logo2

ugm-logo

Ridwan Kamil Imbau agar Masyarakat Tak Termakan Hoaks Bencana

Liputan6.com, Jakarta Kabar hoaks seringkali meluas saat bencana baik di media sosial maupun broadcast. Tak ayal, kabar hoaks yang belum tentu terbukti kebenarannya membuat masyarakat gelisah dan resah.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menanggapi soal adanya informasi simpang siur bencana, seperti pasca erupsi Gunung Tangkuban Parahu. Informasi yang tersebar memicu kepanikan masyarakat.

"Buat masyarakat, sebaiknya menahan diri, jangan menyebarkan informasi yang dramatis. Kita masing-masing memang punya media sosila. Kalau mau tahu lebih jelas, fokus mencari sumber informasi bencana dari akun resmi kebencanaan, bukan dari akun pribadi media sosial orang lain," ujar Kang Emil, sapaan akrabnya dalam tayangan video yang diperoleh Health Liputan6.com, Selasa (30/7/2019).

Dalam hal ini, Ridwan Kamil mengimbau, masyarakat selalu merujuk informasi pada lembaga yang resmi, seperti pemerintah daerah atau lembaga kebencanaan.

Hingga hari ini, Selasa (30/7/2019) Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu masih ditutup oleh pihak pengelola. Penutupan kawasan dititikberatkan pada aspek keselamatan manusia.

"Yang terbaik untuk semua orang soal bencana adalah keselamatan manusia," ujarnya.

Evaluasi Jalur Evakuasi

Kang Emil juga menyampaikan, pihaknya akan mengevaluasi terkait jalur evakuasi dan sistem standard operating procedure (SOP) untuk mengantisipasi ancaman bahaya erupsi.

"Jalur evakuasi akan dievaluasi. Hari ini akan melihat secara langsung di lapangan. Jalur dan sistem SOP akan dibahas. Apabila sudah mendapatkan informasi lengkap akan dibahas esok," terangnya.

Menyoal berlakunya penutupan kawasan wisata sekitar Gunung Tangkuban Parahu, lanjut Kang Emil, pascaerupsi tersebut berpengaruh pada tiga dimensi, yaitu lingkungan, sosial dan ekonomi. Dari sisi pedagang, Ridwan meminta mereka untuk menunggu berita dari pemerintah daerah setempat.

"Bagaimana yang terbaik untuk semua orang. Kita tunggu dari pemerintah," lanjutnya.

Pascaerupsi pada Jumat (26/7/2019), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih menetapkan Gunung Tangkuban Parahu pada status Level I (Normal). Gunung dengan ketinggian 2.084 m dpl. Gunung yang mengalami erupsi terjadi sekitar pukul 15.48 Wib itu terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm (overscale) dan durasi ± 5 menit 30 detik.

Bencana Banjir di Papua, 77 Tewas

Seorang bayi yang terperangkap di bawah puing-puing setelah banjir bandang menghancurkan rumahnya di Sentani, Papua telah dipersatukan kembali dengan ayahnya setelah bencana itu menewaskan seluruh anggota keluarga lainnya, kata para pejabat hari Senin, sementara jumlah korban tewas akibat bencana itu mencapai 77.

Anak berusia lima bulan itu ditemukan pada hari Minggu di bawah puing-puing di dalam sebuah rumah tempat ibu dan saudara-saudaranya ditemukan tewas di kota Sentani yang paling parah terkena bencana.

Kini bayi itu telah bersama ayahnya yang selamat dari bencana itu.

Berita itu muncul ketika Badan Nasional Penanggulangan Bencana menaikkan angka kematian resmi dari 58, sementara puluhan orang masih belum ditemukan.

Kepala Penerangan Daerah Militer Cenderawasih Kolonel Muhammad Aidi mengatakan militer telah mengerahkan lebih dari 1.000 personel untuk mencari para korban. Militer mengatakan 5.700 orang telah dievakuasi dari daerah-daerah yang terkena dampak paling parah. [lt]