
Cara untuk menanggulangi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutlah) adalah hujan, baik itu secara alami maupun buatan. Karhutla terjadi pada saat musim kemarau sehingga solusi yang memungkinkan untuk mengurangi asap kebakaran dengan membuat hujan buatan dan water bombing (WB). Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa pembuatan hujan buatan ini sudah dilakukan di beberapa titik lokasi karhutlah. Upaya hujan buatan ini berhasil menurunkan sebaran api karhutlah.
Hujan buatan ini menggunakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Bagaimana cara kerja hujan buatan ini? Hujan buatan tergantung keberadaan awan, arah angin bergerak, serta kecepatannya. Syarat utama hujan buatan ini adalah ditemukan awan yang memiliki kadar potensi hujan minimal 70%. Awan yang berpotensi hujan sampai dengan 70% ini yang mampu disemai. BPPT bekerja untuk menemukan awan tersebut dan menginformasikan arah serta kecepatan angin. Jika sudah ditemukan, maka BPPT menerbangkan pesawat khusus yang membawa garam, atau NaCl (Natrium Klorida). Proses “menaburkan” awan dengan garam ini disebut penyemaian awan, tujuannya untuk membuat awan “matang” sehingga bisa menurunkan hujan. Posisi pesawat selalu berada diantara arah angin dan awan hujan target. Hujan buatan ini berhasil dilakukan dan mampu mengurangi kabut asap per 15 Sepetmber 2019.
Selengkapnya Klik Disini




Jika melihat potensi bencana di Indonesia, mengharuskan masyarakat untuk memahami kesiapsiagaan dan mitigasi. Pemahaman ini dapat menurunkan angka cedera, jatuh korban dan hilang. Berdasarkan hal tersebut, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK - KMK) menggelar bedah buku Siaga di Negeri Bencana yang dilaksanakan pada Rabu, 2 Oktober 2019 pukul 09.30 – 12.00 WIB di Ruang Theater, Perpustakaan FK - KMK UGM. Pembicara dalam agenda ini antara lain: Suparlan (Yayasan SHEEP Indonesia), Danang Syamsurizal, ST (BPBD) dan dr Hendro Wartatmo, SpB, KBD (salah satu penulis). Harapannya bedah buku ini akan semakin menggugah kesadaran masyarakat atas mitigasi dan kesiapsiagaan. Kegiatan ini terbuka untuk umum, namun harus melakukan registrasi.