logo2

ugm-logo

Berita Pomjen BBWS Pompengan Jeneberang Respons Cepat Banjir di Kota Makassar

Pada Rabu, 25 Februari 2026, banjir terjadi di sejumlah titik di Kota Makassar, meliputi Kompleks Kodam III (Kotipa XVI–XII) Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya; Jalan Bukkangmata, Kelurahan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya; Jalan Kecaping Raya Blok 8 dan 10 Perumnas Antang, Kecamatan Manggala; serta depan Universitas Hasanuddin di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea. Banjir menggenangi akses jalan, permukiman, bahkan air masuk ke dalam rumah warga.

 

Banjir tersebut disebabkan oleh curah hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi secara kontinu dalam durasi cukup panjang, bersamaan dengan kondisi pasang air laut. Berdasarkan data Pos Curah Hujan Nipa-Nipa, tercatat hujan sebesar 137,5 mm/hari pada 23 Februari 2026 dan 78,5 mm/hari pada 24 Februari 2026. Sementara itu, Pos Curah Hujan Waduk Tunggu Pampang mencatat curah hujan 95,00 mm/hari pada 23 Februari 2026 dan 67,4 mm/hari pada 24 Februari 2026, yang turut memicu peningkatan genangan di wilayah terdampak.

 

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang melalui Tim Satuan Tugas (Satgas) Bencana langsung melakukan peninjauan lapangan untuk mengidentifikasi kondisi serta kebutuhan penanganan lanjutan. Penanganan darurat dilakukan pada saluran di sekitar Perumnas Antang berupa pemasangan sandbag (karung pasir) dan geomembran, serta koordinasi bersama pemerintah daerah dan masyarakat setempat guna meminimalkan dampak banjir. Selain itu, BBWS Pompengan Jeneberang melalui Posko Induk juga secara aktif merilis informasi kondisi elevasi muka air infrastruktur sumber daya air di Kota Makassar kepada pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pihak eksternal, serta melalui kanal media sosial resmi BBWS Pompengan Jeneberang. Langkah ini dilakukan untuk memastikan informasi yang diterima masyarakat bersifat akurat dan terverifikasi, sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar terkait kejadian banjir.

 

BBWS Pompengan Jeneberang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan dan banjir susulan, tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi, serta memantau pembaruan resmi kondisi hidrologi melalui media sosial dan kanal informasi BBWS Pompengan Jeneberang.(SISDA)

Usai Dilanda Bencana, Akademisi dan Masyarakat Bersatu Pulihkan Koto Pulai

PADANG, DISKOMINFO - Koto Pulai, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, baru saja usai dilanda bencana banjir. Banyak warga terdampak. Begitu juga korban jiwa.

Tak ingin warga Koto Pulai terus bersedih, Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD) Biologi FMIPA Universitas Negeri Padang (UNP) mendatangi lokasi itu. Mereka melakukan pengabdian kepada masyarakat setempat.

Satu bulan penuh berada di Koto Pulai, akhirnya seluruh mahasiswa meninggalkan lokasi bencana tersebut. Sabtu (28/2/2026), program pengabdian masyarakat bertajuk "Pemulihan Pascabencana Berbasis Kebiasaan Bencana dan Inovasi Biologi" itu ditutup Wali Kota Padang.

"Kolaborasi antara Pemko Padang, UNP, dan masyarakat adalah kekuatan utama dalam memastikan Koto Pulai tidak hanya pulih, tapi juga lebih tangguh menghadapi tantangan di masa depan," ujar Staf Ahli Wali Kota, Syahrial Kamat saat menutup pengabdian masyarakat di Masjid Al-Munawwarah di Koto Pulai.

Syahrial menegaskan, berakhirnya program itu diharapkan Kelurahan Koto Pulai dapat menjadi model bagi daerah lain dalam memadukan inovasi akademik dengan kearifan lokal untuk mitigasi bencana. Program yang diinisiasi UNP diharapkan juga dapat membangkitkan kembali semangat dan ketangguhan warga pasca-bencana melalui pendekatan ilmiah dan pemberdayaan lokal.

​Selama masa pelaksanaan yang dimulai sejak 28 Januari 2026, para mahasiswa di bawah bimbingan dosen pembimbing Sandi Francisco Pratama, Rijal Satria, dan Fitri Olivia Rahmi, memberikan berbagai materi edukasi strategis kepada masyarakat. Warga diajak memahami kaitan antara kelestarian alam dengan pencegahan bencana.

Kemudian memetakan potensi bahaya dan langkah mitigasi mandiri. Serta menjadikan kewaspadaan sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari.

​Uniknya, program ini mengedepankan Inovasi Biologi sebagai instrumen pemulihan. Inovasi ini diimplementasikan melalui pemberdayaan ibu-ibu TP PKK dan remaja masjid di Kelurahan Koto Pulai.

​Program ini membuktikan bahwa sinergi antara akademisi (UNP), Pemko dan masyarakat adalah kunci utama dalam pemulihan pascabencana yang efektif. Melalui keterlibatan aktif remaja masjid, diharapkan estafet kepedulian lingkungan terus berlanjut bahkan setelah program ini berakhir.(Def / Charlie)

More Articles ...