunia.

Virus corona sendiri telah menimbulkan kekacauan di dalam Hong Kong. Warga Hong Kong dilaporkan melakukan protes dan para pekerja medis melakukan pemogokan karena Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam menolak menutup akses di perbatasan kota dengan daratan China.

Lam memutuskan untuk tetap membuka akses karena banyak warga yang tinggal di Hong Kong bekerja di daratan, dan sebaliknya.

Akibat ini, dalam sebuah pernyataan, Otoritas Rumah Sakit di sana mengumumkan bahwa layanan darurat telah terpengaruh karena sejumlah besar staf tidak bekerja.

Peringatan Dini Banjir akan Dipasang di 6 Kecamatan DKI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Subejo mengklaim sistem peringatan dini bencana berbasis digital atau disaster warning system (DWS) dipasang guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam mengantisipasi bencana. BPBD DKI Jakarta akan mengadakan enam set alat DWS dengan anggaran senilai Rp4,073 miliar pada tahun ini.

Keenam set alat tersebut akan dipasang di enam kelurahan yang rawan banjir, yakni Marunda, Rawa Terate, Cengkareng Barat, Bukit Duri, Kebon Baru, dan Kedaung Kali Angke. "Itu (DWS) untuk memberi peringatan kepada masyarakat sekitar agar waspada dan bersiap-siap (mengungsi), sehingga kerugian bisa diminimalisir," kata Subejo saat dihubungi di Jakarta, Ahad (19/1).

"Alat ini tidak dimaksudkan untuk mencegah datangnya banjir, namun mengingatkan masyarakat untuk bersiap mengungsi dan menyelamatkan barang atau dokumen berharga agar tidak terdampak banjir," ujarnya.

Meskipun telah dilakukan pemetaan lokasi pemasangan alat DWS, namun BPBD DKI Jakarta masih akan melakukan kajian dengan melihat kondisi banjir 2020. "Kami akan kaji kembali secara komprehensif tentang sistem peringatan dini untuk antisipasi kejadian bencana, termasuk DWS sebagai salah satu sarana sistem tersebut," ujar Subejo.

Tiap alat DWS memiliki empat pengeras suara yang dipasang pada satu tiang tinggi dan terhubung langsung dengan sistem di Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BPDB DKI Jakarta. Dengan menggunakan teknologi VHF digital radio, maka radius jangkauan bunyi dapat terdengar hingga jarak 500 meter.

Saat tinggi muka air bendungan mencapai siaga 3, maka alat DWS secara otomatis akan mengeluarkan bunyi sebagai peringatan akan potensi terjadinya banjir. Tak hanya alat DWS, BPBD DKI Jakarta juga telah menyiapkan beberapa cara untuk menyebarluaskan peringatan bencana mulai dari pesan berantai yang dikirim ke grup-grup Whatsapp kelurahan hingga imbauan petugas yang turun langsung ke lapangan.