logo2

ugm-logo

Gempa 7,6 guncang Sulawesi Utara dan Maluku Utara

Gempa bumi magnitudo 7,6 yang berpusat di perairan Bitung, Sulawesi Utara dan Maluku Utara, pukul 06.48 Wita (atau 05.48 WIB), Kamis (02/04), guncangannya dirasakan warga di Bitung dan Manado (Sulut) hingga Ternate (Maluku Utara).

Sejauh ini gempa menyebabkan satu orang meninggal dunia dan seorang lainnya terluka di Manado akibat tertimpa reruntuhan bangunan, kata Tim SAR.

"Jalanan aspal sampai bergoyang, kencang banget," kata Isvara Safitri, warga Kelurahan Teling Atas, Manado, kepada BBC News Indonesia melalui sambungan telepon, Kamis (02/04).

"Kepala saya sampai pusing," tambahnya. Berbagai perabot di kamarnya, termasuk lemari, sempat bergoyang beberapa detik.

Dia juga mendengar apa yang disebutnya seperti "bunyi gemuruh". Namun dia tidak dapat memastikan sumber suaranya.

sumber: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c93elrd3167o

Gerry van Klinken Bicara soal Bencana Sumatera, Kapitalisme sampai Ekososialisme

Gerry van Klinken,  menyalami satu per satu peserta diskusi buku Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia, yang Maja Book Party adakan di Lebak, Banten, Desember lalu. Antropolog University of Amsterdam Belanda itu, November-Desember lalu ke Indonesia, bertepatan bencana besar, banjir dan longsor melanda Sumatera.

Dia keliling berbagai kota dari Malang, Yogyakarta, Jakarta, Garut, Bogor, Surabaya, Solo, Semarang, Jember, Salatiga, hingga Banten.

Klinken menyuarakan gagasan ekologis, lewat bukunya, Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia. Lulusan doktor Griffith University Australia ini, menggarap buku itu bersama 17 penulis Indonesia.

Dia memulai karier di bidang geofisika dan tambang. Pada 1984, dia mengajar fisika di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, selama tujuh musim.

Pria kelahiran 1952 itu mengubah haluan kariernya, fokus pada bidang humaniora antara lain terpengaruh aktivisme mahasiswanya, Andreas Harsono dan Yosep Adi Prasetyo, yang ketika itu berjuang berupaya meruntuhkan Orba.

Ketika pensiun, Klinken menjadi “mualaf lingkungan,” istilah yang dia sematkan untuk menggambarkan perjalanan intelektualnya. Dia belajar ilmu lingkungan dan dedikasikan waktu untuk memikirkan nasib bumi di tengah krisis iklim.

Lewat buku terbarunya, Klinken merefleksikan diri bahwa dunia dalam kondisi krisis, namun manusia bingung harus berbuat apa. Dia bilang, dunia modern saat ini kekurangan imajinasi untuk menghadapi krisis iklim.

“Imajinasi kita menjadi dikerdilkan oleh kapitalisme,” katanya.

Dalam bukunya, pria yang menghabiskan masa kecil di Doom, sebuah pulau kecil di Sorong, Papua Barat itu, tidak membicarakan persoalan praktis dan kebijakan lingkungan. Dia fokus pada pemikiran radikal agar tidak memperburuk krisis ekologis saat ini.

Jurnalis Mongabay, Achmad Rizki Muazam, berbincang-bincang dengan Klinken usai diskusi bukunya di Maja, Lebak, Banten.

Obrolan seputar ihwal bencana Sumatera yang hingga kini belum tertangani, dampak ekonomi kapitalis terhadap kerusakan lingkungan, transisi energi yang tidak berkeadilan, hingga imajinasi Klinken untuk menghadapi krisis iklim. Berikut petikan wawancaranya.

selengkapnya: https://mongabay.co.id/2026/03/31/gerry-van-klinken-bicara-soal-bencana-sumatera-kapitalisme-sampai-ekososialisme/

More Articles ...