logo2

ugm-logo

Karhutla Mengintai: Lindungi Kesehatan Sejak Dini di Musim Kemarau

Memasuki musim kemarau 2026, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meningkat di sejumlah wilayah Indonesia, terutama pada daerah rawan kekeringan. Kondisi kering akibat variabilitas iklim dapat memperbesar potensi titik panas yang berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Paparan asap karhutla diketahui meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, serta memperburuk kondisi penyakit kronis, khususnya pada anak-anak dan lansia. Upaya promotif dan preventif menjadi sangat penting, seperti mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menggunakan masker, menjaga ventilasi rumah, serta memastikan kecukupan cairan tubuh. Masyarakat juga didorong untuk aktif memantau informasi kualitas udara dan segera mengakses layanan kesehatan jika mengalami gejala gangguan pernapasan. Kajian internasional menunjukkan bahwa paparan asap kebakaran hutan memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan populasi dan memerlukan intervensi berbasis komunitas serta kebijakan lintas sektor untuk mitigasi yang efektif. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci dalam menekan dampak krisis kesehatan akibat karhutla sejak dini.

Selengkapnya:

1.     Website resmi: https://www.bmkg.go.id

2.     Berita: https://kemenlh.go.id/news/detail/ancaman-nyata-karhutla-2026-klhbplh-bentuk-satgas-untuk-perkuat-respons-dini

3.     Artikel ilmiah: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27082891/

Pasca Lebaran Tetap Waspada: Cegah Penyakit Pascabencana dengan Langkah Sederhana

Pasca Idul Fitri, meningkatnya aktivitas masyarakat dan kondisi lingkungan pascabencana dapat memicu munculnya berbagai penyakit berbasis lingkungan. Oleh karena itu, langkah promotif seperti menjaga kebersihan tempat tinggal, memastikan kualitas air minum, serta pengelolaan sampah menjadi kunci utama dalam mencegah penularan penyakit. Masyarakat juga diimbau untuk tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk mencuci tangan dan menjaga sanitasi keluarga. Secara preventif, pemantauan kondisi kesehatan anggota keluarga, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, perlu ditingkatkan untuk mendeteksi dini potensi gangguan kesehatan. Studi internasional menunjukkan bahwa intervensi berbasis sanitasi, air bersih, dan edukasi kesehatan mampu menurunkan risiko penyakit pascabencana secara signifikan. Kolaborasi antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan publik pada fase pemulihan ini. Momentum pasca Lebaran menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat kembali komitmen hidup sehat dan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana.

Selengkapnya:

A.    Portal resmi

  1. BNPB (Informasi Bencana)
  2. Kemenkes RI (Germas-Gerakan Masyarakat Hidup Sehat)
  3. UNICEF (WASH in emergencies 

B.    Jurnal

  1. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2725828/

More Articles ...