logo2

ugm-logo

Palangka Raya Diselimuti Kabut Asap: Ketika Balita Kesulitan Bernapas

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, bukan lagi sekadar mengganggu jarak pandang, tetapi juga menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat. Pada 25 Oktober 2026, kualitas udara yang memburuk dilaporkan berdampak pada warga, termasuk seorang balita berusia 1 tahun 5 bulan yang mengalami sesak napas dan membutuhkan bantuan oksigen. Sehari sebelumnya, jarak pandang di Palangka Raya dilaporkan hanya sekitar 100 meter, menggambarkan pekatnya asap yang menyelimuti kota. Di tengah kondisi ini, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan menjadi kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih besar. Situasi tersebut juga menjadi tantangan bagi manajemen krisis kesehatan, mulai dari pemantauan kualitas udara dan gejala penyakit, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, hingga akses pertolongan bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan. Ketika seorang anak kesulitan bernapas akibat udara yang tercemar, bencana tidak lagi terasa jauh, dampaknya hadir langsung di rumah dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Selengkapnya:

1.     Berita:

2.     Jurnal: https://doi.org/10.1093/ije/dyaf169   

Saat Hutan Terbakar, Kesehatan Kita Juga Terancam: Pentingnya Siaga Krisis Kesehatan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya tentang hutan yang terbakar, tetapi juga tentang kesehatan dan keselamatan masyarakat yang ikut terancam. Berdasarkan laporan BNPB per 18 Oktober 2026, kebakaran di lereng Gunung Lawu dan Gunung Arjuno menjadi pengingat bahwa kondisi alam yang kering, angin kencang, dan sulitnya akses menuju lokasi dapat memperumit penanganan bencana. Asap kebakaran dapat mengganggu pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit tertentu, sementara kekeringan dapat menyulitkan masyarakat memperoleh air bersih. Karena itu, penanganan bencana perlu memperhatikan lebih dari sekadar memadamkan api: masyarakat juga membutuhkan informasi yang jelas, perlindungan kesehatan, akses layanan medis, dan perhatian khusus bagi kelompok rentan. Inilah mengapa manajemen krisis kesehatan dan bencana penting, yaitu memastikan berbagai pihak siap bekerja sama agar dampak bencana terhadap kehidupan dan kesehatan masyarakat dapat dikurangi. Sebab, ketika bencana terjadi, menyelamatkan nyawa berarti juga melindungi kesehatan masyarakat sejak awal hingga masa pemulihan.

Selengkapnya:

1.     Berita: https://www.bnpb.go.id/berita/perkembangan-situasi-dan-penanganan-bencana-di-tanah-air-18-oktober-2026         

2.     Jurnal: https://link.springer.com/article/10.1186/s12940-024-01079-x  

More Articles ...