logo2

ugm-logo

Bencana 30 Tahun Itu Kembali Menyapu Ratusan Rumah di Bengkulu

https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 14 340 2055315 bencana-30-tahun-itu-kembali-menyapu-ratusan-rumah-di-bengkulu-cC4oqPiehD.jpg

BENGKULU - Genting merupakan salah satu Desa di Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu. Daerah ini menjadi lokasi terparah banjir bandang yang menerjang provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia'' pada Jumat 26 April 2019. Beruntung, dalam bencana itu tidak korban jiwa.

Desa di Kecamatan Bang Haji itu luluh lantah dilumat banjir bandang yang membawa berbagai material. Kayu dan pepohonan yang disertai lumpur. Lumatan banjir bandang itu menyapu pemukiman penduduk yang dihuni 107 kepala keluarga (KK) di wilayah itu.

Terjang banjir bandang itu membuat pemukiman penduduk dipenuhi material lumpur dengan ketinggian sekira 30 sentimeter hingga 50 meter. Begitu juga sarana ibadah, pendidikan dan kantor desa. Banjir bandang itu dipicu luapan aliran Sungai Lemau yang berada di daerah itu.
 

Lumatan banjir bandang yang menerjang desa itu merupakan banjir terparah sepanjang 30 tahun terakhir. Air yang membawa material lumpur itu datang secara tiba-tiba, pada Jumat 26 April 2019, sekira pukul 22.01 WIB.

Dalam hitungan menit, air luapan dari Sungai Lemau itu membanjiri seluruh pemukiman penduduk di daerah itu. Ketinggian air yang mencapai 3 meter hingga 4 meter langsung meredam ratusan pemukiman penduduk.

Terjangan banjir bandang yang datang secara tiba-tiba itu mirip suara gemuruh ombak terdengar sangat kencang. Air luapan Sungai Lemau pun langsung memutuskan aliran listrik di wilayah itu. Ratusan kepala keluarga (KK) langsung berlarian menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi di daerah tersebut.

"Air sampai ke rumah sekira pukul 10 malam. Satu jam kemudian air sudah sampai ke atap rumah-rumah warga. Warga mendengar air yang datang seperti gemuruh ombak. Dalam hitungan menit air sudah tinggi," cerita Wagiman, warga Desa Genting kecamatan Bang Haji, Kabupaten Bengkulu Tengah, Minggu 13 Mei 2019.

"Suasana waktu itu gelap. Kami hanya memikirkan keselamatan keluarga, berenang mencari dataran tinggi dan tak bisa menyelamatkan harta benda," lanjut Wagiman.

Dari 107 KK yang ada di desa itu hanya lima 5 KK yang tak terdampak keganasan banjir bandang. Luapan air dari banjir bandang yang melululantakan kawasan itu baru surut dua hari kemudian atau Minggu 28 April 2019.

Sapuan terjangan banjir bandang yang begitu dahsyat menerjang Desa Genting itu merupakan bencana terparah sepanjang sejarah masyarakat menghuni daerah itu selama 30 tahun terakhir. Di mana tahun 1989, banjir sempat menerjang daerah itu. Hanya saja, banjir kala itu tidak membawa material lumpur.

"Dulu pernah ada banjir besar. Namun banjir tersebut tidak membawa material lumpur seperti banjir kali ini," cerita Yayak, warga Desa Genting Kecamatan Bang Haji, Kabupaten Bengkulu Tengah.

Pasca-banjir, berbagai elemen mulai dari organisasi kemasyarakatan, pemerintah, TNI, pun ikut membersihkan material longsor yang melumat pemukiman penduduk di daerah itu. Material longsor itu pun dibersihkan secara gotong-royong.

"Kami bekerja terus menerus untuk menyingkirkan material lumpur yang ada masuk ke dalam rumah," sampai Yayak.

Dua pekan pasca-bencana yang melanda Bengkulu. Duka mendalam masih dirasakan masyarakat yang terdampak di Desa Genting. Untuk merasakan duka itu orang nomor wahid di Provinsi Bengkulu menggelar berbuka puasa, salat bersama dengan masyarakat di desa yang menjadi daerah terparah terdampak banjir tersebut, pada Minggu 12 Mei 2019.

Kehadiran Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah itu tidak lain untuk memberi semangat kepada masyarakat yang terdampak banjir. Tidak hanya itu, Gubernur Bengkulu beserta rombongan juga memberikan bantuan. Berupa, 107 unit lampu emergensi, tas sekolah buat anak-anak, alat kebersihan, 1 tangki air bersih, kelambu tidur, masker, sembako dan serta tali kasih untuk 107 KK warga tersampak banjir.

 

JK Bertolak ke Swiss, Hadiri Forum Internasional Pengurangan Risiko Bencana

JAKARTA - Wakil Presiden RI, HM Jusuf Kalla (JK) bertolak dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Kota Jenewa, Swiss. Tujuannya, untuk menghadiri Forum Internasional Pengurangan Risiko Bencana atau Global Platform for Disaster Risk Reduction.

JK tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada Senin malam sekitar pukul 23:35 WIB bersama istri Mufidah Jusuf Kalla. Rombongan Wapres sedianya menumpang pesawat komersial pada pukul 00.40 WIB menuju Kota Doha, Qatar untuk singgah sementara, kemudian melanjutkan penerbangan menuju Jenewa.

Pada agenda itu, JK akan melakukan kunjungan kerja ke Paris, Perancis dan Jenewa, Swiss sejak 14-17 Mei 2019. Di Paris, Perancis, Wapres akan menghadiri acara The Christchurch Call to Action serta Dinner Tech for Good Summit yang akan membahas tentang kasus terorisme yang terjadi beberapa waktu belakangan seperti di Christchurch, Selandia Baru, dan Sri Lanka.

Saat diwawancara di Kantor Wapres, Jakarta pada Senin siang, JK menjelaskan pertemuan tingkat global itu membahas upaya mengatasi bencana di dunia.

"Indonesia dianggap memiliki pengalaman dari berbagai macam-macam penyelesaian kebencanaan, baik itu tsunami maupun gempa bumi, karena kita bagian dari ring of fire," kata JK, disitat dari laman Antaranews.

Sementara itu, menurut agenda dalam laman penyelenggara, www.unisdr.org, JK rencananya akan memberikan pernyataan resmi pada Kamis 16 Mei 2019 terkait upaya Indonesia dalam meminimalisasi risiko bencana. Sejumlah pemimpin lain dunia juga tercatat menjadi pembicara antara lain Wakil Perdana Menteri Malaysia Wan Azizah Wan Ismail, Wakil Perdana Menteri Mongolia Enkhtuvshin Ulziisaikhan, serta Wakil Perdana Menteri Tajikistan Mahmadtoir Zoir Zokirzoda.

Selain itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani juga dijadwalkan menjadi pembicara dalam Dialog Tingkat Tinggi bertajuk Kemajuan dalam Strategi Pengurangan Risiko Bencana Nasional dan Lokal pada Rabu 15 Mei 2019 besok.

Sidang Ke-6 Global Platform itu diselenggarakan pada 15-17 Mei 2019 di Pusat Konferensi Internasional Jenewa (CICG). Sidang ini membahas kondisi terkini sejumlah bangsa dalam mengimplementasikan Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana Periode 2015-2030.

Forum tersebut merupakan upaya PBB dalam memantau, mengkaji dan mencari kepentingan bersama bangsa-bangsa dalam meminimalisasi risiko bencana sebagai implementasi Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015-2030.

(put)

More Articles ...