logo2

ugm-logo

Anak Krakatau Kembali Aktif, Kesiapsiagaan Kesehatan Tak Boleh Lengah

Anak Krakatau Kembali Aktif, Kesiapsiagaan Kesehatan Tak Boleh Lengah

Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berstatus Level III (Siaga) kembali menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana vulkanik di Indonesia. Badan Geologi melalui PVMBG melaporkan bahwa gunung api ini mengalami beberapa kali erupsi sejak awal Juli 2026 dan mengimbau masyarakat, nelayan, serta wisatawan untuk tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Selain ancaman material vulkanik, erupsi juga berpotensi menimbulkan krisis kesehatan akibat paparan abu vulkanik yang dapat memicu gangguan pernapasan, iritasi mata, hingga mengganggu pelayanan kesehatan apabila aktivitas vulkanik meningkat. Penguatan sistem peringatan dini, kesiapan fasilitas kesehatan, serta edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko kesehatan pada kelompok rentan selama periode aktivitas gunung api. Temuan ilmiah juga menunjukkan bahwa mitigasi dampak kesehatan perlu menjadi bagian integral dari manajemen risiko bencana vulkanik guna melindungi masyarakat di wilayah terdampak.

Selengkapnya:

1.     Berita:

2.     Jurnal: https://doi.org/10.1007/s00445-021-01513-9  

 

 

Bencana Tidak Berdampak Sama: Perempuan dan Kelompok Rentan Memerlukan Perlindungan yang Lebih Inklusif

Bencana Tidak Berdampak Sama: Perempuan dan Kelompok Rentan Memerlukan Perlindungan yang Lebih Inklusif

Bencana tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga dapat memicu krisis kesehatan yang berdampak lebih besar pada perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Oleh karena itu, manajemen bencana kesehatan memerlukan data yang mampu mengidentifikasi siapa yang paling berisiko agar layanan kesehatan, evakuasi, logistik medis, dan pemulihan dapat direncanakan secara tepat sasaran. Sejalan dengan hal tersebut, BNPB tengah memfinalisasi studi penduduk terpapar bencana dengan mengintegrasikan data berdasarkan jenis kelamin, usia, dan status disabilitas (Sex, Age, and Disability Disaggregated Data/SADDD) sebagai dasar penyusunan kebijakan penanggulangan bencana yang lebih inklusif dan berbasis bukti. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat pengambilan keputusan dalam setiap fase manajemen bencana kesehatan, mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa pemanfaatan data terpilah mampu meningkatkan efektivitas respons kesehatan, mengurangi kesenjangan akses layanan, serta memperkuat ketahanan sistem kesehatan dalam menghadapi bencana di masa mendatang.

Jurnal: https://doi.org/10.3390/disabilities3040042

More Articles ...