logo2

ugm-logo

Blog

Reportase

Webinar Logistik Medik Pada Bencana

30 Maret 2017


webinar logistik bencana

Webinar series divisi manajemen bencana PKMK FK UGM untuk Maret mengangkat topik Kesiapsiagaan Logistik Medik pada Bencana: Refleksi Seminar ASM Pokja Bencana 9 Maret 2017. Webinar tersebut dimoderatori oleh Intan Anastasia, S.Far., Apt., M.Sc dan materi yang pertama disampaikan oleh dr. Sulanto Saleh-Danu, Sp.FK dari Pokja Bencana FK UGM.

Logistik merupakan suatu hal yang penting dalam segala aspek, hal yang sama berlaku saat keadaan bencana. Bencana merupakan suatu keadaan yang bisa datang setiap saat, sementara sebagai penentu berhasil atau tidak penanganan bencana tersebut berdasarkan logistiknya. Salah satu dampak bencana adalah munculnya suatu penyakit menular/ infeksi. Fakta yang terjadi pada bencana di Bantul yakni berkembangnya penyakit infeksi, bantuan yang berlimpah, tidak ada bantuan vaksin, bahan/ obat kadaluarsa pendek, buffer stock belum terseragamkan, dan adanya inkoordinasi antara bantuan logistik.

Pada saat bencana, terjadi banyak organisasi dan lembaga yang memberikan bantuan dan pertolongan. Dalam kegiatan bantuan atau pertolongan tersebut dibutuhkan suatu logistik yang memadai. Salah satu penyakit yang terjadi pada saat bencana di Bantul adalah tetanus, yang disebabkan oleh faktor kebersihan, kejatuhan puing-puing rumah, tertusuk paku yang berkarat, dan lain-lain.

Terdapat 3 fase dalam penanganan bencana, yaitu pra bencana, respon bencana, dan pasca bencana. Kegiatan yang dilakukan pada saat pra bencana seperti assesment tingkat risiko dimana dari BNPB telah memiliki buku panduan yang dapat digunakan sebagai acuan. SDM pun harus dipersiapkan, terutama skill dalam penanganan bencana sehingga pada saat bencana terjadi maka tim telah siap. Logistik juga harus dipersiapkan sebelum terjadinya bencana. Dalam 3 fase tersebut diperlukan logistik dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Penanganan bencana pada setiap daerah diperlukan manajemen bencana, disaster plan, serta terdapat rumah sakit yang telah memiliki Hospital Disaster Plan (HDP). Rencana persiapan yang sangat matang diperlukan dalam mitigasi, selain itu juga tetap perlu disiapkan untuk rencana cadangan. Tim surveilans dan tim Rapid Health Assesment (RHA) perlu dipersiapkan untuk berangkat ke medan bencana dengan tujuan untuk mendapatkan data dan mengetahui situasi pada lokasi bencana.

Logistik yang diperlukan dalam bencana bukan hanya dalam kesehatan yakni obat dan peralatan penunjang kesehatan, melainkan juga diperlukan logistik non kesehatan seperti: air, makanan, kebutuhan administrasi, tempat berlindung dan kelistrikan, kebutuhan pendidikan, dan seterusnya. Kebutuhan yang diperlukan oleh relawan juga diantaranya tenaga yang terlatih, transportasi, komunikasi dan aksesibilitas, serta peta lokasi.

Donasi akan sangat banyak berdatangan pada saat bencana, sehingga diperlukan pengecekan seperti item yang diberikan, jumlahnya, siapa donaturnya, kadaluarsa, dan lain-lain. Perlu diperhatikan juga untuk penyimpanan, sehingga diperlukan gudang penyimpanan obat dalam tiap kabupaten. Gudang tersebut juga dipastikan untuk daya tampungnya, lokasi, fasilitas, dan pendingin untuk obat tertentu.

Pembicara kedua oleh Danang Samsu, ST yang merupakan manager Pusdalob BPBD DIY. Logistik sangat penting dalam segala hal, karena tanpa logistik maka kegiatan tidak akan berjalan. Manajemen logistik juga diperlukan mulai dari saat penerimaan, penyimpanan obat, distribusi, hingga pertanggungjawaban yang mungkin diperlukan penghapusan obat juga. Untuk wilayah DIY juga telah dibentuk klaster logistik oleh BPBD, dimana untuk jangka panjang akan bekerjasam dengan klaster kesehatan dalam penanganan bencana. Dalam klaster harus terdapat 1 komando, agar koordinasi lebih mudah dan tidak mengurangi kekacauan.

Pertanyaan pun banyak diajukan oleh peserta webinar baik yang hadir pada lokasi maupun yang mengikuti secara online. BPBD saat ini telah menyiapkan desa tangguh bencana dimana warga juga dilatih mengelola logistik, sehingga diharapkan warga tetap dapat bertahan setidaknya 3 hari tanpa bantuan dari luar. Saat ini juga telah dipersiapkan logistik untuk makanan, dimana bekerja sama dengan toko, supermarket serta supplier dan dipastikan untuk logistik tersebut akan selalu baru.

Undang - Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, menyatakan bahwa penanggung jawab pada bencana adalah pemerintah daerah. Uji kompetensi diperlukan agar pemda lebih percaya diri untuk memimpin, karena selama ini justru dari NGO atau lembaga eksternal yang mengatur dan memberikan komando. Peraturan tersebut dapat digunakan untuk dasar dalam proses hukum bahkan sampai ke pidana apabila terdapat lembaga atau organisasi yang tetap tidak mau menurut.

 

Reporter: Wisnu Damarsasi, MPH

Reportase Sesi 1. Kebijakan Logistik Medik

Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana:
Study Kasusu Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan pada Gempa Pidie Jaya 2016

Kamis, 9 Maret 2017
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM


sesi1 asm
Sesi 1 ini ditujukan untuk membahas kebijakan logistik medik. Untuk itu, narasumber yang dihadirkan berasal dari regulator baik di tingkat nasional maupun internasional. Narasumber kali ini adalah dr. Achmad Yurianto yang merupakan Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dan Bapak Yulian Yogadhita, S.Farm, Apt dari WHO Indonesia.

dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD selaku penasihat Pokja Bencana FK UGM, menjadi moderator pada sesi ini. Dalam pengantarnya beliau teringat bahwa pada suatu kejadian bencana beliau dan tim pernah menerima obat-obatan berbahasa Jepang dan tidak ada bahasa inggris juga yang bisa dimengerti. Kedepannya harusnya sudah tidak ada lagi pengalaman yang seperti ini.

achmad

Bahasan kita hari ini sebenarnya dapat kita rangkum dalam upaya monitoring layanan kesehatan pada saat bencana. Hal ini benar-benar strategis dan berkaitan sekali dengan perencanaan dan peningkatan kapasitas pada saat terjadi bencana. Menyinggung yang disampaikan oleh moderator tadi mengenai permasalahan label obat bantuan, itu menunjukkan kalau pada saat itu, kita memang belum siap termasuk merencanakan penerimaan bantuan logistik medik pada saat bencana.

Kaitannya dengan penanganan logistik, setiap daerah di Indonesia harusnya sudah merujuk pada DAK Bidang Kefarmasian yang sudah mengharuskan setiap daerah memiliki perencanaan buffer stock. Harusnya, setiap daerah memperhitungkan dengan benar buffer stock ini berdasarkan kontijensi krisis kesehatan dan bencana yang ada di daerahnya.

Sedangkan penanganannya berbasis klaster. Kita ada di klaster kesehatan yang terdiri dari sub-sub klaster lagi. Sub klaster yang berkaitan dengan logistik ini adalah sub klaster layanan kesehatan.

Peran pengurangan risiko bencana dibidang kesehatan ini merupakan asset yang harus dikelola oleh dinas kesehatan. Bukan pada masa responnya tapi pada saat pemulihan dininya dan kembali lagi pada masa pra bencana sebagai bentuk kesiapsiagaan.

sesi webinar who

Pemateri kedua memaparkan tentang internal dan external preparedness, koordinasi, dan pembelajaran dari gempa Nepal. Beliau lebih banyak membahas mengenai kasus yang pernah dialami seperti pemusnahan obat bantuan pada gempa Padang dan gempa Jogja. Obat yang dimusnahkan jumlahnya hingga 10 ton dan membutuhkan dana yang besar.

Menyambung permasalahan penerimaan bantuan obat yang tidak sesuai dan logistik medik lainnya, erat kaitannya dengan upaya peningkatan kapasitas petugas penerimaan logistik di lapangan. Biasanya yang menerima adalah BNPB atau TNI diluar sektor kesehatan. Artinya, upaya peningkatan kapasitas penerimaan bantuan ini juga harus memperhatikan peningkatan kapasitas lintas sektor, tidak hanya petugas kesehatan.

Logistik dalam ICS mendapat perhatian serius karena ketika itu menjadi bencana internasional maka WHO menjadi koordinator kesehatannya yang menerima bantuan ini. Jika tidak sesuai kebutuhan maka bisa untuk ditolak. Pertanyaannya, bagaimana kompetensi SDM penerima logistik dan sistem perencanaan penyimpanannya, distribusinya, pelaporannya di tingkat nasional dan daerah? Ini yang harus masuk dalam perencanaan tiap-tiap daerah sesuai dengan kontijensi yang disepakati.

tanya jawab

Masuk ke sesi diskusi, dr. Wiliam dari Medicuss Foundation, Pak Sutono dari PSIK FK UGM, dan Pak Budi dari RS PKU serta Pak Dodi dari PKK. Secara umum diskusi seputar kekacuan penanganan pada saat bencana, standar obat-obatan yang harus disiapkan untuk rumah sakit seperti apa, serta lemahnya koordinasi lintas sektor dalam penanganan bencana di daerah. Dapat dirangkum bahwa the most problem in disaster respond was not-single resources but control and coordination. Bagaimana kerjasama lintas sektor hingga pengaturan di sektor kesehatan sendiri harus dikuatkan dengan seringnya melakukan kontak dan kerjasama.


Reportase: Madelina A

Reportase Sesi 2. Kebijakan Logistik Medik

Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana:
Study Kasusu Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan pada Gempa Pidie Jaya 2016

Kamis, 9 Maret 2017
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

sesi2

Pada sesi kedua seminar tentang logistik medik ASM 2017 dimoderatori oleh Sutono, S.Kp., M.Sc, M.Kep. Materi pertama dipaparkan oleh dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS tentang kasus infeksi saat bencana. Jurnal tentang bencana yang saat ini sering dibahas oleh peneliti yakni tentang cara mencegah dan mengendalikan natural disaster. Banyak penyakit yang muncul pada saat bencana, seperti diare, tetanus, demam, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan hal tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga bencana di negara lain.

Faktor resiko yang menyebabkan munculnya penyakit pada saat bencana antara lain populasi yang terlalu banyak, minim air bersih dan sanitasi yang buruk. Untuk itu pencegahan dan pemberantasan penyakit menular merupakan termasuk tindakan yang dilakukan di pengungsian. Pemerintah pun telah membuat suatu pendoman teknis penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana serta lesson learnt penanganan krisis kesehatan.
Tercatat pada gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah beberapa kasus tetanus, dan terbanyak di RS Sardjito sebanyak 22 kasus. Prosentase penderita tetanus mayoritas terjadi pada usia di atas 50 tahun sebanyak 70,43% dan apabila dilihat dari gender maka terbanyak pada pria sebanyak 57,75%.
Materi kedua dipaparkan oleh dr. Ninik dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul yang membahas tentang bencana gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Bantul. Tahun 2016 terjadi bencana gempa bumi di Kabupaten Bantul yang berpengaruh pada kualitas air yang langsung menjadi kurang baik dan berdampak timbulnya penyakit. Pada saat bencana tersebut dibuat dapur umum, dimana tidak dapat dikontrol untuk kualitas makanan dan bantuan nasi bungkus yang dimakan pada esok harinya sehingga menyebabkan diare.

Kasus tetanus juga terjadi karena terkena reruntuhan bangunan akibat gempa, dimana atap rumah warga banyak yang menggunakan seng serta paku yang bertebaran. Warga Bantul banyak yang memelihara sapi di dekat rumahnya, sehingga pasca bencana warga lebih fokus pada rehabilitasi rumah serta binatang peliharaan dan tidak memperhatikan luka yang dialami. Warga pun masih sangat minim pengetahuan tentang perawatan dan komplikasi akibat luka.
Kasus tetanus di Bantul mayoritas terjadi pada usia di atas 45 tahun sebanyak 60%, hal ini terjadi karena pada saat itu belum ada kebijakan imunisasi dasar lengkap seperti sekarang ini. Apabila dilihat dari gender maka 80% terjadi pada pria karena perempuan terpapar imunisasi lebih banyak. Selama kurang dari 24 hari pasca bencana, telah terjadi 50 kasus tetanus ditemukan.

Penerimaan logistik medis pasca bencana banyak berdatangan dari berbagai sumber baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga perlu adanya pengelolaan yang tepat. Distribusi obat tidak hanya diberikan kepada fasilitas kesehatan namun juga ke posko-posko yang banyak muncul secara mendadak. Pengelolaan logistik tersebut menggunakan sistem 1 pintu baik penerimaan maupun pendistribusian.

Persediaan obat tetanus pada gudang obat yang dimiliki Dinas Kesehatan Bantul sangat minim. Sementara bantuan yang berdatangan tidak ada yang memberikan pengobatan untuk tetanus, hanya antibiotik dan analgesik saja. Namun terdapat solusi karena selama bencana sesuai kebijakan nasional untuk pengadaan diperbolehkan secara langsung tanpa melalui tender.

Permasalahan yang terjadi yakni obat dari donatur seringnya tiba-tiba datang tanpa adanya koordinasi dan obat yang dikirim tidak semua bagus, karena ada yang waktu kadaluarsanya pendek. Pemusnahan obat pun sempat dilakukan yang dianjurkan oleh WHO kurang lebih 10 ton. Berdasarkan dari pengalaman tersebut maka dilakukan perubahan pada gudang obat dimana dibuat 10-20% buffer stock oabt serta obat untuk kebutuhan rutin yang mencukupi selama 18 bulan. Jumlah persediaan Anti Tetanus Serum ATS) pun sekarang lebih diperbanyak, serta pengadaan ATS yang menggunakan e-katalog untuk pengirimannya dilakukan 3 kali. Hal ini dengan tujuan agar memiliki tanggal kadaluarsa yang berbeda.

Materi ketiga tentang kasus tetanus pada gempa bumi Pidie Jaya tahun 2016 dipaparkan oleh dr. Hasnani, M.Kes dari P2KK Aceh yang dilakukan menggunakan media webinar. Pada bencana tersebut, dinas kesehatan Aceh berkoordinasi dengan RSU Zainal Abidin Banda Aceh dalam hal menerima pasien, serta mendirikan pos koordinasi kesehatan. Fase tanggap darurat hari ke-2 maka telah dibentuk tim kesehatan, dimana seluruh divisi dari Dinkes Aceh bergabung bersama tim P2KK Aceh pada klaster kesehatan. Bantuan segera datang setelah bencana terjadi, baik dari dalam maupun luar negeri. Sejumlah tim relawan membantu dalam situasi yang timbul akibat bencana. Diketahui terdapat kurang lebih 1.174 relawan yang telah terjun dalam bencana.

Fasilitas kesehatan banyak yang mengalami kerusakan, terutama yang paling banyak terjadi yaitu puskesdes. Banyak penyakit juga yang timbul akibat bencana, seperti ISPA, diare, penyakit kulit, dan penyakit lain. Cakupan imunisasi pada gempa Pidie Jaya melingkupi imunisasi campak sebesar 95,02% dari target 5.500 balita, dan imunisasi tetanus sebanyak 67,63% dari 275 relawan. Tidak ditemukan kasus tetanus baik sebelum bencana maupun dari para relawan pada masa tanggap darurat.
Materi terakhir disampaikan oleh dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK tentang logistik medik pada bencana. Erat hubungannya antara bencana dengan infeksi, dimana infeksi terjadi apabila muncul gejala patologis. Besar kecilnya logistik dalam bencana dipengaruhi oleh macam bencana, besar kekuatan, lokasi bencana, jumlah korban dan populasi penduduk.

Dampak dari bencana menimbulkan trauma, komplikasi, dan penyakit seperti tetanus. Sementara tindakan pasca bencana pada korban maka perlu dilakukan triase, perawatan luka, stabilisasi, serta tindakan pencegahan. Berdasarkan dari beberapa bencana yang terjadi di Indonesia, maka sangat perlu dilakukan pengelolaan logistik baik medis maupun non medis. Tiap bencana selalu berdampak pada kesehatan manusia, banyak penyakit yang akan timbul, salah satunya yaitu yang diakibatkan oleh infeksi. Penatalaksaan infeksi sendiri diperlukan anti infeksi, vaksin serum dan pendukung lainnya.

Reporter: Wisnu Damarsasi

Reportase Sesi Pembukaan Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana

Reportase Sesi Pembukaan

Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana:
Study Kasus Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan pada Gempa Pidie Jaya 2016

Kamis, 9 Maret 2017
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

pembukaan asm bencan

Seminar rutin tahunan yang diselenggarakan kerjasama antara Pokja Bencana FK UGM dengan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM ini merupakan partisipasi dalam rangka Annual Scientific Meeting FK UGM setiap tahunnya. Tahun 2017, Pokja Bencana mengambil tema yang lebih spesifik, merujuk pada tema ASM Pusat, yakni tentang penggunaan logistik medik dalam bencana.

Permasalahan logistik dalam bencana menarik untuk didiskusikan sebab penggunaan dan pendistribusian yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah kesehatan. Berbeda dengan seminar-seminar sebelumnya, seminar kali ini kita fokus pada satu kasus yakni kasus tetanus, kata dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS selaku Ketua Pokja Bencana FK UGM dalam sambutannya.

handoyo

dr. Handoyo mengapresiasi kepada seluruh peserta, klien, dan pemerhati bencana semuanya yang berhadir secara langsung ataupun yang melalui webinar dalam seminar ini. Kita membutuhkan diskusi dan sharing yang banyak dari seluruh rekanan bencana dalam seminar ini.

Sambutan dan pembukaan disampaikan oleh dr. Mei Neni Sitaresmi, SP. A(K), Ph.D selaku perwakilan dekanat FK UGM. Beliau mengatakan bahwa upaya kesiapsiagaan bencana sangat dibutuhkan agar penanganan respon dan pasca bencana lebih optimal, salah satunya dengan penyiapan logistik. Kaitannya dengan kasus tetanus pada kejadian gempa menarik untuk dibahas karena berkaitan sekali dengan ketersediaan logistik vaksin misalnya, bagaimana perencanaan, pendistribusian, dan cakupannya pada masa bencana.

dr. Mei Neni Sitaresmi

Harapan beliau seminar ini menjadi pembelajaran yang bagus karena mempertemukan antara guideline dan kebijakan yang ada dengan pengalaman rekan sekalian di lapangan pada saat bencana. Bisa jadi dari seminar ini nantinya didapatkan masukan upaya perbaikan penanganan logistik medik pada saat bencana kedepannya.


Reportase: Madelina A

 

LUNCH SEMINAR DAN WEBINAR LAPORAN KEGIATAN GEMPA PIDIE JAYA DAN BANJIR BANDANG BIMA

Yogyakarta, 8 Februari 2017
Reportase oleh:  Intan Anatasia

PKMK Yogyakarta.


Acara webinar ini dibuka oleh dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A(K).Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian Masyarakat. Mei menyampaikan Fakultas Kedokteran UGM tetap menjalankan Tri Dharma dengan memberangkatkan Tim Bencana untuk melakukan kontribusi di Gempa Pidie Jaya dan Banjir Bandang Bima. Harapannya dari laporan kegiatan ini kita bisa sama-sama belajar untuk melakukan rencana tindak lanjut ke depannya.

 mei neni wadek fk

Acara selanjutnya adalah Pengenalan Mengenai Kelompok Kerja Bencana (POKJA BENCANA) Fakultas Kedokteran UGM  oleh dr. Handoyo Pramusinto, SpB. Handoyo mengharapkan agar Surat Keputusan dari Universitas Gadjah Mada segera turun untuk legalitas dari Pokja Bencana FK UGM. Handoyo juga menjelaskan bahwa POKJA BENCANA ini terdiri dari beberapa komponen yaitu dari RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, Rumah Sakit Akademik UGM, termasuk juga dari lintas bidang karena tim ini terdiri dari klinis/kedokteran, surveilans, promosi kesehatan, gizi dan kesehatan jiwa. Pokja Bencana FK UGM mempunyai harapan untuk terintegrasi dengan DERU UGM dan Pusat Studi Bencana Alam.

handoyo 

Masuk ke acara inti yaitu penyampaian Laporan kegiatan Tim Klaster Kesehatan Gempa Pidie Jaya oleh dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD. Hendro menyampaikan alasan mengapa tim berangkat ke Pidie Jaya pada fase recovery, karena saat fase akut biasanya sudah banyak tim yang datang untuk membantu sehingga diambil keputusan untuk berangkat pada fase recovery setelah tim assessment mendapatkan penilaian kebutuhan awal. Koordinasi dilakukan selama 5 hari sebelum keberangkatan. Hendro menceritakan pada hari pertama tim menyambangi Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) untuk berdiskusi dan melakukan pemetaan daerah terdampak. Pertemuan ini dipimpin langsung oleh Kepala Pusdalops BPBA Aceh. Pertemuan ini juga membahas plan of action di Pidie Jaya.

Selanjutnya tim menuju pos kesehatan di RSUD Pidie Jaya. Di pos kesehatan, sudah ada tim Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya, dan Kemenkes. Kembali dilakukan koordinasi dengan klaster kesehatan yang sudah ada, sebagian tim juga melakukan pengecekan lokasi RSUD, dan sebagain lagi mendirikan tenda. Seluruh tim akan bermalam di lokasi ini. Hendro menunjukan pula foto-foto bangunan seperti bangunan Rumah Sakit Pidie Jaya yang hancur.

Pada hari ketiga masih melanjutkan rencana operasi bahwa hari ini tim layanan kesehatan diberangkatan ke Puskesmas Cubo dan tim health management support berada di pos kesehatan untuk mengikuti rapat koordinasi dengan pihak terkait. Hendro menyempatkan untuk tetap menikmati keindahan di daerah Pidie Jaya dan menikmati kuliner durian di Pidie Jaya. Kerja dari tim  pertama dilanjutkan kembali oleh tim kedua dimana kegiatan yang dilakukan berupa pendampingan Primary Health Care Disaster Plan (PHCDP) dan Pelatihan Penanganan Luka. Di akhir paparannya, Hendro Wartatmo menyampaikan lesson learnt yang bisa diambil dari kegiatan ini adalah bahwa respon pada fase akut saat sudah cukup cepat, tim kesehatan sudah aktif di hari pertama dan networking lokal sudah ada. Masih ada hal yang perlu diperbaiki yaitu kondisi di Pidie Jaya sudah tidak baik bahkan sebelum bencana contohnya IPAL di RSUD Pidie Jaya kondisinya semakin parah setelah gempa terjadi. Komunikasi saat kondisi bencana sangat sulit walaupun akhirnya berjalan lancar maka harus disadari pentingnya menjaga komunikasi.

 Dok. PKMK FK UGM. Laporan Kegiatan Gempa Pidie Jaya dan Banjir Bandang Bima

Masuk ke sesi kedua yaitu Laporan Kegiatan Tim Klaster Kesehatan Banjir Bandang Bima yang disampaikan oleh Sutono S.Kep.,M.Sc. Sutono menyampaikan rasa bangganya kepada alumni-alumni di Universitas Gadjah Mada yang responsif untuk menyebarkan berita bencana ke Divisi Manajemen Bencana sehingga bisa segera merespon untuk melakukan tindakan ke lokasi bencana. Sutono menjelaskan mengenai alasan untuk berangkat ke Bima karena sudah ada laporan bahwa ada 4 puskesmas yang lumpuh dan tidak bisa melakukan pelayanan.

Tujuan tim Bima berangkat yang pertama adalah mengidentifikasi permasalahan di sektor kesehatan dan menyiapkan tim lanjutan untuk membantu korban bencana di kota Bima. Tim langsung menyisir 33 lokasi pengungsian yang belum di-follow up untuk mendata jumlah pengungsi dan mendapatkan data kelompok rentan yang ada. Dari hasil survey ditemukan berbagai penyakit setelah hari kedelapan banjir seperti myalgia, dermatitis dan ISPA. Identifikasi potensi Kejadian Luar Biasa seperti demam berdarah dan dicurigai leptospirosis akibat manajemen sampah yang buruk.  Terdapat juga korban yang meninggal diakibatkan oleh infeksi tetanus. Masih banyak desa yang belum mendapatkan vaksin sehingga ditemukan disalah satu yang mengalami campak.

Fasilitas kesehatan di Bima belum mendapatkan pengetahuan dalam membuat perencanaan penanggulangan bencana di fasilitas kesehatan. Tim pertama merekomendasikan untuk manajemen air, potensi wabah, pembuatan regional disaster plan agar sektor kesehatan bisa melakukan persiapan. Tim kedua yang diterjunkan ke Bima mulai 18 – 21 Januari 2017 terdiri dari 4 orang yang terbagi menjadi 2 grup yaitu: Grup 1 terdiri dari Dr. Ir. Agus Maryono dan Rifqi Amrillah Abdi yang berfokus pada penerapan teknologi alat pemanen air hujan. Grup 2 terdiri dari Prof. dr. Hari Kusnanto, DrPH dan Bayu Fandhi Achmad, S.Kep., Ns., M.Kep. yang berfokus pada studi kesehatan lingkungan. Tim selanjutnya dibagi menjadi 2 yaitu 1 grup bergerak ke kantor Dinas Kesehatan Kota Bima untuk mempresentasikan teknologi alat pemanen air hujan pada perwakilan puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Bima serta 1 grup bergerak untuk mempersiapkan berbagai alat dan bahan yang akan digunakan untuk pembuatan alat pemanen air hujan tersebut. Prof. dr. Hari Kusnanto juga melakukan survey keliling untuk melihat permasalahan kesehatan lingkungan di kota Bima. Tim kedua masih merekomendasikan untuk tim berikutnya untuk mengelola air di kota Bima dan mengelola lingkungan kota Bima bisa tertata dan mencegah banjir datang. Harapannya akan ada program jangka panjang untuk membangun kota Bima.

Dok. PKMK FK UGM. Sesi Tanggapan dan Diskusi

Pada sesi Diskusi dan Tanggapan,  dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A(K).Ph.D menanggapi mengenai kesulitan komunikasi birokrasi di daerah bencana dan mengapresiasi pengorbanan dari tim yang sudah meluangkan waktu untuk ke daerah bencana bahkan saat hari libur nasional. Mei juga menyampaikan pentingnya sektor kesehatan untuk menjalin kerjasama dengan lintas sektor dan kearifan lokal yang ada di masing-masing daerah bencana. Tanggapan kedua diberikan oleh Dr. rer. nat. dr. BJ Istiti Kandarina menyampaikan peran aktif dari Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Kedokteran (KAGAMA Dok) di setiap daerah untuk selalu bertukar informasi terutama yang berkaitan dengan bencana dan selain itu juga sangat tertarik dengan cerita dari kearifan lokal di masing-masing daerah bencana.

Tanggapan diberikan oleh Prof. dr. Yati Soenarto Sp.A (K) mengenai harapannya untuk kegiatan ini tidak hanya sekali saja pergi ke daerah bencana dan kemudian hit and run namun harus dilakukan secara berkesinambungan serta membantu untuk pasca terjadinya bencana. Tanggapan selanjutnya diberikan oleh Kudiyana yang berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta mengenai dana siap pakai yang digunakan saat terjadi bencana. Dana siap pakai untuk membantu masih sangat sulit birokrasinya maka perlu ada evaluasi bersama pemerintah daerah mengenai dana bantuan ini.

Acara ditutup oleh dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A(K) yang menyampaikan kesimpulan dimana koordinasi sangat penting bahkan sebelum tim bencana itu berangkat. Selain itu, kesinambungan juga sangat penting agar yang kita kerjakan dapat berkelanjutan dan terintegrasi sehingga dapat meningkatkan SDM yang ada didaerah bencana. Hal-hal yang kita kerjakan sangat baik didokumentasikan baik seperti acara webinar dan juga menjadi bahan-bahan penelitian.

 

Materi Presentasi: