logo2

ugm-logo

BNPB Selesaikan Pembangunan Talud Darurat Desa Ketitang Wetan, Kabupaten Pati

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyelesaikan pembangunan tanggul darurat di Desa Ketitang Wetan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Pembangunan talud darurat ini merupakan respon cepat Pemerintah atas laporan peristiwa banjir yang melanda Desa Ketitang Wetan pada penghujung bulan Oktober lalu. 

Sebelumnya, hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Kabupaten Pati pada hari Minggu (26/10) mengakibatkan tanggul Kali Widodaren dan Kali Gandam jebol hingga meluap ke permukiman warga. Sebanyak 576 unit rumah teremdam banjir. Lebih dari 1.850 jiwa terdampak.

Dua hari pascabanjir, tepatnya pada hari Selasa (28/10), Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto atas arahan Presiden Prabowo Subianto, memerintahkan Direktorat Dukungan Sumber Daya Darurat (DSDD) Agus Riyanto bersama untuk hadir mendukung dan membersamai warga Desa Ketitang Wetan.

Pada pertemuan bersama warga terdampak banjir, BNPB mencatat dua aspirasi warga yaitu memiliki tanggul permanen sebagai benteng pelindung kehidupan di rumah sendiri, kedua normalisasi Kaligedong. 

Kepada mereka, Agus mengatakan bahwa, BNPB bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemkab Pati berkomitmen akan mengupayakan seluruh rangkaian upaya penanganan mulai dari jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Tak menunggu lama, BNPB segera melaksanakan pengerjaan talud darurat sebagai awal penanganan jangka pendek. Pekerjaan ini berjalan pararel dengan perbaikan dan penguatan tanggul secara bertahap telah dilakukan oleh pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serang, Lusi dan Juana. 

Pekerjaan perbaikan talud dilaksanakan dalam waktu dua minggu yaitu mulai tanggal 30 Oktober 2025 dan selesai pada 14 November 2025.

Terdapat tiga titik talud yang dikerjakan oleh BNPB. Lokasi perbaikan talud terletak di sepanjang Sungai Widodaren, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati. Titik talud pertama yang dikerjakan sepanjang 35 meter. Lokasi talud ini merupakan titik rawan karena berbatasan langsung dengan permukiman warga.

Pada dua titik lainnya, panjang perbaikan masing-masing talud adalah 250 meter. 

Pembangunan talud darurat dilakukan dengan menggunakan cerucuk bambu dan kantong pasir. Tak kurang dari 2.196 batang bambu terbaik dengan panjang empat meter digunakan sebagai benteng penahan talud. Kemudian agar talud lebih aman dari resapan air, 205 lembar anyaman bambu digunakan sebagai lapisan. Talud darurat ini turut diperkuat dengan 1.250 kantong pasir untuk menahan debit air sungai. 

Meskipun disebut sebagai talud darurat, namun talud ini memiliki daya tahan hingga dua tahun. Talud darurat ini diharapkan mampu mengurangi risiko bencana banjir yang berpotensi terjadi pada puncak musim hujan yang diprediksi akan berlangsung pada beberapa bulan kedepan. 

Perbaikan talud darurat ini tentu bukan merupakan upaya akhir BNPB dalam penanganan banjir di Kabupaten Pati, khususnya di wilayah Desa Ketitang Wetan. Upaya jangka pendek ini turut disertai pula dengan rencana-rencana jangka menengah hingga jangka panjang.

Sebagai solusi jangka menengah, BNPB akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mitigasi struktural maupun non struktural. Dukungan struktural ini meliputi penguatan tanggul secara permanen hingga normalisasi sungai.

Seiring dengan adanya talud darurat yang dibangun dengan menggunakan Dana Siap Pakai (DSP) ini, BNPB berharap pemerintah daerah setempat mulai merencanakan  pembangunan talud dan tanggul yang lebih permanen demi keamanan dan keselamatan masyarakat Desa Ketitang Wetan. 

Sementara itu, bentuk dukungan non struktural akan dilakukan melalui penguatan kapasitas masyarakat melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana).

Selanjutnya untuk jangka panjang, mitigasi berbasis ekologi akan menjadi bagian penting yang tak terpisahkan. Wajah wilayah hulu sungai Widodaren yang berada di lereng Pegunungan Kapur Utara telah banyak berubah dalam beberapa dekade terakhir.

Melalui dukungan lintas sektor, BNPB berharap seluruh upaya yang dilakukan dapat memulihkan kondisi warga Desa Ketitang Wetan secara menyeluruh. Penanganan tanggul, normalisasi sungai, hingga pemulihan lingkungan hulu akan menjadi bagian dari langkah berkelanjutan untuk mengurangi risiko bencana di wilayah tersebut.

Longsor Banjarnegara: Hari Ini Operasi SAR Terakhir, Lokasi Pencarian Difokuskan di Sektor C

BANJARNEGARA - Operasi pencarian dan pertolongan (Search and Rescue-SAR) terhadap 16 warga yang masih hilang akibat longsor di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, memasuki hari terakhir pada Selasa (25/11). Ratusan personel gabungan bersama 25 unit alat berat dikerahkan untuk menyisir sektor C, area paling bawah atau “lidah longsoran” yang diyakini menjadi lokasi terakhir keberadaan para korban.

Sebelumnya, pencarian di sektor A dan B telah dilakukan secara menyeluruh dan telah ditemukan beberapa korban dalam kondisi tidak bernyawa. Kini, harapan tertuju pada sektor C, yang menjadi penentu dari rangkaian panjang upaya pencarian dan penyelamatan selama sepuluh hari.

Namun medan di lokasi bukanlah tantangan yang ringan. Tanah yang masih labil dan berlumpur, ketebalan material longsor lebih dari 10 meter, ditambah kandungan air yang tinggi, terus menguji stamina dan ketekunan para personel di lapangan.

Upaya pengurangan air dilakukan melalui pembuatan sodetan, sementara operasi modifikasi cuaca (OMC) membantu menghalau awan demi mencegah turunnya hujan agar proses pencarian dapat berlangsung lebih aman dan efektif. Semua langkah ini menjadi bagian penting dari babak akhir operasi SAR hari ini.

Di luar area pencarian, suasana haru menyelimuti posko utama penanganan darurat di Kantor Kecamatan Pandanarum, pada Senin (24/11) malam. Di tempat inilah keluarga korban dikumpulkan dalam sebuah pertemuan yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Banjarnegara bersama BNPB, Basarnas, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan unsur terkait lainnya. Pertemuan dilakukan secara kekeluargaan, untuk berdoa, memberi dukungan moral, dan mempersiapkan hati menghadapi keputusan akhir operasi SAR.

Harapan tetap menggantung, setipis apa pun itu. Keluarga menantikan kabar baik dari kerja tak kenal lelah para personel di lapangan. Namun mereka juga telah menyatakan keikhlasan apabila upaya terakhir ini tidak menemukan hasil seperti yang diharapkan.

Dengan segala doa dan harapan, hari ini menjadi penentu, apakah ada titik terang dari balik ladang lumpur yang basah, atau justru penutup dari sebuah ikhtiar kemanusiaan yang telah dilakukan dengan sepenuh tenaga dan hati.

Seluruh proses telah dijalankan dengan kesungguhan, profesionalisme, dan dedikasi tinggi dari semua pihak. Setiap langkah yang diambil di lapangan adalah wujud komitmen untuk menghormati para korban dan memberikan kepastian bagi keluarga yang menanti.

More Articles ...