logo2

ugm-logo

Bertolak ke Swiss, JK Bakal Bicara soal Penanganan Bencana

Bertolak ke Swiss, JK Bakal Bicara soal Penanganan Bencana

Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Presiden Jusuf Kalla bertolak ke Jenewa, Swiss, untuk berbagi pengalaman Indonesia menangani bencana dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bertajuk 'Global Platform for Disaster Risk Education 2019' (GP2019).

Bersama istrinya, Mufidah Jusuf Kalla, JK berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menggunakan pesawat komersial pada Selasa (14/5) dini hari. Ia diperkirakan akan tiba di Swiss pada Selasa siang waktu setempat.

JK mengatakan, Indonesia menjadi salah satu negara yang diundang lantaran dianggap memiliki pengalaman dalam proses penyelesaian bencana mengingat lokasinya yang berada di rangkaian cincin api.

"Indonesia dianggap memiliki pengalaman dari berbagai macam penyelesaian kebencanaan, baik tsunami maupun gempa bumi karena kita bagian dari ring of fire," ujar JK melalui keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com.

Ketua Umum PMI itu dijadwalkan akan menyampaikan pengalaman Indonesia dalam menangani bencana pada 16 Mei 2019. Di sela kunjungannya, JK juga bakal mengadakan pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri Malaysia Wan Azizah Wan Ismail.

Ia juga akan ke Paris, Perancis, untuk menghadiri acara 'The Christchurch Call to Action' untuk membahas kasus terorisme yang belakangan terjadi di Selandia Baru dan Sri Lanka. Menurut dia, permasalahan terorisme saat ini tak lepas dari pengaruh informasi yang menyebar melalui internet.

"Di internet, Anda bisa belajar tentang bom, ideologi macam-macam, semua bisa lewat internet," ucapnya.

JK dijadwalkan akan kembali ke Indonesia pada 18 Mei.

GP2019 yang digelar di Pusat Konferensi Internasional Jenewa ini akan membahas kondisi terkini sejumlah negara dalam menerapkan pengurangan risiko bencana. Pertemuan ini merupakan upaya PBB untuk memantau negara-negara dalam meminimalisasi risiko bencana.

Aktivitas Pertambangan Batu Bara Berkontribusi Besar Terhadap Dampak Bencana Banjir

RMOLBengkulu. Pasca Bencana alam yang melanda Provinsi Bengkulu beberapa waktu lalu banyak menimbulkan tanda tanya besar prihal dibalik bencana alam ini sendiri.

Gelaran diskusi bersama Kanopi Bengkulu dengan SMSI Bengkulu ini menjawab siapakah yang bertanggung jawab akan hal ini

Ali Akbar selaku Direktur Kanopi Bengkulu menyebutkan bahwa ini adalah banjir dengan korban terbesar dalam sejarah Bengkulu dan ini bentuk bahwasanya daya tampung lingkungan sudah semakin kritis dan kalau melihat Daerah Aliran Sungai (DAS) sangat jelas bagaimana porak-porandanya DAS Bengkulu ini

"Kanopi melihat negara salah urus. Point pentingnya adalah kita tegaskan bagaimana menyelamatkan DAS yang sebenarnya bermuara pada penyelamatan manusia dan juga menyelamatkan sumber-sumber kehidupan,: kata Ali kepada RMOLBengkulu, Rabu (8/5).

Ia juga menjelaskan berdasarkan data yang Kanopi punya, tambang batu bara punya  sekitar 19 ribu Hektare dan itu dimiliki oleh 8 perusahaan dan itu semua berada di DAS Bengkulu.

"Kita liat,  sebenarnya jarak atau panjang sungai di Provinsi Bengkulu ini relatif pendek dan paling panjang sekitar 112 Km dan paling pendek ada di bawah 40 Km," sambungnya.

DAS Bengkulu sendiri sebenarnya berada di jarak sungai yang pendek. Apa yang terjadi di hulu mudah sekali sampai ke muara. Dan itu yang menyebabkan Kota Bengkulu merupakan Kota yang langganan akan bencana banjir.

"Itu disebabkan akibat aktivitas tambang batu bara yang kita lihat ," singkat Ali.

Angka 19 ribu hektare dari total DAS itu ada sekitar 92 ribu hektare atau kalau di petakan ada sebanyak 51.945 hektare dan itu semua merupakan fakta yang nyata bahwasannya aktivitas pertambangan batu bara bekontribusi besar terhadap dampak bencana banjir. [ogi]

More Articles ...