RMOLBengkulu. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan jumlah korban meninggal dalam bencana tsunami terus bertambah.
Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, data terbaru masuk pada Senin (31/12) pukul 13.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia mencapai 437 jiwa.
"426 sudah dimakamkan, sementara 9 jenazah belum teridentifikasi," tambah Sutopo.
Gelombang tsunami yang melanda wilayah Selat Sunda ini akibat longsornya sedimen di bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Tsunami yang menerjang pesisir selat sunda ini juga telah menyebabkan kerusakan bangunan-bangunan seperti rumah sebanyak 2.752 unit, penginapan dan warung, perahu 510, kendaraan roda 4 dan 2 sebanyak 147 unit, 1 dermaga dan 1 shelter.
Sutopo menuturkan, Pandeglang menjadi wilayah yang paling banyak terdampak akibat bencana tersebut. dikutip Kantor Berita Politik RMOL. [ogi]
Prediksi bencana alam di Indonesia tahun 2019 diungkap BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).
Prediksi bencana alam di Indonesia tahun 2019 oleh BNPB itu di antaranya seperti gempa bumi, banjir hingga tsunami.
Seperti diketahui prediksi bencana alam di Indonesia tahun 2019 yang diungkap oleh BNPB itu sangat penting sebagai informasi kepada masyarakat untuk tetap waspada dan siaga.
Bila diruntut di penghujung tahun 2018 ini Indonesia baru saja mengalami Tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12) dan menewaskan lebih dari 260 orang.
Lepas dari itu, kita mesti mafhum bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan potensi bencana alam terbesar di dunia.
Musim penghujan dan kemarau diprediksi akan bersifat normal karena tidak ada peningkatan El Nino dan La Nina yang terjadi.
Meski begitu, sebanyak 95 persen dari bencana yang terjadi diperkirakan merupakan bencana hidrologi.
Dilansir dari Kompas.com artikel berjudul 'Ini Prediksi BNPB Mengenai Bencana di Indonesia pada 2019' tayang (19/12/2018).
Berikut prediksi bencana alam di Indonesia tahun 2019, dari gempa bumi, banjir, hingga tsunami:
Bencana hidrometeorologi
Salah satu rumah warga di Kecamatan Sipungga-pungga, Kabupaten Dairi yang dihajar banjir bandang, Selasa (18/12/2018). (KOMPAS.com/TIGOR MUNTHE)
Bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang dipengaruhi oleh faktor cuaca.
Misalnya banjir dan tanah longsor saat musim hujan, atau kekeringan dan kebakaran lahan saat musim kering.
Meskipun tidak dapat dipastikan, namun bencana-bencana hidrometeorologi cenderung dapat diprediksi.
Ini dikarenakan waktu dan faktor penyebabnya berdasarkan musim yang datangnya kurang lebih dapat diperkirakan.
Banjir, longsor dan puting beliung diprediksi akan mendominasi peristiwa bencana selama 2019.
Hal ini disebabkan masih luasnya kerusakan daerah aliran sungai (DAS), lahan kritis, laju kerusakan hutan, kerusakan lingkungan, dan perubahan penggunaan lahan di lingkungan dan masyarakat.
Peta potensi tsunami di Indonesia (Suar.grid.id)
Secara spesifik, banjir dan tanah longsor akan terjadi sejak awal tahun hingga April 2019 dan di pengujung tahun saat memasuki musim penghujan.
Sementara, kebakaran hutan dan lahan diprediksi masih akan tetap terjadi.
Hanya saja, bencana ini dapat diatasi dengan lebih baik dengan kesiapan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.
Kekeringan dan kebakaran hutan ini akan banyak terjadi sekitar bulan Juni hingga Oktober saat musim kemarau tiba.
Bencana geologi
Situasi Kota Palu yang dipenuhi puing-puing bangunan akibat bencana gempa bumi, likuifaksi, dan tsunami pada akhir September 2018. ((Dok. Humas Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR))
Bencana geologi merupakan bencana yang dipengaruhi oleh faktor pergerakan di bawah bumi.
Masing-masing lempeng memiliki waktu pergerakan berbeda-beda, sehingga waktu terjadinya cenderung kurang bisa diprediksi.
Waktu terjadinya pun bisa sewaktu-waktu dalam waktu yang cepat. Misalnya, gunung meletus, gempa bumi, dan tsunami.
Kemungkinan terjadinya bencana ini tersebar sepanjang tahun di semua wilayah Indonesia, baik daratan maupun lautan. Untuk gempa bumi, tahun depan diprediksi masih terjadi.
Hal ini disebabkan sebagian besar wilayah Indonesia terletak di atas lempeng aktif yang selalu bergerak.
Namun, wilayah Indonesia bagian timur diminta untuk lebih waspada dan berhati-hati.
Sebab, di wilayah itu memiliki lempeng atau sesar yang lebih rumit dan rentan terjadi bencana.
Peta Indonesia di dalam Ruang Kemerdekaan di cawan Tugu Monas. (KOMPAS.com/JESSI CARINA)
Sementara, potensi tsunami ada jika gempa tektonik terjadi dengan kekuatan di atas magnitude 7 dan terjadi di jalur subduksi dengan kedalaman kurang dari 20 kilometer.
Terakhir, potensi bencana gunung berapi, tidak dapat diprediksi terjadinya dan masa kebencanaannya.
Ini dikarenakan masing-masing gunung berapi memiliki tipikal yang berbeda-beda.
Namun, secara keseluruhan Indonesia sudah lebih siap untuk menghadapi bencana yang mungkin datang.
Ini dapat dilakukan dengan perbaikan berbagai sistem dan pengetahuan, juga kesiapsiagaan masyarakat yang lebih terlatih saat bencana menerpa.
Hoax menghantui bencana di Indonesia
Kendati bencana bisa diprediksi dan kesiapsiagaan masyarakat yang bisa dilatih saat bencana menerpa, namun menurut Kepala BNPB Willem Rampangilei Hoax masih "menghantui" bencana di Indonesia.
"Hoaks ini selalu saja ada di dalam setiap kejadian bencana," ujar Kepala BNPB Willem Rampangilei saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (19/12/2018) dikutip dari Kompas.com
Padahal, Willem menegaskan, hoaks memiliki dampak besar secara ekonomi. Bahkan, hoaks dikatakannya, juga dapat menghambat penanganan bencana.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (19/12/2018). ((KOMPAS.com/Devina Halim))
"Akibat dari hoaks sangat berpengaruh terhadap penanganan bencana," ujarnya.
"Yang lebih dari itu, menimbulkan rasa teror, rasa cemas, rasa takut karena hoaks ini," sambung dia.
Willem pun mencontohkan saat erupsi Gunung Agung di Bali, yang terjadi selama periode medio 2017 hingga 2018.
Saat itu beredar hoaks yang menyebut Gunung Agung akan meletus seperti tahun 1963.
Implikasinya, wisatawan Bali berkurang sebanyak 1 juta orang dan menimbulkan kerugian di sektor pariwisata sebesar Rp 11 triliun.
Hoaks juga menyebar saat bencana gempa bumi yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dampak dari hoaks itu adalah membludaknya jumlah orang yang ingin dievakuasi.
Willem menyebutkan, sekitar 8.000 orang meninggalkan wilayah tersebut.
Padahal, pada awalnya disebutkan bahwa tim hanya akan mengevakuasi sekitar 1.000 orang.
BNPB mencatat, kerugian materiil pada sektor pariwisata akibat beredarnya hoaks saat bencana di Lombok mencapai Rp 1,4 triliun dan mengurangi kunjungan wisatawan sebanyak 100.000 orang.
Untuk itu, Willem pun mengimbau masyarakat agar hanya percaya dari sumber-sumber yang valid, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BNPB atau lembaga-lembaga terkait jika terjadi bencana.
Artikel ini telah tayang di dengan judul Prediksi Bencana Alam di Indonesia Tahun 2019 Oleh BNPB, Dari Gempa Bumi, Banjir, Hingga Tsunami, http://suryamalang.tribunnews.com/2018/12/30/prediksi-bencana-alam-di-indonesia-tahun-2019-oleh-bnpb-dari-gempa-bumi-banjir-hingga-tsunami?page=all. Penulis: Sarah Elnyora Editor: eko darmoko