logo2

ugm-logo

Antisipasi Tsunami, Ekspedisi Desa Tangguh Bencana Digelar di Kebumen

KEBUMEN - Ada cara unik masyarakat Kebumen untuk selamat dari bencana tsunami. Cara yang harus dilakukan saat tsunami datang, adalah dengan kukut-kukut (kemas-kemas) dan langsung lari serta menek uwit (naik pohon).

Cara itu disampaikan salah satu siswi SMKN 1 Ambal Kebumen, Vika Lestari kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat mengikuti acara ekspedisi desa tangguh bencana (Destana)Tsunami, Selasa (30/7/2019). Saat ditanya Ganjar tentang bagaimana cara menyelamatkan diri saat tsunami datang, Vika dengan mantab menjawab pertanyaan itu.

"Ayo siapa yang tahu bagaimana caranya menyelamatkan diri saat ada bencana tsunami?," tanya Ganjar saat memberi materi di SMKN 1 Kebumen.

Seorang siswi bernama Vika Lestari langsung maju ke depan. Dengan bahasa yang lugu, Vika menjawab pertanyaan itu dan membuat suasana ger-geran. "Caranya kukut-kukut terus mlayu pak (kemas-kemas terus lari). Larinya ke tempat yang tinggi," jawab Vika.Mendengar itu semua peserta tertawa, termasuk Ganjar.

Seolah belum puas, Ganjar kembali menanyakan hal yang lucu kepada Vika. "Nek ora sempet mlayu kepiye (kalau tidak sempat lari bagaimana)," tanya Ganjar lagi. "Menek uwit pak (manjat pohon pak)," jawab Vika tegas.

"Memang harus pakai bahasa sederhana, seperti yang dikatakan Vika, kalau ada tsunami langsung kukut-kukut terus mlayu (kemas-kemas langsung lari), menek uwit sing dhuwur (manjat pohon tinggi). Pemahaman semacam ini harus terus diberikan pada masyarakat," terang Ganjar sambil memberikan sejumlah hadiah kepada para siswa.

Ganjar menerangkan, selama ini masyarakat khawatir apabila ada informasi terkait bencana. Padahal lanjut dia, tidak ada yang perlu ditakutkan. Hal yang harus dilakukan adalah siap dengan berbagai potensi bencana yang ada dan mencari cara untuk menyelamatkan diri.

"Ndak usah geger, tenang saja. Kan memang kita hidup di negara bencana. Maka kita harus paham bagaimana caranya mitigasi, melakukan evakuasi saat terjadi bencana dan lainnya. Mari kita selalu harmoni dengan alam dan berkompromi dengan alam," terangnya.

Pemerintah lanjut dia juga tidak tinggal diam. Selain memberikan sosialisasi, pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah alat pendeteksi bencana termasuk tsunami. "Tapi tolong, itu dirawat. Jangan ada yang mencuri. Saya ingin Kebumen menjadi contoh," pungkasnya.

Kegiatan sosialisasi kebencanaan di Kebumen tersebut tidak hanya dilakukan Ganjar. Dalam kesempatan itu, hadir pula Kepala BNPB, Letjen Doni Monardo dan Kepala BMKG, Dwikorita.

Doni Monardo mengatakan, kesadaran masyarakat akan potensi bencana perlu terus ditingkatkan. Dengan sosialisasi terus menerus, maka masyarakat akan terbiasa dan tidak takut menghadapi bencana.

"Kita semua harus menyadari bahwa Indonesia kawasan yang sangat rentan. Sejumlah bencana pernah terjadi di negeri ini, dan yakinlah suatu saat bencana itu akan terulang, karena alam selalu mencari keseimbangan," katanya.

Pascabencana Sulteng, Pemerintah Mulai Bangun Hunian Tetap

Pascabencana Sulteng, Pemerintah Mulai Bangun Hunian Tetap

JawaPos.com – Rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa bumi, tsunami, serta likuifaksi di Sulawesi Tengah (Sulteng) masih terus berjalan. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah, menargetkan tahapan tersebut rampung dikerjakan dalam dua tahun. Untuk memastikan proyek berjalan lancar, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto meninjau langsung kondisi terkini lokasi terdampak bencana di sana, Senin (1/7).

Wiranto memastikan, komitmen pemerintah untuk terus mengawal pemulihan seluruh daerah terdampak bencana di Sulteng. Baik yang terdampak gempa bumi, tsunami, maupun likuifaksi. “Memulihkan kondisi masyarakat terdampak bencana,” terang Wiranto. Pasca bencana melanda Sulteng akhir September tahun lalu, dia menyebut tahapan tanggap darurat dan transisi darurat sudah dilalui dengan baik.

Bahkan, Wiranto menilai kondisi daerah-daerah terdampak bencana di Sulteng sudah mulai menunjukan perubahan positif. “Saya melihat roda ekonomi sudah berjalan,” ungkap mantan panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) itu. Karena itu, tahapan berikutnya yang digenjot pemerintah saat ini adalah rehabilitasi dan rekonstruksi. Yakni dengan menyediakan hunian tetap untuk korban terdampak bencana.

Dengan begitu, masyarakat yang saat ini masih tinggal di lokasi pengungsian segera punya tempat tinggal tetap. “Fokus utama pada tahap (rehabilitasi dan rekontsruksi) ini adalah pembangunan hunian tetap bagi para pengungsi yang saat ini masih berada di tenda-tenda pengungsian maupun di hunian sementara,” terang Wiranto. Dia berharap, proses tersebut tidak memakan waktu lebih dari dua tahun.

Sesuai dengan rencana awal, lanjut Wiranto pada tahap awal jumlah hunian tetap yang akan akan dibangun sebanyak 3.800 unit. Seluruhnya tersebar di tiga lokasi berbeda. Yakni di wilayah Tondo, Duyu, dan Pombewe. Ribuan hunian tetap itu dibangun pemerintah bersama Yayasan Buddha Tzu Chi. Dia sadar betul, jumlah tersebut memang belum cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. “Namun pemerintah terus berupaya memenuhi kebutuhan huntap,” terangnya.

Karena itu, dia memastikan pemerintah akan terus menambah jumlah hunian tetap untuk memenuhi kebutuhan tersebut. “Baik yang didukung melalui dana APBN maupun pnjaman luar negeri,” tutur Wiranto. Dalam peninjauan di Pombewe, Kabupaten Sigi, Sulteng, Wiranto sempat menekankan supaya peresmian pembangunan yang dilaksanakan kemarin tidak sebatas seremoni belaka. Apalagi sampai mangkrak. Semua harus terlaksana sebagaimana sudah disusun.

Kepala Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto menyebutkan bahwa pembangunan hunian tetap di Sulteng bakal dilaksanakan dalam tiga tahap. Sebanyak 3.800 hunian tetap yang dibangun pada tahap pertama seluruhnya dikerjakan bersama pihak swasta. Sedangkan yang akan dibangun oleh Kementerian PUPR masih dalam tahap lelang. “Lebih kurang dua bulan lagi,” imbuhnya.

More Articles ...