logo2

ugm-logo

30 Tewas dan 6 Hilang Akibat Longsor dan Banjir di Bengkulu

TEMPO.CO, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, 30 orang tewas dan enam orang masih dinyatakan hilang akibat longsor dan banjir di Bengkulu hingga Rabu, 1 Mei 2019 pukul 16.00. Bencana itu juga menyebabkan dua orang luka berat dan dua lainnya luka ringan.

Banjir dan longsor itu dipicu hujan deras di seluruh wilayah Bengkulu pada 26 April 2019 sore hingga 27 April 2019 pagi. "Korban meninggal dunia tertinggi berasal dari Kabupaten Bengkulu Tengah sebanyak 24 orang, Kota Bengkulu terdapat tiga orang serta Kepahiang berjumlah tiga orang," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis, Rabu, 1 Mei 2019.

Sutopo mengatakan, Tim SAR gabungan yang dipimpin Basarnas tengah fokus untuk mencari korban hilang di Desa Talang Boseng, Susup dan Kelindang. Enam korban hilang itu adalah Tumini, 60 tahun berjenis kelamin perempuan. Selanjutnya, Heri Hartanto (laki-laki), Halidin (laki-laki, 45 tahun 45), Kanelo (laki-laki, 1,6 tahun), Yananan dan seorang anak.

Sutopo mengatakan, BPBD Provinsi Bengkulu masih melakukan penanganan darurat seperti pelayanan kesehatan dan distribusi logistik, seperti ke Desa Taba Penyengat, Susup dan Kelindang. Pengungsi bencana di Kecamatan Air Napal berjumlah 200 jiwa dan Kecamatan Bang Haji di Desa Genting sebanyak 417 jiwa.

"BPBD dan dinas terkait terus memberikan pelayanan pengungsi di kecamatan tersebut," kata dia.

Sutopo melanjutkan, banjir dan longsor itu juga mengakibatkan kerusakan di beberapa sektor seperti permukiman, pendidikan, perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan dan infrastruktur publik. BPBD mencatat, 554 unit rumah rusak berat, 160 rusak sedang dan 511 rusak ringan.

Sebaran wilayah kerusakan rumah meliputi Bengkulu Tengah dengan 28 rusak berat, 16 rusak ringan dan 125 terendam; di Seluna, 10 rusak berat, 30 rusak ringan; di Kaur, 127 rusak berat, 151 rusak sedang, dan 406 rusa ringan; di Kepahiang, 388 rusak berat, 37 rusak ringan; di Rejang Lebong, 1 rusak berat, 9 rusak sedang dan 22 rusak ringan.

Sedangkan kerusakan fasilitas pendidikan di seluruh wilayah Bengkulu yaitu 7 unit rusak berat, 1 rusak ringan serta 7 terendam lumpur. Kerusakan fasilitas pendidikan terbanyak, ujar Sutopo, berada di Kabupaten Bengkulu Tengah dengan 4 rusak berat, 1 rusak ringan dan 4 terendam. Sedangkan di Kaur, 3 rusak berat, dan Kota Bengkulu 3 terendam air.

"Pada sektor peternakan sejumlah ternak mati seperti sapi, kerbau, kambing, domba, ayam dan itik dengan jumlah total 857 ekor. Wilayah paling terdampak untuk sektor peternakan berada di Bengkulu Utara dengan total ternak 320 ekor," kata Sutopo.

Sutopo menambahkan, sekitar 3.000 hektare lahan pertanian rusak. Rinciannya, lahan sawah seluas 2.648,06 hektare, jagung seluas 221.59 hektare, kacang hijau tanah seluas 8.25 hektare, dan kacang hijau seluas 3.25 hektare. Sedangkan sektor perkebunan, 775 batang sawit terdampak.

Sementara itu, di sektor infrastruktur, jaringan listrik masih dilakukan perbaikan dengan perkembangan pemulihan saat ini mencapai 74,28 persen. BPBD, ujar Sutopo, melaporkan gardu distribusi sejumlah 42 unit masih padam dan 2.496 jaringan listrik pelanggan belum menyala.

"Total kerugian hingga hari ini, 1 Mei 2019 senilai Rp 144 miliar," kata Sutopo.

Sutopo menengarai jumlah itu akan terus bertambah karena perkiraan kerugian tersebut menggunakan data sementara. Mengingat luas banjir di Bengkulu dan skala dampak yang ditimbulkan, kata dia, maka jumlah kerugian akan banyak bertambah.

Korban Tewas Bencana Awal 2019 Lebih Tinggi 192 Persen

Korban Tewas Bencana Awal 2019 Lebih Tinggi 192 Persen

Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan jumlah korban tewas akibat bencana alam yang terjadi selama Januari hingga April 2019 melonjak sebanyak 192 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018 lalu.

Menurut data BNPB, sebanyak 1.586 peristiwa bencana terjadi selama empat bulan terakhir yang menyebabkan 325 orang meninggal dunia, 113 orang hilang, 1.439 orang luka-luka, dan 996.143 orang mengungsi.

BNPB juga mencatat ribuan bencana itu menyebabkan 3.588 rumah rusak berat, 3.289 rumah rusak sedang, 15.376 rumah rusak ringan, 325 sekolah, 235 fasilitas ibadah, dan 78 fasilitas kesehatan rusak.

"Secara statistik, dibandingkan tahun 2018 dalam periode yang sama, kejadian bencana pada 2019 mengalami kenaikan 7,2 persen. Pada 2018 terjadi 1.480 bencana sedangkan 2019 terjadi 1.586 kejadian bencana," ucap Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, melalui pernyataan yang diterima CNNIndonesia.com pada awal pekan ini.

"Untuk korban jiwa, juga terjadi kenaikan 192 persen dimana pada tahun 2018 terdapat 150 orang meninggal dunia dan hilang sedangkan pada 2019 korban meninggal dan hilang tercatat 438 orang. Begitu pula korban luka-luka juga mengalami kenaikan 212 persen. Korban luka pada tahun 2018 sebanyak 461 orang sedangkan tahun 2019 sebanyak 1.439 orang," demikian lanjutan paparan Sutopo.

Sutopo menuturkan lebih dari 98 persen bencana yang terjadi adalah bencana hidrometeorologi atau yang diakibatkan cuaca, sementara itu 2 persen lainnya yakni bencana geologi atau bencana yang disebabkan aktivitas permukaan bumi.

Sutopo merangkum tiga bencana yang paling menimbulkan korban dan kerugian cukup besar dalam empat bulan terakhir adalah banjir dan longsor di Sulawesi Selatan pada 22 Januari lalu.

Peristiwa itu menyebabkan 82 orang meninggal, tiga orang hilang, dan 47 lainnya luka-luka. Kerugian ditaksir mencapai Rp926 miliar.

Bencana kedua yakni banjir dan longsor di Sentani, Papua pada 16 Maret lalu yang menewaskan 112 orang, 82 orang hilang, dan 956 lainnya luka-luka. Kerugian material diperkirakan mencapai Rp668 miliar.

Banjir dan longsor di Bengkulu pada 27 April juga menjadi yang paling merugikan lantaran menyebabkan 29 orang meninggal dunia, 13 orang hilang, dan 4 lainnya luka-luka. Data sementara mencatat bencana tersebut menyebabkan kerugian sebesar Rp200 miliar.


Sebaran Bencana per Provinsi dan Kabupaten/Kota

Sutopo memaparkan berdasarkan sebaran kejadian per provinsi maka bencana paling banyak terjadi di Jawa Tengah dengan 472 kejadian, Jawa Barat sebanyak 367 kali, dan Jawa Timur sebanyak 245 peristiwa.

Sementara itu bencana di Provinsi Sulawesi Selatan tercatat terjadi sebanyak 70 dan 50 kali terjadi di Provinsi Aceh.

Sedangkan jika dilihat per kabupaten/kota, bencana paling banyak terjadi di Kabupaten Sukabumi sebanyak 50 kejadian, Semarang 43 bencana, Bogor 42 kali, Majalengka 38 peristiwa, dan Temanggung sebanyak 37 kali.

Menurut Sutopo statistik ini bukan semata-mata hanya memuat angka, tapi memiliki makna bahwa ancaman bencana alam terus meningkat.

Sutopo menuturkan peningkatan bencana alam pada 2019 ini sebagian besar disebabkan curah hujan yang deras. Ia mengatakan kombinasi antara alam dan antropogenik menjadi penyebab utama meningkatnya bencana.

Dia juga mengatakan upaya penanganan bencana masih banyak menitikberatkan pada darurat bencana.

"Sementara itu, tingkat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana besar masih rendah. Mitigasi baik struktural dan nonstruktural masih belum dijadikan prioritas dalam pembangunan di daerah," ucap Sutopo.

More Articles ...