logo2

ugm-logo

Bencana Tak Lagi Mengenal Batas Negara, ASEAN Perkuat Resiliensi Hadapi Krisis Kesehatan dan Iklim

Bencana, perubahan iklim, dan kedaruratan kesehatan kini menjadi ancaman lintas negara yang tidak dapat ditangani secara sendiri-sendiri. Dalam Pertemuan ASEAN Committee on Disaster Management (ACDM) ke-48, Indonesia menegaskan pentingnya membangun resiliensi berkelanjutan melalui penguatan kesiapsiagaan masyarakat, sistem peringatan dini, serta kolaborasi regional dalam menghadapi risiko bencana yang semakin kompleks. Pendekatan ini menjadi penting karena setiap bencana berpotensi memicu krisis kesehatan, mulai dari meningkatnya korban jiwa dan cedera hingga terganggunya layanan kesehatan, munculnya penyakit menular, dan dampak psikososial pada masyarakat terdampak. Oleh karena itu, penguatan sistem kesehatan yang tangguh, koordinasi lintas sektor, dan kerja sama antarnegara menjadi bagian penting dalam manajemen bencana kesehatan di kawasan ASEAN. Bukti ilmiah juga menunjukkan bahwa tata kelola yang terintegrasi dan kolaborasi multipihak merupakan fondasi utama dalam meningkatkan ketahanan sistem kesehatan terhadap berbagai ancaman bencana dan krisis di masa depan.

Selengkapnya:

1.     Berita: https://www.bnpb.go.id/berita/buka-pertemuan-acdm-ke-48-bnpb-sampaikan-5-pesan-kunci-terkait-resiliensi-berkelanjutan-asean   

2.     Jurnal: https://doi.org/10.15171/ijhpm.2016.155

Anak Krakatau Kembali Aktif, Kesiapsiagaan Kesehatan Tak Boleh Lengah

Anak Krakatau Kembali Aktif, Kesiapsiagaan Kesehatan Tak Boleh Lengah

Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berstatus Level III (Siaga) kembali menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana vulkanik di Indonesia. Badan Geologi melalui PVMBG melaporkan bahwa gunung api ini mengalami beberapa kali erupsi sejak awal Juli 2026 dan mengimbau masyarakat, nelayan, serta wisatawan untuk tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Selain ancaman material vulkanik, erupsi juga berpotensi menimbulkan krisis kesehatan akibat paparan abu vulkanik yang dapat memicu gangguan pernapasan, iritasi mata, hingga mengganggu pelayanan kesehatan apabila aktivitas vulkanik meningkat. Penguatan sistem peringatan dini, kesiapan fasilitas kesehatan, serta edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko kesehatan pada kelompok rentan selama periode aktivitas gunung api. Temuan ilmiah juga menunjukkan bahwa mitigasi dampak kesehatan perlu menjadi bagian integral dari manajemen risiko bencana vulkanik guna melindungi masyarakat di wilayah terdampak.

Selengkapnya

More Articles ...