Gempa M 7,7 di Sulawesi Utara: Ancaman Tsunami Kembali Uji Kesiapsiagaan Kesehatan Indonesia
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi di wilayah Laut Sulawesi pada Senin (8/6) memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah Indonesia bagian timur, termasuk Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Timur. BMKG mencatat episenter gempa berada sekitar 244 km barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 47 km, sehingga berpotensi menimbulkan tsunami dan mendorong evakuasi masyarakat pesisir. Meskipun peringatan dini tsunami kemudian diakhiri, kejadian ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi krisis kesehatan pascabencana. Selain risiko korban luka dan kematian, gempa dan tsunami dapat menyebabkan gangguan layanan kesehatan, keterbatasan akses pelayanan medis, masalah kesehatan lingkungan di lokasi pengungsian, hingga dampak psikologis pada masyarakat terdampak. Pengalaman berbagai bencana besar menunjukkan bahwa ketahanan fasilitas kesehatan menjadi faktor penting dalam menekan angka kesakitan dan kematian saat keadaan darurat. Oleh karena itu, penguatan sistem peringatan dini, kesiapsiagaan rumah sakit, serta koordinasi lintas sektor perlu terus ditingkatkan untuk menghadapi ancaman bencana geologi yang masih tinggi di kawasan Indonesia timur.


Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali mengalami erupsi dengan kolom abu vulkanik mencapai sekitar 1,5 kilometer di atas puncak pada Minggu (19/7). Aktivitas vulkanik ini menegaskan bahwa masyarakat di sekitar gunung masih menghadapi risiko paparan abu vulkanik, yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata, serta menurunkan kualitas udara, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis. Selain berdampak pada kesehatan masyarakat, erupsi juga berpotensi mengganggu akses pelayanan kesehatan dan proses evakuasi apabila aktivitas gunung meningkat. Oleh karena itu, kesiapsiagaan sektor kesehatan melalui penyediaan alat pelindung diri, pemantauan kualitas udara, serta kesiapan fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dalam manajemen bencana kesehatan. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa paparan abu vulkanik dapat meningkatkan kejadian gangguan saluran pernapasan dan memperbesar kebutuhan pelayanan kesehatan pada wilayah terdampak erupsi.