logo2

ugm-logo

Tsunami 20 Meter Ancam Bali, BMKG Minta Pemda Mitigasi Bencana 28 Negara Gelar Latihan Mitigasi Tsunami

ANGUPURA -­ Sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami gempa megathrust yang berpotensi  tsunami.

Begitu juga pulau Bali juga berpotensi  terhadap gempa dan ancaman tsunami tersebut. Sehingga masyarakat juga diharapkan selalu waspada.

Kepala Sub Bidang Pengumpulan dan Penyebaran BBMKG Wilayah III Denpasar Dwi Hartanto menerangkan, ancaman gempa megathrust dan tsunami sangat berpotensi terjadi di sejumlah wilayah di Bali.

Karena hampir semua wilayah Indonesia terutama Sebelah Barat Sumatera, Selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara hingga laut Maluku mempunyai potensi gempa gempa besar yang dapat menimbulkan tsunami.

Kalau di lihat peta buku pusgen 2017, di wilayah Selatan Jawa dan Bali terdapat segmen-segmen gempa dengan magnitudo bervariasi 8.5 sampai dengan  8.7.

“Kalau segmen-segmen tersebut pecah secara bersamaan dapat menghasilkan gempa dengan Magnitudo 9.1, ” terang Dwi Hartanto kemarin.

Dengan magnitudo 9.1 dapat menimbulkan tsunami setinggi 20 meter di sepanjang pantai Jawa, termasuk Bali. Sehingga perlu ditingkatkan mitigasi kesiapsiagaan masyarakat, pemerintah bila mana gempa tersebut terjadi.  

“Karena sampai sekarang kita tidak bisa memprediksi gempa gempa tersebut akan muncul, ” beber Dwi Hartanto.

Selain itu, juga akan digelar Indian Ocean Wave Exercise 2020 (IOWave20) tanggal 6 Oktober 2020 dalam rangka latihan kesiapan menghadapi tsunami di kawasan Samudera Hindia yang diikuti 28 Negara di Samudera Hindia.

IOWave20 merupakan latihan rutin 2 tahunan sistem peringatan dini dan mitigasi tsunami untuk negara-negara di sepanjang tepian Samudera Hindia (ICG/IOTWMS).

IOWave pernah dilakukan pada tahun 2009, 2011, 2014, 2016 dan 2018. Tujuan dari latihan ini yaitu untuk memvalidasi rantai informasi gempabumi

dan peringatan dini tsunami mulai dari diseminasi, pemahaman produk dan moda komunikasi serta melatih kesiapsiagaan daerah, masyarakat dan media dalam menghadapi tsunami serta menguji Standar Operasional Prosedur (SOP).

Karena  untuk skenario tsunami magnitudo  9.1 di selatan Jawa Timur, kecuali Buleleng Timur. Sementara kalau untuk skenario di utara Bali seperti tentunya daerah Buleleng yang berpotensi.

Selain itu Pantai Kuta, Nusa Penida, Sanur, Jembrana, Pantai Tabanan, Pantai Gianyar, Pantai Karangasem juga berpotensi.  

“Nah, dengan latihan ini (IOWave20), diharapkan sistem peringatan dini tsunami kita siap dan berjalan dengan baik jika sewaktu-waktu tsunami terjadi, ” ungkapnya.

Sementara Kepala BPBD Badung Bagus Nyoman Wiranata, membenarkan jika Badung telah memiliki skenario tanggap bencana gempa bumi.

Tanggap bencana ini berkoordinasi dengan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

“Skenario menghadapi gempa di  Kabupaten Badung telah memiliki rekonstruksi gempa bumi dan tsunami. Bahkan, di dalam renkon terdapat  susunan komando tanggap darurat,” ujar Wiranata.

Menurutnya, tanggap bencana melibat semua lini, baik dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), alat berat dan peralatan kesehatan. Termasuk, tempat evakuasi yang harus dituju ketika terjadi bencana.

“Dalam tanggap bencana, kami berkoordinasi dengan OPD akan mengerahkan masing-masing kemampuan yang dimiliki oleh OPD atau steakholder.

Seperti, SDM, peralatan, maupun obat-obatan termasuk tempat evakuasi yang harus dituju,” pungkasnya. 

(rb/dwi/mus/JPR)

BMKG Ingatkan Dampak La Nina: Curah Hujan Tinggi hingga Potensi Bencana Banjir

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) Supari mengingatkan adanya fenomena La Nina yang dapat berdampak pada anomali cuaca yang berujung pada bencana hidrometeorologi.

Namun, dampak tersebut sangat bergantung pada musim dan bulan, wilayah serta intensitasnya.

"Berdasarkan analisis dari potret data suhu permukaan laut di Pasifik, saat ini La Nina sudah teraktivasi di Pasifik Timur," ujar Supari sebagaimana dikutip dari siaran pers BNPB, Kamis (1/10/2020).

"Kondisi ini dapat memicu frekuensi dan curah hujan wilayah Indonesia pada bulan-bulan ke depan, bahkan hingga April tahun depan jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya," lanjutnya menjelaskan.

Supari mengungkapkan, dampak La Nina dapat memicu curah hujan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.

Sehingga potensi banjir, banjir bandang dan tanah longsor ke depan perlu diwaspadai oleh masyarakat.

Menyikapi fenomena ini, dia menyampaikan perlunya kewaspadaan terhadap kondisi hujan di atas normal pada sepuluh hari pertama hingga sepuluh hari kedua Oktober.

“Beberapa provinsi pun diperkirakan akan memasuki musim hujan pada Oktober 2020,” ungkap Supari.

Adapun prakiraan awal musim hujan akan terjadi pada Oktober dengan wilayah teridentifikasi di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan sebagian kecil Sulawesi, Maluku Utara dan sebagian kecil Nusa Tenggara Barat.

Secara rinci, prakiraan tersebut untuk wilayah Sumatera, seperti di pesisir timur Aceh, sebagian Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka dan Lampung.

Lalu, awal musim hujan di wilayah Jawa diprakirakan terjadi di Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, sebagian kecil Jawa Timur.

"Sementara itu, di wilayah Kalimantan, potensi hujan di sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara," papar Supari.

More Articles ...