logo2

ugm-logo

Lewotobi Kembali Erupsi, Ancaman Krisis Kesehatan Mengintai Masyarakat

Lewotobi Kembali Erupsi, Ancaman Krisis Kesehatan Mengintai Masyarakat

InfoPublik - [SIARAN PERS] Gunung Lewotobi Laki-Laki kembali Erupsi,  Masyarakat Dilarang Beraktivitas di Radius 7 KmGunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali mengalami erupsi dengan kolom abu vulkanik mencapai sekitar 1,5 kilometer di atas puncak pada Minggu (19/7). Aktivitas vulkanik ini menegaskan bahwa masyarakat di sekitar gunung masih menghadapi risiko paparan abu vulkanik, yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata, serta menurunkan kualitas udara, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis. Selain berdampak pada kesehatan masyarakat, erupsi juga berpotensi mengganggu akses pelayanan kesehatan dan proses evakuasi apabila aktivitas gunung meningkat. Oleh karena itu, kesiapsiagaan sektor kesehatan melalui penyediaan alat pelindung diri, pemantauan kualitas udara, serta kesiapan fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dalam manajemen bencana kesehatan. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa paparan abu vulkanik dapat meningkatkan kejadian gangguan saluran pernapasan dan memperbesar kebutuhan pelayanan kesehatan pada wilayah terdampak erupsi.

Selengkapnya:

Berita          Jurnal

Karhutla Kembali Mendominasi, Ancaman Krisis Kesehatan di Musim Kemarau Perlu Diwaspadai

Karhutla Kembali Mendominasi, Ancaman Krisis Kesehatan di Musim Kemarau Perlu Diwaspadai

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mendominasi kejadian bencana di Indonesia seiring meningkatnya kondisi cuaca kering pada musim kemarau. Berdasarkan laporan BNPB, karhutla terjadi di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, yang menghanguskan sekitar tiga hektare lahan dan berhasil dipadamkan oleh tim gabungan. Meskipun skala kejadian masih terbatas, karhutla berpotensi berkembang menjadi krisis kesehatan apabila menghasilkan kabut asap yang meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, serta memperburuk penyakit pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis. Dalam perspektif manajemen bencana kesehatan, upaya deteksi dini, pemadaman cepat, serta perlindungan masyarakat dari paparan asap menjadi langkah penting untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih luas. Penelitian juga menunjukkan bahwa paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan berkaitan dengan peningkatan gangguan pernapasan dan beban pelayanan kesehatan, sehingga kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana dan krisis kesehatan.

Selengkapnya:

1.     Berita: https://www.bnpb.go.id/berita/perkembangan-situasi-dan-penanganan-bencana-di-tanah-air-tanggal-12-juli-2026

2.     Jurnal: https://doi.org/10.1289/ehp.1409277  

More Articles ...