Masyarakat atau komunitas yang tinggal di wilayah rentan terjadinya bencana, memiliki resiko terkena dampak di berbagai aspek kehidupannya. Dampaknya dapat berupa kehilangan properti seperti rumah ataupun aset yang sifatnya produktif, kekurangan makanan dan krisis nutrisi. Setelah mengalami bencana, tentu masyarakat setempat memerlukan waktu untuk pulih dari semua dampak yang diterima. Pengurangan resiko bencana merupakan prasyarat dalam pembangunan yang berkelanjutan dan untuk mengakhiri kelaparan. Memastikan kelompok yang rentan dan melakukan perlindungan terhadap aset yang mereka miliki dari resiko terjadinya bencana harus dilakukan. World Food Programe (WFP) memiliki berbagai program yang berperan dalam mengidentifikasi bencana dan dampaknya pada keamanan pangan. WFP bekerja sama dengan berbagai sektor dalam mengakhiri kealaparan sebagai tujuan utamanya. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam mencapai tujuan tersebut adalah analisis keamanan pangan, monitoring, peringatan dini, pengembangan kapasitas, membangun resiliansi dan menjaga kelompok masyarakat yang rentan, dan lain-lain. Informasi selengkapnya Klik Disini ![]()
Blog
Webinar Series : Melawan Lupa Gempa Dan Merapi Yogyakarta
Webinar Serries PKMK FK UGM kali ini mengangkat tema “Melawan Lupa Gempa Dan Merapi Yogyakarta”. Webinar ini akan diselenggarakan pada Selasa, 26 September 2017 pada 13.00 – 15.00 WIB. Pembicara kali ini adalah Ketua Pokja Bencana FK UGM yaitu dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS(K) dan Dosen FK UGM dr. H. Sulanto Saleh Danu R, MD, Sp.FK; serta dimoderatori oleh Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM yaitu dr. Bella Donna, M.Kes. Seperti yang diketahui bahwa Gunung Merapi merupakan gunung api yang masih aktif di Yogyakarta dan memiliki siklus 4 tahunan. Letusan pada tahun 2010 lalu membeerikan dampak pada warga Yogyakarta. Seluruh aktivitas di Yogyakarta menjadi lumpuh baik pendidikan, bisnis, maupun pemerintahan. Ispa, sakit mata, dan lain-lain menjadi penyakit yang banyak dijumpai pada para korban letusan. Bantuan dalam bentuk logistik maupun tim medis berdatangan ke Yogyakarta. Melalui webinar kali ini ditujukan untuk sharing pengalaman terkait dengan manajemen bantuan baik logistik maupun tim medis pada saat bencana terjadi. informasi selengkapnya Klik Disini ![]()
Reportase Bimbingan Teknis Penyusunan Perencanaan Penanganan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan)

Hospital Disaster Plan sangat penting untuk dimiliki oleh setiap rumah sakit. Hal ini mengingat rumah sakit sebagai tempat rujukan bagi korban bencana, sehingga harus mampu menjadi tempat yang aman dan layak untuk bagi korban bencana. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM mengadakan kegiatan “Bimbingan Teknis Penyusunan Perencanaan Penanganan Bencana” di Rumah Sakit. Acara ini berlangsung di Hotel Grand Ambarrukmo Yogyakarta. Terdapat 2 materi yang dipaparkan pada hari pertama. Materi pertama disampaikan oleh Susy Runtiawati, SE, MM mengenai “Strategi Penyiapan Hospital Disaster Plan di Rumah Sakit” sebagai perwakilan dari PERSI Yogyakarta. Selanjutnya materi disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD tentang “Overview Hospital Disaster Plan”. Sebelum pemberian materi dilakukan pre test untuk mengetahui kemampuan setiap pengetahuan peserta terkait meteri Bimtek. Pada hari kedua, proses bimtek tidak hanya diwarnai dengan penyampaian materi, proses diskusi melalui kasus-kasus dilakukan untuk memperdalam pemahaman peserta. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok untuk mendiskusikan kasus-kasus terkait dengan meteri yang disampaikan. Terdapat 5 materi yang disampaikan yang terdiri dari analisis risiko bencana dan krisis kesehatan di rumah sakit, logistik medik dan fasilitas, komponen Hospital Disaster Plan, konsep pengorganisasian kebencanaan di rumah sakit, dan penyusunan draft Hospital Disaster Plan. para perserta berpartisipasi aktif dalam proses diskusi yang dilakukan. Informasi selengkapnya Klik Disini ![]()
Global Hunger Index 2016 : Gambaran Angka Kelaparan di Dunia
Kelaparan dan kemiskinan merupakan salah satu komitmen dari Sustainable Development Goals (SDGs). Hal ini tercantum dalam goal kedua SDGs yaitu komitmen dalam mengakhiri kelaparan, mencapai keamanan pangan dan meningkatkan nutrisi, serta mempromosikan agrikultural yang berkelanjutan. Tujuan ini diharapkan dapat tercapai hingga 2030. Evaluasi terus dilakukan setiap tahunnya dalam melihat peerkembangan setiap negara di dunia. Global Hunger Index (GHI) pada 2016 dipublikasikan bersama oleh International Food Policy Research Institute (IFPRI), Concern Worldwide, dan Welthungerhilfe (WHH). Terdapat 4 indikator yang digunakan dalam menentukan level GHI suatu negara. Indikator pertama yaitu proporsi orang yang kurang gizi akan memberikan gambaran tentang asupan kalori yang tidak mencukupi di suatu negara. Indikator selanjutnya adalah proporsi anak yang dibuang. Umumnya mereka memiliki berat badan yang rendah disbanding tinggi badannya. Hal ini memcerminkan suatu kekurangan gizi akut. Indikator ketiga yaitu proporsi anak kerdil, hal ini menggambarkan tentang kekurangan gizi kronis. Indikator terakhir yaitu kematian anak. Pada indikator ini akan memperlihatkan tentang perpaduan gizi yang tidak memadai dengan lingkungan yang tidak sehat.
Seluruh indikator tersebut selanjutnya akan mewakili skor akhirnya. Salah satu temuan menarik yang diperoleh adalah penurunan angka kelaparan di negara berkembang sebesar 29% sejak 2000. Akan tetapi, penurunan ini tidak terjadi secara merata di seluruh negara dunia. Masih banyaknya negara yang ketimpangan ekonomi, kelaparan baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Indonesia sendiri sebagai salah satu negara berkembang menjadi salah satu negara yang mengalami penurunan angka, walupun masih berada pada level serius. Skor GHI Indonesia pada 2016 adalah 21,9; terjadi penurunan sejak 2008 dengan angka 28,6. Terdapat 4 solusi yang ditawarkan yaitu komitmen pemerintah secara keseluruhan, transformasi sistem pangan, partisipasi masyarakat secara menyeluruh, serta pemantauan yang ketat terhadap organisasi nasional maupun internasional. Informasi selengkapnya Klik Disini ![]()
Sistem Deteksi Wabah Penyakit dengan EWARS
EWARS merupakan singkatan dari Early Warning, Alert and Response System. World Health Organization (WHO) mendesain sistem ini untuk meningkatkan deteksi terhadap wabah penyakit di setting kegawatdaruratan, seperti pada negara konflik atau negara yang terkena bencana alami. EWARS dikembangkan selama kejadian kegawatdaruratan sebagai suatu sistem surveillence. WHO bekerja sama dengan Menteri Kesehatan dan partner. Sektor Kesehatan untuk memberikan pelatihan pada pekerja lokal untuk menggunakan sistem ini. EWARS dapat digunakan dengan mudah, biaya murah dalam mendeteksi secara cepat suatu wabah penyakit. Terdapat suatu istilah “EWARS in box” yang digunakan. Seperti arti katanya terdapat suatu kotak yang berisi semua alat yang dibutuhkan untuk melakukan surveillance dan melakukan respon. Kotak tersebut dapat digunakan pada setting tempat yang mengalami kesulitan internet atau listrik. Peralatan tersebut berupa laptop, mobile phone dan server lokal. Disediakan juga generator listrik, charger generator tersebut; hal ini disediakan agar laptop atau mobile phone tersebut dapat berfungsi penuh selama 24 jam. Terdapat beberapa negara yang telah menggunakan sistem ini yaitu Nigeria, Sudan Selatan, Ethiopia, Fiji, dan lain-lain. Informasi selengkapnya Klik Disini ![]()

