Setiap 5 Desember diperingati sebagai hari relawan internasional oleh United Nations atau Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Peringatan tersebut dideklarasikan pada 1985, sehingga pada 2022 ini adalah peringatan hari relawan internasional sudah yang ke-37. Hari ini dibentuk untuk memperingati dan menghormati para sukarelawan di dunia yang merupakan salah satu mekanisme untuk transformasi sosial, lingkungan dan ekonomi. Gerakan ini juga salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran sosial untuk seluruh masyarakat di dunia, dimana menjadi relawan adalah memberi, berbagi, mendukung orang lain dan meningkatkan kepedulian. Namun demikian, meskipun tujuan peringatan Hari Relawan Internasional untuk meningkatkan kesadaran tentang dunia kerelawanan dan mengajak semua lapisan untuk terlibat langsung membantu daerah terdampak bencana, dan peringatan ini dibuat sebagai upaya mendorong pemerintah dan para relawan serta mengakui kontribusi relawan. Sudah saatnya, untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional, peringatan hari relawan tidak sekedar mengajak saja, tapi juga membangun sistim relawan yang berkelanjutan dan berkesinambungan sehingga sasaran pembangunan dan system Kesehatan itu sendiri dapat terwujud.
Blog
Update Manajemen Bencana Kesehatan
Pembaca website sekalian, melalui laman ini kami mencoba membagikan informasi mengenai penanganan bencana yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia saat ini. Laman ini harapannya dapat menjadi dokumentasi kegiatan tim ataupun berbagai data informasi resmi yang sangat berguna sebagai media pembelajaran kebencanaan kita bersama.
Kebijakan/Aturan
Dukungan Tim Manajemen Kesehatan untuk Letusan Gunung Semeru

Awan Panas Guguran (APG) Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur terjadi pada Sabtu, 4 Desember 2021 pukul 15.00 WIB. Berdasarkan data sementara BPBD Provinsi Jawa Timur, awan panas guguran Gunung Semeru mengakibatkan 15 orang meninggal dunia, luka berat sebanyak 69 orang dan luka ringan 100 orang (06/12/2021). Total korban terdampak di Kabupaten Lumajang sebanyak 5.205 orang. Relawan kesehatan khususnya tenaga medis sudah banyak dikirim ke lokasi dan sementara cukup menangani korban bencana. Pokja Bencana FK-KMK UGM dan AHS UGM turut berpartisipasi dalam penanganan bencana Gunung Semeru. Pokja Bencana FK-KMK UGM dan AHS UGM berkoordinasi dengan Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dan Pemerintah Daerah Jawa Timur untuk mendapatkan informasi awal terkait updape kondisi dan kebutuhan penanganan bencana Gunung Semeru. Dari hasil diskusi tersebut, pemerintah daerah membutuhkan relawan yang dapat membantu Dinas Kesehatan Kab. Lumajang dalam hal manajemen penanganan bencana. Manajemen penanganan bencana yang dimaksud adalah melakukan pemetaan respon tanggap darurat, manajemen relawan kesehatan dan sistem pelaporan penanganan. Pokja Bencana FK-KMK UGM dan AHS UGM siap menugaskan per 6 Desember 2021 relawan manajemen bencana kesehatan ke Lumajang, Jawa Timur. Informasi terkait berita/artikel Bencana Gunung Semeru, Laporan Kegiatan Tim serta Live Report dapat dibaca berikut :
Pendampingan Online: Penyusunan Rencana Penanganan Bencana di Rumah Sakit
Hospital disaster plan diamanatkan dalam UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, yang salah satu bunyinya: Rumah sakit mempunyai kewajiban memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana. Namun, penyusunan hospital disaster plan (HDP) yang terkendala di rumah sakit akan menyebabkan sulitkan operasionalisasi manajemen penanganan bencana mulai dari pembagian tugas yang jelas, alur komunikasi dan rencana alternatif. Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK UGM menyelenggarakan Pelatihan dan Pendampingan HDP pada Mei hingga Juli 2022. Kegiatan ini intensif dilakukan secara online dengan biaya 5 juta Rupiah per instansi (5 orang/ instansi).
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemauan Relawan untuk Berpartisipasi dalam Siaga Bencana
Kesiapsiagaan bencana sangat penting untuk memberikan respons yang efektif, dan mengurangi kemungkinan dampak bencana. Meskipun partisipasi relawan berperan penting dalam kesiapsiagaan bencana, partisipasi mereka dalam kegiatan kesiapsiagaan bencana masih rendah. Untuk menemukan cara mendorong lebih banyak relawan untuk berpartisipasi, penelitian ini menganalisis latar belakang sosial dan faktor organisasi dan sikap yang mempengaruhi kesediaan relawan untuk berpartisipasi. Kuesioner dibagikan kepada 990 sukarelawan bencana terdaftar di seluruh Beijing dan data dianalisis menggunakan model regresi linier. Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di jurnal National Center for Biotechnology Information
More Articles ...
- Inovasi Pelayanan Publik (Studi Kasus: Public Safety Center (PSC) 119 Kabupaten Bantul Sebagai Layanan Kesehatan dan Kegawatdaruratan)
- Komunikasi Krisis setelah Gempa Bumi di Yunani dan Jepang: Efek pada Manajemen Bencana Seismik
- Implikasi Kesehatan Masyarakat dari Berbagai Paparan Bencana
- Integrated health education in disaster risk reduction: Lesson learned from disease outbreak following natural disasters in Indonesia




