logo2

ugm-logo

BMKG Beri Penjelasan Soal Gempa Bumi yang Terjadi di DIY

BMKG Beri Penjelasan Soal Gempa Bumi yang Terjadi di DIY Hari Ini

SLEMAN - Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mlati, I Nyoman Sukanta menyampaikan, pada Rabu (29/8/2018), di DIY terjadi gempa bumi sebanyak tiga kali.

Setelah gempa bumi tektonik berkekuatan 5.2 SR mengguncang Kabupaten Gunungkidul yang terjadi pada dini hari tadi pukul 01.36 WIB, terjadi dua gempa bumi susulan.

Dari ketiga gempa bumi tersebut hanya satu yang cukup dirasakan oleh masyarakat, namun tidak berpotensi tsunami karena magnitudonya tergolong kecil.

Dua gempa bumi susulan dengan magnitudo kecil ini juga tidak dirasakan oleh masyarakat, hanya terekam oleh alat.

"Gempa bumi susulan 04:36:15 WIB berkekuatan 2.8 SR lokasi 8.61 LS, 110.06 BT titik 84km barat daya Bantul dengan kedalaman 10km sumber di laut, tidak dirasakan hanya direkam oleh alat," ujar Nyoman.

Ia menambahkan, gempa susulan selanjutnya berkekuatan 3.7 SR terjadi pukul 10:50:18 WIB dengan lokasi 8.90 LS, 110.25 BT titik 104km barat daya Gunungkidul dengan kedalaman 10km dan sumber di laut.

"Dini hari tadi gempa dengan mangnitude hasil update 5.2 SR, yang semula 5.8 SR diupdate menjadi 5.2 SR, kedalaman yang semula 10 km jadi 62 km. Karena semakin banyak sinyal yang diterima, semakin banyak fase akan mengoreksi magnitude kedalaman," lanjutnya.

Nyoman menjelaskan gempa susulan tersebut tidak terlalu berisiko, hal ini lantaran gempa susulan tersebut tidak dirasakan, selain itu kalau gempa susulan kekuatannya selalu lebih kecil.

"Gempa susulan besar apa nggak itu tergantung magnitude utamanya, tapi selalu lebih kecil," jelas dia.

Ia menambahkan, gempa susulan yang terjadi dua kali ini masih dalam satu arah patahan dengan gempa bumi yang terjadi dini hari tadi.

"Gempa susulan fungsinya untuk menstabilkan batuan yang pecah," tuturnya.

(sumber:  TRIBUNJOGJA.COM)

Warga Pesisir Pantai Pamuratan Melihat Air Laut Pasca-Gempa, Ada Apa?

http://cdn2.tstatic.net/tribunnews/foto/bank/images/gempa-manado_20180829_211021.jpg

BITUNG - Warga di pesisir Pantai Pulau Lembeh merasakan gempa, Rabu (29/8).

Mereka hanya keluar ke pantai dan melihat tanda-tanda alam.

"Lumayan kuat tadi, tapi kami sudah belajar untuk melihat tanda-tanda alam," jelas Angky warga di pesisir Pantai Pamuratan, Kecamatan Lembeh.

Ia mengatakan, berdasarkan pengetahuannya kalau akan tsunami permukaan air laut akan turun dan hewan laut biasanya banyak yang ke darat.

"Tapi ini tidak, dan sampai sekarang aman-aman saja, tadi kami sudah melihat ke pantai," jelasnya.Hal yang sama pun dirasakan oleh Eko warga pusat Kota Bitung.

"Lumayan kuat, tapi masyakat sini bilang itu biasa saja," katanya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Manado menyebut gempa bumi tektonik yang terjadi pada (29/8/2018) pada sekitar pukul 20.00 Wita terjadi di sebelah tenggara Kota Bitung, Sulawesi Utara,

Dari rilis yang diterima Tribunmanado.co.id, hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi berkekuatan 4,9 skala richter terjadi dengan koordinat episenter pada 0,91 LU dan 125,4 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 66 kilometer (km) arah tenggara Kota Bitung, pada kedalaman 10 km.

"Gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," tulis Kepala Stasiun Geofisika Manado Irwan Slamet ST Msi. (amg)

sumber: tribunnews

More Articles ...