
Salam Jumpa Bapak/Ibu Pemerhati Manajemen Bencana Kesehatan. Edisi Minggu ini kami sajikan beberapa Artikel/ Jurnal/ Berita dan Agenda sebagai berikut.
Pengantar Website Bencana | Edisi : 29 Juni 2026
Halo Sejawat dan Penggiat Manajemen Kebencanaan Kesehatan,
Dalam upaya terus meningkatkan kapasitas, resiliensi, dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai krisis kesehatan di Indonesia, Divisi Manajemen Bencana Kesehatan kembali menghadirkan rangkaian agenda ilmiah dan pelatihan sepanjang 2026. Mulai dari refleksi penanganan bencana masa lalu, pembahasan kebijakan berbasis bukti (evidence-based), hingga pelatihan teknis di lapangan, kami berkomitmen untuk menyediakan ruang belajar yang komprehensif. Rangkaian kegiatan ini dikemas dalam berbagai metode, mulai dari webinar, seminar, kegiatan luring (tatap muka), hingga bimbingan teknis (Bimtek).
Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Awu di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, mendorong Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mempertahankan status Level III (Siaga) serta mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari kawah. Kondisi ini menunjukkan adanya potensi erupsi yang dapat terjadi sewaktu-waktu sehingga memerlukan kewaspadaan tinggi dari masyarakat dan pemerintah daerah. Selain ancaman langsung berupa lontaran material vulkanik, abu vulkanik juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, dan gangguan pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.
Musim kemarau yang mulai melanda sejumlah wilayah Indonesia memicu kekeringan dan krisis air bersih di beberapa daerah, termasuk Kabupaten Cilacap (Jawa Tengah), Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bekasi (Jawa Barat). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa pemerintah daerah melalui BPBD telah menyalurkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak. Namun, keterbatasan akses terhadap air bersih berpotensi memicu krisis kesehatan, seperti meningkatnya risiko diare, penyakit kulit, serta menurunnya kualitas sanitasi dan higiene masyarakat apabila kondisi berlangsung dalam waktu lama. Dampak tersebut dapat semakin berat bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil yang membutuhkan akses air bersih untuk menjaga kesehatan sehari-hari.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi di wilayah Laut Sulawesi pada Senin (8/6) memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah Indonesia bagian timur, termasuk Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Timur. BMKG mencatat episenter gempa berada sekitar 244 km barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 47 km, sehingga berpotensi menimbulkan tsunami dan mendorong evakuasi masyarakat pesisir. Meskipun peringatan dini tsunami kemudian diakhiri, kejadian ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi krisis kesehatan pascabencana. Selain risiko korban luka dan kematian, gempa dan tsunami dapat menyebabkan gangguan layanan kesehatan, keterbatasan akses pelayanan medis, masalah kesehatan lingkungan di lokasi pengungsian, hingga dampak psikologis pada masyarakat terdampak. Pengalaman berbagai bencana besar menunjukkan bahwa ketahanan fasilitas kesehatan menjadi faktor penting dalam menekan angka kesakitan dan kematian saat keadaan darurat. Oleh karena itu, penguatan sistem peringatan dini, kesiapsiagaan rumah sakit, serta koordinasi lintas sektor perlu terus ditingkatkan untuk menghadapi ancaman bencana geologi yang masih tinggi di kawasan Indonesia timur.
Reportase

PKMK-Yogyakarta-Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan Webinar Series Resiliensi Fasilitas Kesehatan Seri 2 dengan tema “Struktur Organisasi dan Uji Aktivasi Sistem” pada Selasa (2/6/2026) secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan kapasitas fasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadapi berbagai ancaman bencana dan krisis kesehatan. Webinar menghadirkan tiga narasumber yang membahas aspek penting dalam membangun kesiapsiagaan operasional rumah sakit, mulai dari struktur organisasi saat bencana, pembentukan Emergency Medical Team (EMT), hingga perencanaan simulasi bencana dan krisis kesehatan.
Buku pedoman bantuan hidup dasar dan pertolongan pertama pada kegawatdaruratan sehari-hari dapat diakses melalui : DOWNLOAD DOKUMEN