Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman di Kalimantan Selatan di tengah puncak musim kemarau 2026. Hingga 21 Agustus, BNPB melaporkan penanganan karhutla di sembilan wilayah Kalsel, termasuk Banjar, Banjarbaru, Tanah Bumbu, Tanah Laut, dan Barito Kuala, dengan operasi darat terus diperkuat untuk mengendalikan titik api. Di balik upaya pemadaman, karhutla juga berpotensi berkembang menjadi krisis kesehatan ketika paparan asap dan partikulat meningkatkan risiko gangguan pernapasan serta memperburuk kondisi kelompok rentan. Karena itu, manajemen bencana kesehatan perlu berjalan bersamaan dengan penanganan api melalui pemantauan kualitas udara, surveilans dampak kesehatan, komunikasi risiko, perlindungan kelompok rentan, dan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan. BMKG Kalsel sebelumnya juga mengingatkan bahwa puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus–September dengan risiko karhutla yang meningkat, sehingga kesiapsiagaan lintas sektor menjadi semakin penting. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla bukan hanya persoalan pemadaman, tetapi juga bagaimana sistem kesehatan mampu mencegah dan merespons dampak kesehatan sebelum berkembang menjadi krisis yang lebih luas.
Selengkapnya:
1. Berita:
- https://www.bnpb.go.id/berita/
perkembangan-situasi-dan- penanganan-bencana-di-tanah- air-22-agustus-2026 - https://diskominfomc.
kalselprov.go.id/2026/07/06/ bmkg-puncak-musim-kemarau- kalsel-diperkirakan-terjadi- agustus-september-risiko- karhutla-meningkat/
2. Jurnal: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/


Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 tidak hanya menimbulkan korban dan kerusakan, tetapi juga menguji kemampuan sistem kesehatan untuk tetap memberikan pelayanan di tengah situasi darurat. BNPB melaporkan bahwa RSUD Manggarai mengalami kerusakan sehingga sebagian pelayanan sementara dilakukan di area rumah sakit, dan pemerintah menyiapkan rumah sakit lapangan untuk menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan. Sementara itu, BMKG mencatat hingga 17 Agustus telah terjadi 1.624 gempa susulan dengan magnitudo 1,3-6,2, sehingga masyarakat dan pemerintah masih perlu mempertahankan kewaspadaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa respons bencana tidak cukup hanya berfokus pada evakuasi dan bantuan logistik, tetapi juga membutuhkan kesiapan fasilitas kesehatan, tenaga medis, sistem rujukan, serta ketersediaan layanan darurat. Studi mengenai ketahanan rumah sakit pascagempa menunjukkan bahwa kemampuan fasilitas kesehatan untuk mempertahankan fungsi pelayanan dan beradaptasi terhadap kondisi yang berubah menjadi komponen penting dalam respons bencana. Gempa Flores kembali menegaskan bahwa ketangguhan sistem kesehatan merupakan bagian penting dari keselamatan masyarakat dalam menghadapi bencana besar.