logo2

ugm-logo

Dari Hutan yang Menipis Hingga Bencana Mematikan

erbulan-bulan setelah banjir menewaskan lebih dari ribuan jiwa di seluruh Sumatra, mereka masih berupaya keluar dari reruntuhan.

Meskipun warga yang bertahan bersemangat untuk membangun kembali, banyak di antara mereka yang hidup dalam ketakutan bencana berikutnya menanti di depan mata.

Salmawati masih ingat suara air itu.

Ia sedang tidur di rumahnya di Lokh Pungki, Sawang, Aceh, ketika ia terbangun menjelang fajar.

Di luar, sungai sudah penuh. Airnya hitam dan naiknya cepat.

Ia menarik kedua putranya dan berlari ke tempat yang lebih tinggi.

Dari lereng bukit, Salmawati menyaksikan rumahnya, yang telah ditempatinya selama 30 tahun, lenyap.

“Anak-anak bilang, ‘Bu, rumah kita hilang.’ Hatiku sangat hancur.”

Anomali Suhu Laut Picu Siklon, BMKG Sebut Bencana 2025 Jadi Peringatan Serius

RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Fenomena banjir besar yang terjadi pada tahun 2025 lalu di Aceh dipicu oleh anomali cuaca yang tidak biasa, termasuk meningkatnya suhu permukaan laut. Hal ini disampaikan oleh Attiya Shakila Giananti, Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Malikussaleh.

Ia menjelaskan, suhu laut di perairan Aceh saat itu mencapai lebih dari 29 hingga 30 derajat Celsius, yang menjadi “bahan bakar” terbentuknya awan badai dan siklon tropis.

Secara teori, siklon tropis jarang terjadi di wilayah ekuator seperti Aceh karena lemahnya gaya Coriolis. Namun, kondisi anomali membuat fenomena tersebut tetap bisa terjadi.

“Ini menjadi pengingat bahwa dinamika atmosfer sedang berubah dan bisa menjadi lebih destruktif dari yang selama ini kita kenal,” ujarnya.

Menurut Attiya, kejadian tersebut menjadi titik balik penting bagi BMKG untuk terus meningkatkan sistem pemantauan dan peringatan dini agar masyarakat lebih siap menghadapi potensi bencana.

sumber: rri.co.id

More Articles ...