logo2

ugm-logo

Dari Hulu yang Robek ke Kampung yang Tenggelam: Banjir Sumatera dan Ledakan Izin Ekstraktif

HUJAN turun tanpa henti. Sungai-sungai di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat meluap, membawa lumpur, batu, dan puing rumah ke kampung-kampung yang tak sempat bersiap.

Dalam sepekan, banjir dan longsor menyapu kehidupan di pulau yang selama ini dijuluki “lumbung alam”. Puluhan nyawa melayang. Ratusan orang hilang. Ribuan mengungsi, meninggalkan rumah yang tersisa hanya rangka basah berbalut lumpur.

Di tengah duka dan kecemasan itu, satu pertanyaan terus menggema: benarkah semua ini hanya soal cuaca ekstrem?

Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menilai jawabannya jauh lebih pahit. Menurut mereka, bencana yang beruntun ini bukan semata amuk alam, melainkan alarm keras tentang rusaknya tata kelola ruang di Pulau Sumatera. Hujan mungkin menjadi pemicu, tetapi kehancuran ekosistem—yang perlahan dibongkar oleh industri ekstraktif—adalah bahan bakarnya.

Di hulu-hulu yang dulu hijau, kini tanah merapuh. Sungai yang pernah menjadi jalur kehidupan, kini menjelma lorong maut. JATAM mencatat, Sumatera telah lama diperlakukan sebagai “zona pengorbanan” oleh industri pertambangan mineral dan batu bara.

Sedikitnya 1.907 izin tambang aktif mencengkeram lebih dari 2,4 juta hektare daratan Sumatera. Jutaan hektare itu bukan sekadar angka dalam peta. Di sanalah hutan-hutan dibuka, bukit dikupas, tanah digali—dan kemampuan alam menahan air perlahan dilucuti.

Sumatera Barat, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Jambi, hingga Sumatera Utara menjadi provinsi dengan kepadatan izin tertinggi.

Hutan yang dulu menjadi spons raksasa penyerap hujan kini berubah menjadi kawah-kawah terbuka dan jalur angkut tambang. Di situlah keseimbangan runtuh.

Namun tambang bukan satu-satunya beban. Di balik narasi “energi bersih”, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) tumbuh di hampir seluruh provinsi di Sumatera. Sedikitnya 28 proyek PLTA beroperasi dan dibangun, dengan Sumatera Utara sebagai episentrum. Bendungan, terowongan, dan infrastruktur masif memotong aliran sungai, mengubah wajah daerah aliran sungai yang rapuh.

Di Ekosistem Batang Toru, salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tertinggi, PLTA Batang Toru menjadi simbol ironi transisi energi. JATAM mencatat, puluhan hektare hutan telah dibuka demi proyek ini. Sungai dimodifikasi. Lanskap dipaksakan tunduk pada beton. Dan di hilir, ketika hujan ekstrem bertemu pengelolaan bendungan yang buruk, banjir berubah menjadi vonis.

Belum selesai dengan itu, panas bumi pun menggerogoti punggung-punggung gunung. PLTP beroperasi di berbagai provinsi Sumatera, menyasar lereng curam dan kawasan hulu. Hutan dibuka, tanah dibor, jalan dibentuk di wilayah yang sejatinya rapuh. Satu lapis risiko ditambah ke tubuh pulau yang sudah sesak oleh tambang dan bendungan.

Jika semua ini ditarik dalam satu tarikan napas, maka Sumatera berdiri sebagai pulau dengan tiga lapis tekanan: tambang yang merusak tanah, PLTA yang mengatur ulang sungai, dan panas bumi yang membongkar gunung. Narrasi pembangunan terus diperdengarkan.

Namun di lantai paling bawah, rakyat menanggung lumpur di ruang tamu mereka, retak di dinding rumah, dan ketakutan setiap kali hujan mengambil jeda.

Ironisnya, data resmi baru mencatat sebagian kecil dari kenyataan. Di luar angka-angka itu, ekspansi sawit, migas, industri kehutanan, dan tambang ilegal menghantam ruang hidup dengan kekuatan yang tak kalah brutal. Alam kian menyempit. Risiko kian membesar.

Maka bencana demi bencana yang datang serupa ketukan keras di pintu kesadaran. Model pembangunan yang menukar hutan dengan konsesi telah sampai di ujung jalan.

Negara tak bisa lagi sekadar datang dengan karung bantuan dan laporan serapan anggaran. Sebab yang bocor bukan hanya tanggul, tetapi cara berpikir.

JATAM mendesak negara menempuh jalan berani: mencabut izin-izin merusak, menghentikan ekspansi industri ekstraktif di wilayah hulu dan daerah rawan bencana, serta mengembalikan ruang kelola kepada masyarakat adat dan lokal—penjaga hutan yang paling setia.

Jika tidak, hulu akan terus dirobek. Dan di hilir, lumpur akan selalu lebih dulu tiba sebelum sirene berbunyi.ssc/rel

Penanganan Darurat Bencana Hidrometeorologi Humbang Hasundutan Berjalan Semakin Baik dan Terpadu

HUMBANG HASUNDUTAN - Penanganan darurat bencana hidrometeorologi yang mencakup banjir bandang dan tanah longsor Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, berjalan semakin baik hingga hari ini, Minggu (30/11). Segenap unsur forkopimda Humbang Hasundutan secara terpadu telah membentuk posko darurat di lapangan sepak bola Desa Panggugunan, sesuai arahan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M.

MewakilI BNPB, Direktur Fasilitasi Penanganan Korban dan Pengungsi (FPKP) BNPB, Nelwan Harahap, telah hadir memberikan pendampingan posko yang dipimpin oleh Bupati Humbang Hasundutan, Oloan Paniaran Nababan. Pendampingan dari BNPB ini mencakup pencarian dan pertolongan, pemenuhan kebutuhan dasar terdampak, dapur umum, pelayanan kesehatan, logistik peralatan, pendataan kaji cepat dan pengaduan masyarakat.

Dukungan logistik sudah tersedia di posko dan beberapa sembako telah didistribusikan kepada warga terdampak serta mereka yang berhak menerima. Adapun dukungan logistik dan peralatan BNPB pada tahap pertama meliputi 200 paket sembako, 200 paket makanan siap saji, 1 unit tenda pengungsi, 100 matras, 20 velbed, 100 selimut, 1 pompa alkon,  1 genset dan 1 perahu polytilen.

Foto: Personel Tagana Dinsos mengatur letak barang batuan warga terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Desa Panggugunan, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, Minggu (30/11). (Bidang Komunikasi Kebencanaan / Danung Arifin)

Direktur FPKP BNPB telah melaksanakan perintah Kepala BNPB untuk menjenguk beberapa warga terdampak yang mengungsi di rumah kerabat dekatnya. Selain berdiskusi, Nelwan juga menyerahkan dukungan sembako dan kebutuhan dasar lainnya.

Sebagai pemulihan jaringan komunikasi darurat, BNPB bersama Diskominfo Humbang Hasundutan juga telah menyebar alat jaringan satelit Starlink di tiga titik. Pertama ada di posko pengungsi Desa Sihombu, Kecamatan Tarabintang, berikurnya di Kantor Camat Pakkat dan alat milik BNPB ada di Pos Pengungsi Gereja HKBP Parbotihan, Onan Ganjang. Masyarakat di sekitar titik itu dipersilakan untuk mengakses internet secara gratis selama 24 jam.

Foto:Petugas Diskominfo mengatur letak alat jaringan satelit untuk mendukung komunikasi berbasis internet bagi warga terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Desa Panggugunan, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, Minggu (30/11). (Bidang Komunikasi Kebencanaan / Danung Arifin)

Dinas Perhubungan turut ambil bagian dalam penanganan darurat ini. Para petugas bekerja untuk memasang lampu penerangan jalan di sekitar posko, agar lalu lintas di malam hari lebih aman dan terjamin.

Foto: Petugas Dinas Perhubungan memasang lampu penerangan jalan di dekat posko penanganan darurat warga terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Desa Panggugunan, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, Minggu (30/11). (Bidang Komunikasi Kebencanaan / Danung Arifin)

Sementara itu, satuan Tagana dari Dinas Sosial mengatur distribusi permakanan yang disuplai dari dapur umum. Dari pos dapur umum ini, masyarakat mendapat kebutuhan konsumsi tiga kali sehari dengan makanan yang bergizi tinggi.

Foto: Personel Dinas Sosial menyiapkan makanan bagi warga terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Desa Panggugunan, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, Minggu (30/11). (Bidang Komunkasi Kebencanaan / Danung Arifin)

Korban Meninggal Dunia 6 Orang

Menurut data sementara per hari ini, Minggu (30/11), pukul 16.00 WIB, korban meninggal dunia ada sebanyak 6 jiwa, dalam pencarian 2 jiwa, luka-luka 9 dan sebanyak 2.200 warga mengungsi di posko serta rumah kerabat terdekat.

Sampai sore ini, tim gabungan terus fokus mencari dua warga yang masih dinyatakan hilang. Terkait pengungsian, BNPB juga telah menyediakan tenda keluarga berukuran 4x6 kapasitas 8 orang di pos induk penanganan darurat Desa Panggugunan.

Adapun wilayah terdampak meliputi 31 desa dari 6 kecamatan, desa terisolir ada 2 karena akses masih tertutup material dan jembatan penghubung amblas.

Sementara untuk kerusakan material meliputi 51 unit rumah rusak berat, hanyut 22 unit, rusak sedang 7 unit, rusak ringan 90 unit, rumah rencana relokasi 2 unit, lahan pertanian terdampak seluas kurang lebih 768 hektare.

Berikutnya untuk infrastruktur umum meliputi jembatan hilang 2 unit, amblas 1 unit, jalan terdampak longsor ada 132 titik, jalan amblas 126 titik, rumah ibadah 1 unit.

Jalur dari Pulo Godang-Pakkat sampai ke Barus mulai terbuka dan dapat dilalui kendaraan setelah sebelumnya tertutup material longsor berupa tanah berlumpur dan bebatuan dalam dimensi yang cukup besar. Empat alat berat telah dikerahkan untuk membuka jalur tersebut. Meski sudah dapat diakses, namun petugas tetap berjaga di lokasi untuk mengatur lalu lintas warga. Jika turun hujan, jalur kembali ditutup sementara dengan alasan keamanan dan keselamatan.

Dari pantauan visual di Desa Panggugunan, meterial longsor menutup jalur, lahan persawahan dan menghantam beberapa rumah termasuk satu rumah dua lantai yang kini tinggal bangunan lantai atasnya saja. Batu-batu sebesar truk berserakan di samping kanan-kiri jalan. Lumpur yang masih basah menjadi hal yang dapat terlihat sekaligus menjadi saksi bisu bencana yang dipicu oleh faktor cuaca.

Prioritas Penanganan Lanjutan

Selain proses pencarian dan pertolongan, prioritas penanganan darurat ini juga difokuskan pada perbaikan akses terputus, pemenuhan kebutuhan dasar dan permakanan. BNPB juga telah menyarankan kepada Badan Geologi untuk mengkaji wilayah yang masuk dalam kategori rawan bencana banjir bandang dan tanah longsor. Kajian ini diperlukan sebagai rekomendasi untuk rencana relokasi geologi, dengan target setelah masa tanggap darurat berakhir.

Dengan seluruh rangkaian upaya yang terus dilakukan hingga hari ini, penanganan darurat bencana hidrometeorologi di Humbang Hasundutan menunjukkan kemajuan yang semakin baik dan terpadu berkat sinergi antara BNPB, pemerintah daerah, BPBD, Dinsos, Dishub, TNI, Polri, relawan dan seluruh unsur masyarakat. Hal ini menjadi bukti bahwa kerja bersama adalah kunci dalam menghadapi situasi paling sulit sekalipun.

Abdul Muhari, Ph.D.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB

More Articles ...