logo2

ugm-logo

Wapres JK Hadiri Forum Pengurangan Risiko Bencana

Wapres JK Hadiri Forum Pengurangan Risiko Bencana

Jenewa - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menghadiri forum internasional Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) di Jenewa, Swiss. JK menyatakan kegiatan yang digelar kantor PBB untuk Penanggulangan Risiko Bencana (UNDRR) ini penting bagi penanganan kebencanaan di dunia.

Konferensi ini digelar di International Conference Center Geneva (CICG). JK diagendakan menyampaikan pernyataan pada pukul 09.00 waktu setempat, Kamis (16/5/2019).

Indonesia disebut JK memiliki banyak pengalaman dalam menyelesaikan berbagai bencana alam, dari tsunami dan gempa bumi yang diakui dunia internasional."Mereka (UNDRR) minta saya, secara pribadi, langsung untuk berbicara bagaimana pengalaman Indonesia mengatasi bencana. Itu penting untuk dijadikan semacam sistem mitigasi bencana," ujarnya.

Sebelumnya, Menko PMK Puan Maharani dalam forum yang sama, menyampaikan risiko bencana alam di setiap negara. Di Indonesia sambung Puan, menghadapi risiko gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami dan bencana lainnya.

Dengan kondisi itu, pemerintah dan masyarakat Indonesia mengambil langkah penanganan bencana bersama. Menurut Puan, semua elemen masyarakat perlu dilibatkan dalam upaya mencegah dan mengurangi risiko bencana.

Sementara itu, JK usai menghadiri GDPRR akan melakukan sejumlah pertemuan. JK diagendakan bertemu dengan Presiden International Commitee of The Red Cross (ICRC) Peter Maure; Sekjen International Federation of The Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) Elhadj As Sy; Dirjen International Organization for Migration Antonio Vitorino; Presiden International Olympic Committe (IOC) Thomas Bach serta Presiden International Basketball Federation Horacio Muratore.

Wapres JK juga diagendakan berkunjung ke kampus The Swiss Federal Institute for Vocational Education and Training (SFIVET) serta berbuka puasa bersama masyarakat Indonesia di Jenewa.
(fdn/haf)

Aplikasi Pengabungan rekam jejak medis dan penanganan bencana Raih Penghargaan di Malaysia

Sleman, Gatra.com – Dua karya aplikasi bidang kesehatan karya mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) meraih penghargaan dalam World Young Inventors Exhibition di Internasional Invention, Innovation & Technology Exhibition (ITEX) 2019 di Malaysia.

Aplikasi ‘Jejak Medis’ berhasil meraih medali emas dan penghargaan bergensi dari Taiwan Spesial Award. Sedangkan aplikasi permainan ‘Meet Pharmy’ berhasil meraih medali emas dan perak di dua ajang berbeda.

Dalam bentuk purwarupa, aplikasi ‘Jejak Medis’  diciptakan lima mahasiswa dari sekolah vokasi. Mereka adalah Eka Hafsari mahasiswi Jurusan Manajemen, Nadya Anggraini (Rekam Medis), Aziz Qomarul Firdaus (Teknologi Rekayasa Internet), Fairuz Khairunnisa (FKKMK), dan Haris Hendrik (Fakultas Kehutanan).

“Aplikasi ini gabungan dari manajemen rekam medis dan penanganan korban bencana alam. Seperti diketahui penangganan medis terhadap korban bencana seringkali terkendala rekam medisnya,” kata Nadya Anggraini mewakili rekan-rekannya saat berbincang dengan media di kampus UGM, Rabu (15/5).

Ketika sudah sempurna, aplikasi ini akan menggunakan data rekam medis dari berbagai instansi pelayanan kesehatan dan Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD). Tidak hanya itu, data rekam jejak juga bisa didapatkan dari pasien dan petugas kesehatan yang mengakses aplikasi.

Aplikasi ini yang dikembangkan sejak April lalu ini, selain memuat rekam jejak medis, juga menyajikan fitur manajemen bencana. Fitur ini memuat informasi umum tentang bencana dan daerah terdampak bencana terdekat, juga pranala penggalangan dana pasca-bencana.

“Pengabungan rekam jejak medis dan penanganan bencana inilah yang menurut juri adalah inovasi terbaru. Penyempurnaan aplikasi terus dilakukan dan ditargetkan Juni besok bisa diluncurkan," kata Eka.

Sebelumnya, tim pencipta aplikasi game smartphone bertajuk ‘Meet Pharmy’ juga memaparkan karyanya. Aplikasi ini mengajak anak mengenal lebih dekat tentang profesi apoteker sekaligus mengajak mereka menjaga kesehatan.

Karya ini diciptakan lima mahasiswa Fakultas Farmasi Shinta Diva Ekananda, Wahyunanda Crista Yuda, Muhammad Fikri Abdillah, dan Muhammad Sulhan Hadi. Mereka dibantu oleh Luh Rai Maduretno Asvigita, Lutfiana Pasebhan Jati (Sekolah Vokasi), dan Laksa Ersa Anugratama (Fakultas Kehutanan). Aplikasi dikembangkan pada medio November tahun lalu.

Lutfiana Pasebhan Jati mengungkap game ‘Meet Pharmy’ merupakan aplikasi gaming yang bercerita mengajari anak tentang tugas apoteker. Para mahasiswa melihat, saat ini anak-anak menggunakan perangkat elektronik hanya untuk hiburan seperti games dan video.

Di game ini pemain diajak mengenal obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit seperti batuk, pilek, dan demam. Audio dan visual pun dibuat menarik agar pemain game, yakni anak-anal usia 2-14 tahun, semakin bersemangat memainkannya.

“Kami ciptakan story board dari awal hingga akhir tentang tugas apoteker dan bisa diunduh di Playstore. Saat ini tercatat sudah ada 1000 pengguna,” kata Jati.

Sebelum meraih medali perak di ITEX 2019 pada 2-4 Mei lalu, aplikasi gameMeet Pharmy’ juga meraih medali emas di kategori Medicine and Health di Thailand Investor’s Day 2-6 Februari lalu.

More Articles ...