logo2

ugm-logo

Potensi Banjir Hantui Warga DKI di Tengah Pandemi

Jakarta - DKI Jakarta kembali dikepung banjir di tengah pandemi virus Corona (COVID-19). Cuaca ekstrem membuat Ibu Kota kembali dihantui potensi banjir. Penanganan bencana banjir kali ini pun berbeda di tengah situasi pandemi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan saat ini wilayah Indonesia memasuki masa pancaroba. BMKG memperingatkan potensi hujan dengan intensitas tinggi di berbagai wilayah dalam satu pekan ke depan.

"Menyusul rilis BMKG untuk peringatan kewaspadaan selama pancaroba menjelang masuknya musim hujan 2020/2021 yang telah kami sampaikan pada tanggal 7 September 2020 yang lalu, perlu disampaikan kembali bahwa kewaspadaan terhadap hujan dengan intensitas tinggi tetap perlu terus ditingkatkan," kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, dalam keterangan yang diterima detikcom, Selasa (22/9/2020).

Pada massa pancaroba ini, BMKG meminta masyarakat waspada terhadap potensi hujan ekstrem, serta potensi angin kencang. "Pada masa peralihan musim ini, perlu diwaspadai potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, angin puting beliung, bahkan fenomena hujan es," sebut Guswanto.

Hujan mengguyur Ibu Kota sejak Senin (21/9). Tinggi muka air di Bendung Katulampa sempat naik hingga berstatus siaga 1. Warga DKI Jakarta pun diminta waspada.

Pada Selasa (22/9), sejumlah titik banjir muncul di jalan-jalan hingga permukiman warga. Berdasarkan data BPBD DKI Jakarta pukul 06.00 WIB, ada 63 RT yang terendam banjir, 104 warga mengungsi, dan 23 jalan di Ibu Kota dilaporkan terendam banjir. Sementara, berdasarkan data per pukul 12.00 WIB, lokasi pengungsian tinggal 1 titik di Kembangan, Jakarta Barat dengan 15 jiwa mengungsi.

Pemprov DKI Jakarta mengantisipasi banjir yang akan terjadi. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan antisipasi banjir Jakarta kali ini berbeda dan penampungan warga harus menerapkan protokol kesehatan.

"Antisipasi kita adalah satu untuk masyarakat, siapkan tempat-tempat penampungan apabila sampai mereka terkena banjir. Dan kali ini agak berbeda karena tempat penampungannya harus memasukkan protokol kesehatan COVID-19," kata Anies.

Anies mengatakan penampungan warga terdampak banjir harus menyediakan masker dan jaga jarak. Hal ini untuk menghindari penyebaran virus Corona di tengah situasi banjir.

Sementara itu, Wagub DKI Jakarta Ahmad Riza Patria meminta warga bersiap menghadapi banjir. Sejumlah lokasi pengungsian pun disiapkan, dengan jumlah dua kali lipat dan mengedepankan protokol kesehatan.

"Kami juga sudah menyiapkan titik-titik jumlah penampungan yang jumlahnya dua kali lipat karena ini masa pandemi COVID jadi kita tetep memperhatikan protokol COVID, kemudian juga jajaran kami sudah siap," katanya.

Legislator di Ibu Kota pun meminta Pemprov DKI tak setengah-setengah dalam menangani banjir. Meski saat ini kondisi serba terbatas di tengah pandemi Corona.

"Kasatpel (kepala satuan pelaksana) setiap kecamatan harus selalu sigap jika terdapat indikasi banjir. Jangan kerja setengah-setengah dalam menghadapi banjir di masa pandemi COVID ini. Cek rumah-rumah pompa yang bermasalah dan siapkan semua pompa mobile," ujar anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth dalam keterangannya, Selasa (22/9).

Menurut BMKG, Tsunami 20 Meter Hanya Butuh Waktu 20 Menit Capai Daratan

Jakarta - Ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan ada potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Pulau Jawa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan cuma butuh waktu 20 menit bagi gelombang raksasa itu untuk sampai pantai.

"Dari hasil modelling kami, di selatan Jawa kurang-lebih hanya sekitar 20 menit tsunami sudah melanda daratan," kata Kepala Pusat Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono kepada detikcom, Jumat (25/9/2020).

Di selatan Jawa, ada jalur Sunda Megathrust, yakni zona subduksi antara Lempeng India-Australia dengan Lempeng Eurasia. Sunda Megathrust merentang dari pantai barat Sumatera hingga Kepulauan Nusa Tenggara. Jarak antara Pulau Jawa dan Sumatera ke jalur megatrhust sekitar 200-250 km. Dari jalur itu, bisa terjadi gempa besar yang memicu tsunami.

Bila gempa besar dengan magnitudo (M) 9,1 terjadi di zona megathrust, 20 menit kemudian gelombang tsunami akan sampai di pantai. Masyarakat di daratan tidak bakal punya banyak waktu untuk menyelamatkan diri. Masyarakat di kawasan pesisir diimbau untuk tidak menunggu peringatan tsunami dari BMKG. Pokoknya, lari saja ke tempat aman.

"Kalau memang tinggal di dekat garis pantai, kalau merasakan guncangan yang kuat, ya, tidak usah menunggu warning, karena tidak lama kemudian kemungkinan besar tsunami akan terjadi. Begitu ada guncangan, ya lari. Kalau menunggu warning, itu artinya sudah kehilangan waktu," kata Rahmat.

Sistem peringatan dini tsunami (InaTEWS/Indonesia Tsunami Early Warning System) bakal dites pada 6 Oktober nanti, lewat gelaran Indian Ocean Wave Exercise 20 (IOWave20) pada 6 Oktober nanti. Acara itu berupa simulasi gempa bumi magnitudo (M) 9,1 dan respons sistem InaTEWS. Banyak negara yang berpotensi terkena dampak tsunami bakal terlibat.

"Namun, sebaik-baiknya peringatan dini, lebih baik adalah kesadaran masyarakat untuk segera merespons, melakukan evakuasi mandiri," kata dia.

Sebelumnya, ITB menyampaikan hasil risetnya. Tsunami diperkirakan terjadi disepanjang pantai selatan Jawa Barat hingga Jawa Timur. Riset ini juga memakai data dari BMKG dan GPS.

Peneliti ITB Sri Widiyantoro menjelaskan tsunami dapat mencapai 20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan 12 meter di selatan Jawa Timur, tinggi maksimum rata-rata 4,5 meter di sepanjang pantai selatan Jawa jika terjadi bersamaan.

Berdasarkan permodelan skenario kebencanaan yang dibikin para ilmuwan ITB, tsunami besar itu terjadi bila segmen-segmen megathrust di sepanjang Jawa pecah secara bersamaan.

More Articles ...