logo2

ugm-logo

Penanganan Bencana Perlu Satu Komando

KARANGANYAR – Desa Waru di Kecamatan Kebakkramat kebanjiran. Luapan air Bengawan Solo membuat ratusan warga harus mengungsi ke tempat aman, agar tidak menjadi korban.

Mereka pun diungsikan ke Tempat Pengungsian Sementara (TPS) di Balai Desa Waru. Tapi banjir semakin meninggi, hingga TPS tak lagi aman. Mereka akhirnya dievakuasi ke Tempat Pengungsian Akhir (TPA) di Lapangan Kebakkramat, yang berjarak sekitar 3 km dari Desa Waru.

Memakai truk pengangkut pasukan milik TNI, mereka dibawa ke TPA. Dibantu relawan gabungan dari berbagai elemen, evakuasi berjalan lancar tanpa kendala.

Untuk memastikan kondisi kesehatan pengungsi, petugas langsung mengecek. Yang sakit, segera dibawa ke rumah sakit lapangan untuk dirawat. Pengungsi juga mendapat pasokan logistik dengan gizi tercukupi, agar sehat selama tinggal di pengungsian.

Skenario itu dijalankan dalam latihan gabungan penanggulangan bencana, yang digelar di Lapangan Kebakkramat antara 3-8 November.

Dipimpin Komandan Kodim (Dandim) 0727/Karanganyar Letkol Inf Marthen Pasunda selaku SAR Mission Coordinator (SMC), latihan itu melibatkan berbagai unsur terkait. Mulai dari TNI, Polri, BPBD, tim SAR, Taruna Siaga Bencana (Tagana), Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK), PMI, dan sebagainya.

Dandim menjelaskan, latihan gabungan itu untuk mengetahui kesiapan berbagai elemen, jika sewaktu-waktu terjadi bencana di Karanganyar. Sarana prasarana pendukung juga dilibatkan dalam latihan itu, untuk memastikan bahwa perlengkapan yang dimiliki siap digunakan.

“Simulasi penanganannya tidak hanya untuk banjir saja, tapi juga penanganan perkembangan situasi yang terjadi. Misal terjadi kebakaran di lokasi bencana, penanganan warga yang sakit, warga akan melahirkan, dan sebagainya,” jelasnya.

Latihan tersebut, lanjut Marthen, untuk mengetahui Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dilakukan dalam penanganan bencana.

“Evaluasi sementara dari latihan ini, koordinasi kadang sulit dilakukan, karena tiap instansi dan elemen punya SOP sendiri. Dari latihan ini nanti bisa diketahui, bagaimana memadukan SOP masing-masing elemen itu, agar menjadi satu komando. Sehingga apa yang dilakukan bisa terkoordinasi dengan baik,” jelasnya.

Disinggung mengenai potensi bencana di Karanganyar, banjir dan longsor paling rawan terjadi saat musim hujan tiba. Titik banjir biasanya terjadi di wilayah yang berdekatan sungai, sementara longsor berpotensi terjadi di wilayah pegunungan.

“Kalau banjir, biasanya karena luapan sungai. Sedangkan longsor, berpotensi terjadi karena selama kemarau tanahnya retak-retak. Ketika hujan, retakan itu kemasukan air dan bisa menjadi tanah gerak yang menyebabkan longsor,” imbuhnya.

sumber: suaramerdeka.com

Reportase Pembukaan Workshop Klaster Kesehatan

Reportase Pembukaan Workshop Klaster Kesehatan dan

Transportasi dalam Penanggulangan Bencana Gempa Bumi di Kabupaten Ende

kluster-kesehatan-ntt

Workshop Klaster Kesehatan dan Transportasi dalam Penanggulangan Bencana di Ende dilaksanakan di Grand Wisata Ende, Senin, 12 Oktober 2015. Workshop diawali dengan sambutan dari panitia, perwakilan Cared Program dan Bupati Ende. Sambutan pertama disampaikan oleh Dr. Adam Pamudji Rahardjo menyampaikan bahwa workshop klaster kesehatan ini merupakan kerjasama dengan BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Ende yang didukung oleh hibah kerjasama dengan Community Resilience and Economic Development (Cared Program) dari Pemerintah New Zealand. Pertemuan Klaster Kesehatan pada workshop ini mempertemukan BPBD, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, dan Puskesmas untuk bersama-sama menyusun rencana tindak lanjut rencana penanggulangan bencana klaster kesehatan.

Sambutan kedua disampaikan oleh perwakilan dari Cared UGM, Prof. Joko Sujono. Dalam sambutannya Adam menyampaikan bahwa Kabupaten Ende memiliki berbagai macam ancaman bencana. Ende pernah mengalami gempa bumi yang menyebabkan kerugian besar kepada masyarakat. Tingginya risiko bencana yang ada di Kabupaten Ende maka diperlukan sejumlah upaya pengurangan risiko bencana. Cared Program UGM melaksanakan serangkaian kegiatan workshop dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat untuk menghadapi bencana. Prof. Joko Sujono mengucapkan terima kasih kepada Pemda Ende yang telah mendukung sehingga terlaksananya acara workshop ini.

Sambutan ketiga disampaikan oleh Bupati Ende yang diwakili oleh Asisten 1 bidang pemerintahan dan Kesra Sekda Ende. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa Ende   sebagai etalase dan miniatur bencana. Berdasarkan indeks risiko bencana yang dikeluarkan oleh BNPB, Kabupaten Ende merupakan Kabupaten dengan indeks risiko tertinggi kedua di Provinsi NTT. Pemda Ende berharap hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah: tersedianya dokumen tertulis potensi bencana dan rencana penanggulangannya, tersedianya aparatur pemerintah daerah dan masyarakat yang memiliki kapasitas yang baik, serta kesamaan persepsi aparatur pemerintah dan masyarakat dalam penanggulangan bencana.

Reporter: Oktomi Wijaya