Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, bukan lagi sekadar mengganggu jarak pandang, tetapi juga menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat. Pada 25 Oktober 2026, kualitas udara yang memburuk dilaporkan berdampak pada warga, termasuk seorang balita berusia 1 tahun 5 bulan yang mengalami sesak napas dan membutuhkan bantuan oksigen. Sehari sebelumnya, jarak pandang di Palangka Raya dilaporkan hanya sekitar 100 meter, menggambarkan pekatnya asap yang menyelimuti kota. Di tengah kondisi ini, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan menjadi kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih besar. Situasi tersebut juga menjadi tantangan bagi manajemen krisis kesehatan, mulai dari pemantauan kualitas udara dan gejala penyakit, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, hingga akses pertolongan bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan. Ketika seorang anak kesulitan bernapas akibat udara yang tercemar, bencana tidak lagi terasa jauh, dampaknya hadir langsung di rumah dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Selengkapnya:
1. Berita:
- https://www.beritasatu.com/
nusantara/3036330/udara- palangka-raya-masuk-level- berbahaya-akibat-kabut-asap- karhutla - https://prokalteng.jawapos.
com/humanoria/feature/25/10/ 2026/dampak-kabut-asap- karhutla-balita-di-palangka- raya-sesak-napas/#goog_ rewarded
2. Jurnal: https://doi.org/10.1093/ije/

