logo2

ugm-logo

Reportase

Live Report ke-3 tanggal 9 Februari 2021

PENGELOLAAN BENCANA ALAM DI KALA PANDEMI

(Bencana Non-Alam)

live report 9 feb

PKMK FK - KMK UGM bekerjasama dengan Caritas Germany, sejak respon bencana Sulawesi Tengah pada 2018 hingga saat ini telah melakukan peningkatan kapasitas untuk Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, Puskesmas dan masyarakat dalam merencanakan dan merespon bencana. Oleh karena itu, untuk merespon Gempa Bumi Sulawesi Barat 15 Januari 2021 lalu, PKMK telah melakukan koordinasi dan persiapan keberangkatan tim medis dengan mengandalkan kapasitas lokal Sulawesi Tengah sebagai provinsi tetangga.

Pada Selasa, 9 Februari 2021 pukul 07.30 – 08.30 WIB langsung dari Sulawesi Barat, kembali dilaksanakan live report tim gabungan PKMK FK - KMK UGM bekerjasama dengan Caritas Germany dan kapasitas lokal Sulawesi Tengah (RS Undata, FKM Universitas Tadulako dan InWCCA Sulteng) dengan kekuatan tiga tim, tim manajemen bencana dengan narasumber Madelina Ariani, SKM, MPH., tim medis pelayanan kesehatan terdiri dari dr. Muhammad Ilham Juraij, dr. Agnesstacia Vania Lumintang, Ns. Syaiful R. Tahir, S.Kep., M.Kep, dan Armawin, A.Md.Kep dari RSUD Undata, dan Ns. Sabir, S.Kep beserta Ns. Aprianis, S.Kep dari InWCCA Sulteng. Ditambah dengan tim penyehatan lingkungan, Abdul Hamid, SKM, MKKK dan Yusril, SKM dari FKM Untad. Seperti minggu sebelumnya, acara ini kembali dimoderatori oleh apt. Gde Yulian, M.Epid.

Saat live report berlangsung, tim manajemen bencana sudah menyelesaikan tugas dan alhamdulillah kondisi semua anggota tim pada hari ini baik dan sehat, dan semua anggota tim sedang berada di pantai Manakarra. Tim gabungan ini dinamakan “Tim Gabungan Pokja Bencana FK-KMK UGM, Caritas Germany, dan Sulteng (RSUD Undata, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako dan perawat dari InCCWA Sulawesi Tengah) kembali diketuai oleh Madelina, tim ini adalah tim dengan misi dan tujuan yang sama, yaitu follow up dari project pelokalan dan pengingkatan kapasitas pasca Gempa-Tsunami dan Likuifaksi di Sulteng pada 2018, dan karena ini tim yang dibentuk saat akan berangkat, maka komunikasi dan keterbukaan antar anggota tim adalah hal yang sangat penting. Ditambahkan oleh dr. Ilham, karena merupakan tim gabungan yang baru dibentuk maka miskomunikasi beberapa kali terjadi, peran koordinator tim menjadi kunci agar komunikasi berjalan lancar, dr. Agnes juga memiliki perasaan bingung kaget dan canggung pada awalnya bekerjasama dengan tim lain di luar tim dari RS Undata. Madelina menambahkan, dirinya sebagai c\koordinator tim untuk mengatasi kekhawatiran saat menerjunkan tim mobile memberikan pelayanan ke daerah terdampak bencana diantaranya melengkapi diri dengan APD dan logistik, istirahat dan pengaturan load kerja yang disesuaikan, dan tentunya disiplin dalam menerapkan protokol Kesehatan yang hal ini diamini oleh dr Agnes yang menekankan ke disiplin penggunaan APD di pengungsian. Juga kendala di lapangan adalah cuaca panas saat penggunaan APD saat pelayanan di pengungsian tambah dr Ilham.

Program kerja/target tim gabungan ini yang pertama memberikan layanan kesehatan dalam bentuk EMT tipe-1, yang kedua tim manajemen bencana mendampingi dinas Kesehatan dan fasyankes yang ketiga adalah Kesehatan masyarakat baik promosi Kesehatan maupun penyehatan lingkungan. Di masa awal transisi ini tim mengarahkan kepada fasyankes agar mulai ke situasi normal dengan tidak meninggalkan pemantauan -pemantauan yang sudah dijalankan oleh sub - sub klaster. Ns Armawin menyampaikan salah satu targetnya melakukan pelayanan kesehatan secara mobile dan perawatan luka dan post-op dan luka dengan penyerta diabetes di wilayah Botteng Utara, Desa Taan dan wilayah Tapalang Barat. Sementara tim dari penyehatan lingkungan, Hamid dan Yusril menyampaikan target pengelolaan sampah dilakukan dengan melibatkan kepala desa dan masyarakat di bawah koordinasi dinas kesehatan dan dinas lingkungan hidup setempat. Di awal masa transisi ini juga tim perawat melakukan sosialisasi dan pendampingan perawatan luka kepada perawat puskesmas tempat tim bertugas. Dari sisi manajemen, Ketika tanggap darurat selesai pada 4 Februari 2021, koordinasi klaster kesehatan ditutup dan sub - sub klaster kesehatan melakukan serah terima upaya kesehatan bencana ke program, dimana salah satu yang menjadi tantangan adalah program imunisasi dan program gizi. relawan kesehatan yang masuk ke Sulawesi Barat masih diterima oleh Dinas Kesehatan namun sudah bukan tim EMT mobile lagi tapi menyatu dengan puskesmas yang sedang diaktifkan kembali. Sehubungan dengan ini, tim gabungan mempersiapkan puskesmas untuk dapat beroperasi seperti sebelum gempa dengan membantu dalam penyusunan alur dan sistem puskesmas darurat di wilayah penugasan, yaitu Puskesmas Botteng dan Puskesmas Satelit Tapalang Barat.

 live report 9 feb 1

Sebelum menutup live report, kembali dr Ilham menegaskan agar tim yang datang membantu pelayanan Kesehatan di wilayah terdampak bencana Sulawesi Barat untuk selalu dapat disiplin menjaga protokol kesehatan dan tidak henti hentinya melakukan edukasi dan promosi kesehatan kepada masyarakat yang masih ada di pengungsian untuk mematuhi 3M. Acara kemudian ditutup dengan mengheningkan cipta selama 15 detik sebagai tanda turut berbelasungkawa atas meninggalnya Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi barat, dr. Muhammad Alif Satria Lahmuddin, M.Kes., pada hari Ahad 7 Februari 2021 di Makassar akibat COVID-19.

Link video: https://youtu.be/Rx4xIYvRr68

Reportase oleh: apt.Gde Yulian, M.Epid.