logo2

ugm-logo

table top 2 Medical Emergency

Tujuan

  1. Pengenalan mengenai manajemen bencana
  2. Memahami peran sektor kesehatan pada penanggulangan bencana
  3. Mampu melakukan preparedness dengan
    1. Membuat analisa situasi,
    2. Menyiapkan organisasi, dan
    3. Membuat plan of action.
  4. Mampu menyiapkan respon dan recovery

Hari 1: Sabtu, 27 Mei 2006

Alarming and Declare

Pukul 05.50
Terjadi gempa di Bantul dan Klaten. RS Sardjito yang berlokasi di Yogyakarta utara hanya mengalami kerusakan fisik yang tidak berarti. Karyawan RS yang bertugas malam sudah mengetahui adanya gempa dari media, kontak pribadi dan karena merasakan sendiri goncangan gempa yang cukup besar. Saat itu RS dalam keadaan persiapan letusan merapi. Pasien pertama yang masuk adalah seorang pengendara sepeda motor yang jatuh karena jalan yang bergoyang saat gempa.

Pertanyaan:

  1. Apakah terjadi bencana?
  2. Siapa yang harus memberi peringatan kemungkinan terjadi bencana dan kepada siapa?

Pukul 07.00

Anggota tim bencana Merapi RS sudah mulai berdatangan. Selanjutnya pasien dari Bantul mulai berdatangan masuk ke RS, ditangani seadanya di UGD. Jumlah pasien meningkat terus. Sehingga pada pkl. 10.00 pasien sudah mencapai 500 orang

Pertanyaan:

  1. Siapa yang harus menyatakan keadaan bencana?
  2. Siapa yang harus menjadi komandan saat itu?

Strategy in Chaos

Pukul 10.00
Pasien sudah mencapai 500. Pada saat itu tim bencana melakukan koordinasi dan pembagian tugas. Keadaan yang dihadapi tidak sesuai dengan persiapan. Kebutuhan jauh melebihi resources. Beberapa anggota inti tim bencana juga tidak berada di tempat. Perlu diketahui bahwa sebagian dokter bedah dan dokter anestesi saat itu tidak berada di tempat karena ada pertemuan di Bandung, Surabaya dan Makasar.

Pukul 14.00
Pasien sudah mencapai 1500. Terjadi kekacauan dalam penanganan pasien. Pasien dan petugas sama-sama ketakutan untuk memasuki bangunan karena takut roboh, sehingga diputuskan untuk membuat tenda di luar. Pasien rawat inap kosong karena semuanya diungsikan keluar ruangan semua atau memilih untuk pulang. Operasi di UGD mulai pukul 14.00. Logistik untuk pasien sudah mulai didistribusikan.

Pukul 16.00
Tercatat pasien sekitar 2000 orang. Operasi sudah mulai dikerjakan di OK UGD dan OK darurat di gedung poliklinik baru. Petugas yang melakukan pertolongan adalah petugas jaga malam yang belum pulang, jaga pagi dan petugas lain yang sukarela datang ke RS. Banyak petugas lain yang menjadi korban hidup bencana. Sebagai contoh, dari instalasi bedah pusat hanya 3 orang yang masuk kerja. Keadaan kacau karena tidak dapat dilakukan isolasi arus masuk korban dan pengunjung tidak teratur. Ruang bedah pusat tidak digunakan karena masalah keamanan/keraguan kekuatan bangunan.

Pertanyaan:

  1. Apakah triase sudah terlaksana dg baik?
  2. Jumlah tempat tidur RS adalah 700, sedangkan pasien masuk 2500 orang. Apa yang harus dilakukan?

Koordinasi Intern dan Tenaga Bantuan

Pukul 18.00
Tim konsultan datang dari Jakarta. Semua unit kerja di RS melakukan aktivitas sendiri-sendiri, secara reaktif, sesuai kemampuannya, tanpa ada koordinasi terpusat dari RS. Triase tidak jelas arahnya, mobilisasi juga tidak berjalan. Baru malam itulah mulai dilakukan re-triase, setelah pukul 18.00.

Pukul 20.00
Rapat koordinasi dilakukan oleh tim bencana RS dan relawan-relawan medis. Hasil rapat antara lain: melanjutkan apa yang sudah berjalan dengan menunjuk personel tertentu sebagai pimpinan dan melengkapi susunan tim bencana yang sebenarnya berasal dari tim bencana Merapi. Sebagai kontak person tim medis bantuan ditunjuk kepala UGD. Pendataan pasien sudah mulai dilakukan sejak pagi dikoordinir oleh bagian MR. Proses triase tidak berjalan karena jumlah korban yang jauh melebihi kemampuan.

Pukul 21.00
Tim medis dari Surabaya/Jatim sudah masuk ke RS. Komunikasi keluar dan masuk Yogya masih terganggu. Pasien terus berdatangan. Tim medis bantuan dari luar kota sudah menyatakan kesediaannya untuk datang melalui berbagai kontak person pribadi (tidak teratur koordinasinya) selain melalui kontak person RS. Tiga kamar OK UGD dioperasikan untuk 7 meja pasien ditambah 4 meja operasi darurat di gedung poliklinik baru.

Pukul 23.00
Petugas lokal sudah tidak sanggup melakukan pekerjaan. Pelayanan medis dilakukan oleh tim medis bantuan dan sebagian kecil petugas lokal yang baru datang.

Pukul 24.00
Pasien baru masih terus berdatangan. Bangunan masih dianggap belum layak untuk ditempati. Sampai hari sabtu berakhir, pihak RS masih menyatakan bangunan tidak layak pakai, walaupun tim konsultan dari Jakarta pada pukul 18.00 menyatakan bahwa semua bangunan di RS masih layak dipakai. Penggunaan fasilitas medis belum bisa maksimal. Zoning menggunakan koridor dan lain-lain berjalan situasional, tidak seperti yang direncanakan maupun kaidah zoning. Area di RS belum bisa diisolasi. Sebagian korban besar korban adalah kasus patah tulang (kurang lebih 80%), internal bleeding 10%, cedera kepala 5%, lain-lain 5%. Tidak terdapat ICU karena ICU dikosongkan sehingga tidak berfungsi.

Pertanyaan:

  1. Siapa yang harus menetapkan apakah bangunan RS masih layak huni atau tidak?
  2. Bagaimana sikap yang harus diambil menghadapi keraguan kelayakan bangunan RS?
  3. Apa yang mungkin terjadi dengan pelayanan kesehatan seperti itu?
  4. Unit kerja di RS apakah yang harus difungsikan segera?
  5. Aspek medicolegal apa yang mungkin timbul?

Hari 2: Minggu, 28 Mei 2006

Manajemen Krisis pada Bencana

Pukul 00.00
Pasien baru masih datang. Dimulai usaha untuk memasukkan pasien ke ruangan namun mengalami kesulitan karena tidak ada transporter. RS kotor karena tidak ada yang membersihkan. Pasien dewasa dimasukkan ke IRNA namun pasien tetap menolak untuk masuk. Pelayanan operasi dan penanganan pasien menurun karena petugas yang kelelahan.

Pukul 03.00
Usaha untuk memasukkan pasien ke IRNA berhasil, sekitar 40 orang bisa dimasukkan dikerjakan oleh relawan. Pasien yang bersedia masuk ke bangsal jumlahnya tidak signifikan.

Pukul 04.30
Operasi pasien terakhir di OK UGD.

Pukul 08.00
Ada berita bahwa ada perintah untuk evakuasi pasien ke kota-kota besar karena RS di Yogya dianggap tidak sanggup memberikan pelayanan penanganan pasien dengan baik.

Pukul 09.00
Aktivitas pelayanan medis meningkat. Petugas mulai kelelahan sementara pengganti belum datang.

Pukul 12.00
Pasien yang masuk keruangan belum bertambah. Sebagian pasien dievakuasi ke gedung PSIK FK UGM.

Pukul 20.00
Tenaga bantuan mulai bertambah banyak. Sebagian disalurkan ke luar RS dan keluar DIY, karena tenaga di RS mulai terpenuhi dan kamar OK belum mulai bekerja. Kesulitan transporter dan tenaga untuk bersih-bersih belum terpenuhi. Koordinasi relawan non-medis belum berjalan. Bantuan konsumsi bertambah banyak. Pencatatan medis masih terus berlangsung. Hujan mendorong pasien untuk mau masuk ruangan. Mulai terjadi kekurangan bahan medis tertentu seperti ATS dan antibiotik. ICU mulai berfungsi.

Pertanyaan:

  1. Mengapa pasien “menumpuk“ di RS? Apakah ada kemacetan pelayanan?
  2. Apakah evakuasi perlu dilakukan/tidak? Pertimbangan evakuasi tidak berdasar apa?
  3. Apakah fasilitas RS sudah dimanfaatkan secara maksimal?
  4. Apakah kelurga korban perlu diurus? Siapa yang seharusnya mengurus?
  5. Apakah problem yang kira-kira timbul pada hari kedua untuk pasien, keluarga pasien, petugas, relawan dan tim bencana RS?

Hari 3: Senin, 29 Mei 2006

Manajemen Tanpa Arah

Pukul 08.00

  • GBST belum bisa difungsikan, karena pipa air pecah sehingga air belum bisa masuk ke GBST. NGO mulai masuk ke Sardjito. Bantuan lebih banyak yang datang, semakin tidak terkoordinir dengan baik.
  • Mulai timbul kesulitan karena tim medis bantuan yang datang jumlahnya melebihi yang diperlukan.
  • Timbul masalah kompetensi antara dokter bedah umum dan ortopedi, dan antar spesialis lainnya (inter disipliner).
  • Timbul masalah pembagian tugas dalam tim RS, ada perbedaan pelaksana antara de Facto dan de Yure, karena setting tim merapi tidak sama dengan tim untuk bantul.
  • RS membuat pernyataan bangunan layak dipakai, tapi pasien dan petugas medis banyak yang meragukan.
  • Suplai obat dan bahan medis mulai berlebihan.
  • Gedung PSIK, mikrobiologi, parkir parasitologi di FK dan RS Soedomo di FKG mulai penuh dengan pasien yang akan dipulangkan (transitory place).

Pukul 12.00

  • Rapat koordinasi memutuskan tentang evakuasi dengan deadline bila hari itu GBST tidak bisa melakukan operasi, maka dilakukan evakuasi.
  • Belum terlihat adanya strategi menghadapi problem yang jelas.
  • Pencatatan medis berjalan terus, tetapi rincian tindakan medis tidak terekam dengan baik.
  • Koordinasi relawan non medis (pribadi, kelompok, maupun organisasi) mulai teratur, transporter dan kebersihan teratasi.
  • Mulai timbul masalah terhadap pengendalian logistik dan alat medis.
  • Pelayanan rutin belum berjalan, keadaan seperti ini bertahan sampai dua minggu.
  • Mulai timbul masalah perawatan harian pasien yang dirawat di RS.
  • Mulai timbul komplikasi infeksi pada pasien.
  • ICU sudah tidak mampu menampung pasien lagi.

Pertanyaan:

  1. Apa tindak lanjut timbulnya tetanus?
  2. Apa sasaran yang segera harus dicapai?
  3. Apakah kelurga korban perlu diurus? Siapa yang seharusnya mengurus?
  4. Apakah problem yang kira-kira timbul pada hari ketiga ini untuk pasien, keluarga pasien, petugas, relawan dan tim bencana RS?

Hari 4: Selasa, 30 Mei 2006

Keseimbangan Mulai Tercapai

Pukul 08.00
Pasien 90% sudah masuk ke ruangan, koridor sudah bersih, tenda di halaman RS sudah dibongkar, pasien kelompok hijau mulai dipulangkan.

Pukul 13.00
GBST mulai berjalan dengan 15 kamar operasi berfungsi dengan cukup tenaga karena ada bantuan relawan medis. GBST difungsikan untuk OK elektif. OK sementara di poliklinik baru ditutup, UGD hanya untuk operasi emergency. RSG Prof Soedomo juga ditutup karena tidak diperlukan, pasien sudah cukup ditampung di RS dan FK UGM. Tim medis asing yang baru datang dan tidak bisa bekerja di RS disalurkan ke Bantul.

Pertanyaan:

  1. Apakah fase tanggap darurat medis itu?
  2. Apakah tanggap darurat medis sudah terlewati hari itu?

Hari 5: Rabu, 31 Mei 2006

Transisi ke Situasi Normal

Masalah baru: pasien yang akan dipulangkan tidak memiliki tempat tinggal, tidak ada keluarga, tidak ada transportasi sehingga banyak pasien tidak mau/bisa pulang. Gedung parkir baru mulai dipakai sebagai ruang rawat inap. Penanganan pasien sudah terprogram, RS sudah bisa menerima rujukan pasien RS lain untuk melakukan operasi.

Pertanyaan:

  1. Kapan aturan normal bisa diberlakukan?
  2. Kapan pasien “biasa “ seharusnya mulai bisa dilayani?
  3. Apa pertimbangan untuk menentukan status siatuasi? Siapa yang menentukan?

Hari 6: Kamis, 1 Juni 2006

Kembali ke Situasi Normal

  • Penempatan pasien di ruangan sudah selesai, semua pasien sudah mendapat tempat.
  • Mulai timbul masalah pasien rutin non gempa karena poli belum buka
  • Komplikasi lebih banyak terjadi.
  • Gedung-gedung di FK mulai dikosongkan.
  • Mulai dipikirkan untuk mengakhiri masa tanggap darurat medis.
  • Timbul masalah logistik medis: beberapa obat yang diperlukan kurang, ada yang tidak diperlukan banyak, ketidaksesuaian, expire, penyimpanan, pencatatan pelaporan, kewenangan menerima (alur penerimaan).

Pertanyaan:

  1. Apakah RS perlu melibatkan diri pada penanganan korban di lapangan?
  2. Apakah RS perlu melakukan foilow up pasien?
  3. Apakah RS perlu melakukan konsolidasi dengan RS lain?
  4. Apakah RS perlu aktif dalam proses recovery – development?