logo2

ugm-logo

Blog

Banjir Bukittinggi, Arus Lalu Lintas Medan-Padang Lumpuh

Banjir Bukittinggi, Arus Lalu Lintas Medan-Padang Lumpuh. Seorang warga menonton televisi didalam rumahnya saat banjir yang melanda di daerah Keluarahan Pulai Anak Aia, Kecamatan Mandiangin Koto Selayang, Bukittinggi, Sumatra Barat. (Antara//Muhammad Arif Pribadi)

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Arus lalu lintas dari arah Medan, Sumatra Utara menuju Padang, Sumatra Barat lumpuh akibat banjir di Bukittinggi, Kamis malam (19/12).

"Memang dilaporkan banjir menyebabkan jalan digenangi air sehingga menghambat akses kendaraan dari arah Medan menuju Padang," kata Kepala Pelaksana BPBD Bukittinggi Ibentaro Samudra, Jumat dini hari (20/12).

Menurut dia, kendaraan terhenti di Simpang Mandi Angin karena tidak bisa menembus genangan air. Simpang tersebut merupakan akses penghubung dari arah Medan menuju Padang, Medan-Pekanbaru, dan sebaliknya.

"Untuk Pekanbaru-Padang masih bisa lewat karena ada jalur alternatif lain," kata Ibentaro Samudra.

Pada Simpang Mandi Angin tersebut puncak genangan ketinggian air mencapai satu meter. Hingga pukul 00.00 WIB, hujan mulai reda dan air surut. Beberapa kendaraan sudah mulai melintas.

Sebelumnya, banjir terjadi akibat hujan yang mengguyur daerah setempat sejak Kamis sekitar pukul 19.15 WIB. Data sementara, BPBD mencatat banjir terdampak pada sejumlah titik di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Mandi Angin Koto Selayan, Aur Birugo Tigo Baleh, dan Guguk Panjang.

Ketinggian genangan air di sejumlah titik dilaporkan mulai dari setengah meter hingga dua meter. Hingga pukul 23.50 WIB, BPBD mencatat sekitar 100 kepala keluarga (KK) terdampak banjir.

Sebanyak 30 KK di antaranya dievakuasi oleh petugas karena kondisi genangan air cukup tinggi. "Kami menurunkan dua unit perahu karet untuk evakuasi," kata Ibentaro.

Daerah Rawan Bencana Diminta Tetapkan Status Siaga Darurat

Daerah Rawan Bencana Diminta Tetapkan Status Siaga Darurat

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta pemerintah provinsi, kabupaten kota yang wilayahnya rawan bencana banjir longsor untuk segera menetapkan status siaga darurat. Penetapan status siaga darurat ini dilakukan sebelum bencana terjadi. Hal ini penting untuk mengurangi potensi dan risiko.

Untuk meningkatkan kesiapsiagaan seluruh pihak mengantisipasi bencana hidrometeorologi tersebut, BNPB pun menggelar rapat koordinasi yang dihadiri Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Basarnas serta pihak terkait lainnya di kantor BNPB, Jakarta, Selasa (17/12/2019).

Kepala BNPB, Doni Monardo mengatakan, saat ini sudah ada peringatan dari BMKG terkait potensi cuaca ekstrem. Oleh karena itu BNPB, TNI, Polri menyusun program kesiapsiagaan di seluruh provinsi, kabupaten, kota.

"Bentuk kesiapsiagaan itu berupa personel, dukungan perlengkapan, transportasi, logistik, fasilitas medis, penyelamatan atau bahkan pengungsian," kata Doni.

Doni juga meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terutama di wilayah yang rawan bencana seperti aliran sungai, daerah rendah atau bukit yang rawan longsor. Selain itu untuk antisipasi bencana hidrometeorologi seperti puting beliung, perlu memangkas beberapa cabang dan ranting pohon sehingga bisa mengurangi beban pohon.

"Ingat pohon hanya dipangkas rantingnya bukan ditebang. Supaya ketika ada puting beliung pohon tidak roboh," ucapnya.

Selain itu juga perlu dicek anak-anak sungai apakah ada sumbatan air yang mengalir ke hulu. Sebab jika terhambat seperti kayu pohon besar dan bantuan dikhawatirkan bisa menjadi banjir bandang ketika terjadi hujan ekstrem. Menurutnya, banjir bandang bisa menelan banyak korban ibarat tsunami kecil. Karena banjir bisa membawa aliran bantuan besar dan kayu atau pohon.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo mengungkapkan, prediksi BMKG bisa digunakan sebagai acuan penetapan status siaga darurat bencana. Dalam prakiraan musim hujan BMKG diperlihatkan potensi hujan ringan hingga ekstrem di sejumlah wilayah di Indonesia dari bulan Desember 2019 hingga Maret 2020. Diperkirakan untuk wilayah Jawa puncak musim hujan di bulan Februari-Maret.

"Pemda sebaiknya segera menetapkan status siaga darurat banjir longsor. BNPB akan siap membantu," kata Agus.

Dalam upaya penanganan pra dan pascabencana BNPB punya dana siap pakai sekitar Rp 4 triliun per tahun. Jumlah ini bisa berubah sesuai kebutuhan. Seperti untuk tahun 2019, dana siap pakai BNPB mencapai Rp 7 triliun. Jumlah dana siap pakai tersebut bertambah karena ada dana untuk pemulihan pascagempa Lombok dan gempa serta tsunami Palu serta sejumlah bencana lainnya yang menimbulkan kerusakan parah.

 

Sumber: Suara Pembaruan

BNPB Catat 3.622 Bencana Sepanjang 2019

BNPB Catat 3.622 Bencana Sepanjang 2019

Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 3.622 bencana terjadi di Indonesia sepanjang Januari 2019 sampai 16 Desember 2019. Secara umum, dari data tersebut terjadi kenaikan jumlah bencana jika dibandingkan dengan beberapa tahun ini.

Kepala Pusat Data Informasi (Kapusdatin) dan Humas Humas BNPB Agus Wibowo menerangkan, bencana pada tahun ini masih didominasi oleh banjir, longsor, dan puting beliung.

"Trennya naik terus sepanjang 2009-2019. Di antaranya banjir, puting beliung paling banyak dari tahun ke tahun naik terus. Lalu tanah longsor, kekeringan dan karhutla yang juga trennya naik," kata Agus saat menggelar jumpa pers di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (17/12).

Berdasarkan catatan BNPB, dari jumlah tersebut telah terjadi 29 kali gempa bumi yang merusak dan telah menyebabkan 69 orang meninggal, 1.905 orang luka‐luka, 311.874 orang mengungsi, dan 21.554 unit rumah rusak.

"Bencana geologi, tiap bulan ada gempa yang merusak tapi tidak terlalu besar. Ada 29 gempa bumi yang merusak. Tapi tidak ada yang besar. Yang besar hanya di Maluku Ternate 7.1 SR tanggal 14 November," tambahnya.

Dari 3.622 kejadian bencana, BNPB mencatat 475 korban meninggal, 108 orang hilang, 3.408 orang luka‐luka, 6 juta orang mengungsi, dan 72.390 unit rumah rusak. Kendati demikian, jumlah korban tak sebanyak tahun lalu alias menurun, karena sepanjang 2019 tidak terjadi bencana alam yang sangat besar seperti 2018 silam.

"Kejadian naik tapi korban meninggal, luka, pengungsi dan kerusakan turun jauh," kata Agus.

Agus menambahkan, BNPB juga mencatat Jawa Tengah sebagai provinsi dengan jumlah bencana terbanyak yang mencapai 859 kejadian, kemudian diikuti oleh Jawa Barat 672 kejadian, dan Jawa Timur dengan 582 kejadian. Lalu Aceh dengan 117 kejadian dan Sulawesi Selatan 162 kejadian.

Selain itu, lanjut Agus, tahun ini Indonesia juga mengalami kekeringan akibat musim kemarau yang panjang. Hal itu membuat kebakaran hutan dan lahan (lahan) terjadi secara masif dan membutuhkan penanganan ekstra.

Jika dihitung dari luas lahan dan hutan yang terbakar maka Kalimantan Tengah menempati peringkat pertama dengan 161.297 Ha, diikuti Kalimantan Barat 131.654 Ha, Nusa Tenggara Timur 12.143 Ha, Kalimantan Selatan 115.317 Ha, dan Sumatera Selatan 92.635 Ha.

[Gambas:Video CNN] (mjo/osc)

Banjir di Jakarta Hari Ini, Pakar BMKG Jelaskan Penyebabnya

KOMPAS.com - Sebagian ruas jalanan dan wilayah di DKI Jakarta, termasuk FX Senayan, Sudirman, dan Gatot Subroto mengalami kebanjiran karena guyuran air hujan yang berlangsung dari siang hingga sore hari ini (17/12/2019).

Namun, benarkah banjir di DKI Jakarta hanya diakibatkan oleh curah hujan ibukota yang kelewat deras?

Kompas.com menghubungi Kasubbid Analisis Informasi Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG), Adi Ripaldi pada Selasa (17/12/2019).

Menurut Adi, banjir memang lebih berpotensi terjadi pada setiap periode musim hujan, apalagi di wilayah DKI Jakarta.

"Dengan intensitas hujan sedang hingga lebat, tentu bisa memicu terjadinya banjir atau genangan di wilayah yang kemampuan menyerap air atau drainasenya kurang baik," kata dia.

Akan tetapi, Adi menegaskan bahwa banjir Jakarta tidak hanya dipengaruhi oleh curah hujan di ibukota saja, tetapi juga terpengaruh oleh hujan-hujan dari wilayah sekitar Jakarta, seperti Bogor, Depok dan sekitarnya.

Selain faktor hujan, infrastruktur wilayah, topografi dan drainase juga sangat mempengaruhi suatu wilayah untuk berpotensi banjir atau tidaknya.

Lalu, Banjir juga bisa jadi karena kiriman dari hulu atau karena luapan air sungai.

Sementara itu, dari sisi curah hujan, tentu yang perlu diwaspadai adalah curah hujan harian atau berjam-jam dengan intensitias tinggi atau lebat yang bisa saja terjadi

Waspada banjir

Kewasapadaan banjir DKI Jakarta sebaiknya tidak hanya berfokus di bulan puncak musim hujan (Februari-Maret).

Namun, kata Adi, harus diwaspadai sejak peralihan musim kemrau ke hujan dan sepanjang periode musim hujan, yakni sepanjang Desember 2019 hingga Mei 2020 nanti.

Sebab, hujan-hujan lebat bisa saja terjadi selama periode tersebut.

"BMKG memprediksi puncak hujan untuk DKI akan terjadi Februari dan Maret 2020. Namun demikian, kewaspdaan menghadapi ancaman banjir ini perlu disiapkan sejak dini sepanjang musim hujan," ujarnya.

Langkah-langkah antisipasi menghadapi periode musim hujan ini, kata Adi, perlu diperhatikan hal-hal terkait drainase lingkungan sekitar.

"Kondisi DAS (daerah aliran sungai) dibersihkan, disehatkan DAS-nya, dari segi aliran dan lingkunganya," ucap dia.

Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan dari sampah-sampah, dan perhatikan dahan pohon-pohon tua atau mati di sekitar lingkungan kita.

Pasalnya, pada periode musim hujan ini sering terjadi hujan lebat, angin kencang atau puting beliung yang bisa merobohkan pohon-pohon tersebut.

"Dan tetap berhati-hati di jalan pada saat hujan terjadi karena terkadang mengganggu jarak pandang, banyak genangan, hindari jalan berlubang dan licinnya jalan raya," tuturnya.

Banjir Landa Tebing Tinggi Sumut, Siswa Dipulangkan Lebih Cepat

Banjir di Tebing Tinggi (Antara Foto)

Tebing Tinggi - Hampir semua wilayah Kota Tebing Tinggi, Sumut, pada hari ini terendam banjir. Banjir juga menggenangi daerah perkotaan, di antaranya Jalan Suprapto, Thamrin, Pattimura, Sudirman, dan Bandar Sono.

Akibatnya, sejumlah kendaraan roda empat dan roda dua tidak dapat melintasi beberapa kawasan karena kedalaman air mencapai 30-50 cm. Banjir juga menggenangi Pasar Inpres, Pasar Gambir, Pasar Iskandar Muda, serta beberapa SD dan SMP di Kecamatan Padang Hulu dan Rambutan.

Dari pantauan di lapangan, yang dilansir dari Antara, Senin (16/12/2019), sejak pukul 07.30 sampai pukul 09.30 WIB air terus bertambah naik. Sejumlah sekolah terpaksa memulangkan siswa karena sekolah dilanda banjir.Akibat banjir tersebut ratusan warga terpaksa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Warga juga berharap Pemerintah Kota Tebing Tinggi segera menurunkan bantuannya.

Selain banjir, hujan yang turun sejak Minggu (15/12) malam mengakibatkan tanah longsor di jalan lintas Tebing Tinggi-Pematang Siantar di daerah PTPN IV Pabatu, Kabupaten Serdang Bedagai.